Apa Itu Super Flu? Ini Penjelasan Subclade K, Gejala dan Pencegahannya

Apa Itu Super Flu? Ini Penjelasan Subclade K, Gejala dan Pencegahannya

Jihan Navira - detikJatim
Selasa, 06 Jan 2026 03:00 WIB
Apa Itu Super Flu? Ini Penjelasan Subclade K, Gejala dan Pencegahannya
Ilustrasi flu. Foto: Getty Images/interstid
Surabaya -

Istilah super flu belakangan ramai diperbincangkan setelah virus ini terdeteksi di sejumlah negara, termasuk Indonesia. Super flu bukan istilah medis resmi, melainkan sebutan populer untuk subvarian virus influenza A (H3N2) yang dikenal sebagai Subclade K.

Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menyebut virus ini telah ditemukan di Indonesia sejak 25 Desember 2025, dengan puluhan kasus tersebar di beberapa provinsi. Meski disebut memiliki tingkat penularan lebih cepat, Kemenkes menegaskan keberadaannya tidak mempengaruhi kondisi epidemi influenza nasional.

Apa Itu Super Flu?

Mengutip Gavi The Vaccine Alliance, Direktur Pusat Influenza Dunia Prof Nicola Lewis menegaskan bahwa istilah super flu tidak bersifat ilmiah dan tidak ada bukti bahwa Subclade K lebih berbahaya dibanding virus influenza A (H3N2) lain yang saat ini beredar.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Munculnya istilah super flu dipicu anggapan Subclade K merupakan penyakit baru. Padahal, virus ini termasuk dalam kelompok influenza musiman. Perbedaannya terletak pada tingkat penularan yang lebih cepat, di mana satu orang yang terinfeksi dapat menularkan virus kepada dua hingga tiga orang di sekitarnya.

Meski demikian, cara penularan Subclade K tetap sama seperti influenza pada umumnya, yakni melalui droplet saat batuk, bersin, atau berbicara, serta kontak dengan permukaan benda yang terkontaminasi virus.

ADVERTISEMENT

Awal Mula Munculnya Super Flu

Mengutip jurnal internasional Euro Surveillance berjudul Extended Influenza Seasons in Australia and New Zealand in 2025 Due to the Emergence of Influenza A (H3N2) Subclade K Viruses, Subclade K merupakan varian baru influenza A (H3N2) yang muncul pada pertengahan 2025.

Virus ini disebut menyebabkan perpanjangan musim flu di Australia dan Selandia Baru. Euro Surveillance mencatat, Subclade K diduga berasal atau diimpor dari Amerika Serikat, tepatnya di New York pada 23 Juni 2025.

Deteksi pertama virus ini terjadi di Sydney dan Melbourne pada 17 Agustus 2025, lalu menyebar dengan cepat ke seluruh Australia. Sementara di Selandia Baru, kasus pertama terdeteksi di Auckland pada 27 Agustus 2025.

Saat ini, Subclade K telah teridentifikasi di setidaknya 34 negara di berbagai wilayah dunia, termasuk Eropa Barat, Asia, Afrika, Timur Tengah, dan Amerika Utara. Di Indonesia, Kemenkes mencatat hingga akhir Desember 2025, terdapat 62 kasus yang tersebar di delapan provinsi, termasuk Jawa Timur.

Waspadai Gejala Subclade K

Dilansir detikHealth, dokter spesialis paru dari RS Paru Persahabatan Prof dr Agus Dwi Susanto, SpP(K) menyebut gejala yang muncul akibat infeksi subclade K dinilai lebih parah daripada flu biasa atau COVID-19 yang memiliki gejala ringan sampai sedang. Gejala lebih parah yang dimaksud sebagai berikut.

  • Demam tinggi 39-41 derajat celcius
  • Nyeri otot berat
  • Kelelahan atau lemas ekstrem
  • Batuk kering
  • Sakit kepala
  • Tenggorokan terasa berat

Cara Cegah Super Flu

Karena super flu Subclade K memiliki tingkat penularan yang lebih cepat dibanding flu musiman, masyarakat diimbau untuk meningkatkan kewaspadaan. Prof Agus menekankan pentingnya langkah pencegahan guna menekan risiko penularan virus ini. Berikut cara mencegah super flu.

  • Vaksinasi influenza
  • Menjaga stamina tubuh dengan makan minum cukup dan bergizi, istirahat cukup, olahraga
  • Jaga kebersihan lingkungan
  • Cuci tangan teratur
  • Pakai masker bila kontak dengan penderita atau di keramaian
  • Bila sakit flu, jangan batuk dan bersin sembarangan
  • Tutup mulut dan hidung saat batuk atau bersin menggunakan siku



(hil/irb)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads