Pemkot Surabaya Ungkap Sampah Jadi Kendala Utama Penanganan Banjir

Pemkot Surabaya Ungkap Sampah Jadi Kendala Utama Penanganan Banjir

Esti Widiyana - detikJatim
Jumat, 09 Jan 2026 09:10 WIB
Normalisasi sungai di Surabaya
Normalisasi sungai di Surabaya (Foto: Dok. Istimewa)
Surabaya -

Permasalahan banjir di Kota Surabaya masih mejadi pekerjaan rumah. Ini karena ratusan titik banjir masih belum dituntaskan Pemerintah Kota (Pemkot).

Kepala Dinas Sumber Daya Air dan Bina Marga (DSDABM) Surabaya Hidayat Syah menyebut, saat ini terdapat 140 titik banjir di Kota Pahlawan yang tengah diatasi. Pada tahun 2021, Surabaya memiliki 350 titik banjir.

"Sudah iya, yang dari 200 itu sudah selesai, tinggal sekarang 140, kita akan menyelesaikannya," kata Hidayat saat ditemui detikJatim di Rumah Pompa Simo, Jumat (9/1/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Saat ini, pihaknya fokus pada saluran dan bakal menuntaskan 140 titik sampai 2027. Sebab, banyak sampah yang diambil, bahkan kasur hingga kursi menjadi salah satu faktor banjir.

"Ya, sampai tahun depan (selesaikan 140 titik banjir). Tapi kan kita yang penting mainnya (saluran) dulu. Namanya orang itu ambil dulu saluran besarnya. Kita tetap bersihkan yang saluran kecil-kecil karena pembuangannya tetap di sini," ujarnya.

ADVERTISEMENT

Hidayat mengatakan, menyelesaikan persoalan banjir harus melihat penyebab dan titiknya. Selanjutnya baru mencari solusi, baik untuk jangka pendek, jangka menengah, dan jangka panjang.

"Jangka pendeknya, kita bersihkan saluran. Sampahnya sebegitu (banyaknya sampai belasan dump truck), terus ada kasur juga. Kita sudah turunkan tim ini hari ini ada tiga (di Rumah Pompa Simo) mulai hari Senin kemarin. Hari ini sudah pembersihan semua dibikin alur, supaya (air) bisa ngalir ke sini (rumah pompa)," jelasnya.

Sedangkan jangka mencengahnya, DSDABM akan mengganti rumah pompa manual dengan elektrik seperti di Simo. Dengan mengganti pintu pompa menjadi elektrik akan mempermudah kerja petugas ketika hujan lebat segera membuka pintu air.

"Jangka panjangnya, (air) larinya ke Greges, kan sudah kita bikin saluran, terus nanti kita tinggikan parapetnya supaya nanti daya tampungnya lebih tinggi, sampai Greges. Nanti di Greges kita kasih pintu air, pompa kita tambah," urainya.

Pihaknya juga menambah bozem untuk menampung air hujan. Di antaranya ada di Surabaya Selatan, Utara, hingga Krembangan.

Selain itu, tahun ini pemkot juga mengerjakan diversi Gunungsari-Babat Jerawat sebagai salah satu mengatasi banjir, termasuk di kawasan Simo. DSDABM akan mengebut proyek diversi tuntas tahun ini juga.

"Iya (diversi Gunungsari-Babat Jerawat), mulai dari Mayjend Sungkono, Arjuno, Diponegoro. Dikerjakan awal tahun, selesai tahun ini. Pak Wali kan enggak mau lama-lama untuk penanganan banjir," tegasnya.

Kawasan Simo Jadi Salah Satu Fokus Penanganan Banjir

Kawasan Simo Kalangan, Simo Hilir, Simo Rejo setiap tahun sejak 2014 menjadi langganan banjir ketika hujan lebat mengguyur. Tahun 2026 ini menjadi salah satu fokus pemkot untuk menuntaskan persoalan banjir.

Hidayat memastikan, DSDABM maupun DLH rutin membersihkan saluran. Baik di gorong-gorong maupun rumah pompa, apalagi saar hujan mengguyur.

Ia menegaskan, bila ketika hujan lebat turun tak ada petugas yang maauk gorong-gorong pinggir jalan mengambil sampah atau sumbatan, artinya petugas sedang menangani limbah di rumah pompa.

"Sekarang petugas dibagi dua. Nanti dia di tempat sampah, nyaring sampah di rumah pompa, keliling. Kita cari cari yang yang besar-besar dulu. Kemarin yang pas sebelum hujan kan sudah dibersihkan dengan teman-teman. Lah nanti tetap disusuri pas musim hujan," jelasnya.

Tak hanya warga yang "sambat" soal banjir kepada pemkot. Pemkot pun sambat soal sampah, khsusunya sampah besar yang dibuang ke saluran. Sampah besar yang dibuang ke sungai tanpa disadari dapat menyumbat saluran. Ketika saluran sudah tersumbat, maka banjir melanda.

"Ya terutama alasan klise, ya sampah. Sampah besar khususnya (jadi kendala atasi banjir)," ujarnya.

Pemkot Surabaya telah menyiapkan ruang khusus di Tempat Pembuangan Sementara (TPS) untuk menampung sampah berukuran besar (bulky waste) seperti kasur, sofa, kursi, dan lemari. Agar warga tidak lagi membuang sampah besar sembarangan yang dapat menyebabkan penyumbatan saluran hingga kerusakan rumah pompa.

TPS yang menyediakan fasilitas bulky waste telah tersebar di 31 kecamatan Surabaya. Yakni di Surabaya Timur tersedia di TPS Bratang, TPS Mojoarum, TPS Wisma Permai, dan TPS Tenggilis Utara. Di Surabaya Barat, fasilitas tersedia di TPS Karangpoh, TPS Balongsari, dan TPS Kendung Makam.

Kemudian di Surabaya Pusat ada di TPS Kedunganyar, TPS Peneleh, dan TPS Bukit Barisan. Di Surabaya Selatan, tersedia di TPS Bintang Diponggo, TPS Bratang Lapangan, dan TPS Gayungsari YKP. Sementara di Surabaya Utara, fasilitas tersedia di TPS Tanah Kali Kedinding, TPS Memet, dan TPS Benteng.

Pembuangan jenis sampah tersebut bisa dikenai sanksi tindak pidana ringan (tipiring) sesuai Peraturan Daerah (Perda) Nomor 5 Tahun 2014 tentang Pengelolaan Sampah dan Kebersihan. Sanksi tipiring dapat dikenai denda sesuai Perda, mulai Rp75 ribu sampai Rp50 juta, atau hukuman kurungan maksimal 6 bulan.

Mengatasi persoalan banjir, Pemkot Surabaya meminta kerja sama masyarakat. Di mana peran penting, khususnya sampah paling besar di warga.

"Kita harus kerja sama dengan masyarakat. Ya, kembali lagi. Kan selalu dari zaman dulu sampai sekarang itu kita selalu tahu, faktanya sudah kelihatan. Banyak bisa lihat sendiri. Jadi, ojo lah buang sampah sembarangan. Karena apa? Teman-teman itu ya berat kerjanya. Karena sampah itu selalu mengambat sedimentasi, belum ada kasur yang barusan kita selesaikan," pungkasnya.



(auh/abq)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads