Di Balik Viral Patung Macan Putih Kediri, Ada Jejak Kepercayaan Jawa

Di Balik Viral Patung Macan Putih Kediri, Ada Jejak Kepercayaan Jawa

Jihan Navira - detikJatim
Rabu, 07 Jan 2026 01:00 WIB
Di Balik Viral Patung Macan Putih Kediri, Ada Jejak Kepercayaan Jawa
Patung macan putih di Desa Balungjeruk, Kecamatan Kunjang, Kabupaten Kediri/Foto: Andhika Dwi/detikJatim
Kediri -

Patung macan putih di Kabupaten Kediri mendadak jadi bahan guyonan warganet. Bentuknya yang dinilai aneh dan lucu bahkan disebut jauh dari kata gagah, membuat patung tersebut viral di media sosial.

Namun di balik riuh komentar soal estetika, sosok macan putih bukanlah figur asing dalam kebudayaan Jawa. Macan putih dikenal sebagai simbol penjaga, kekuatan gaib, sekaligus perantara antara manusia dan dunia leluhur, yang maknanya masih lestari dalam berbagai praktik tradisi masyarakat.

Makna tersebut juga tercermin pada patung Macan Putih garapan Suwari, seniman asal Kediri. Sebelum menggarapnya, Suwari mengaku pernah bermimpi memerankan ludruk dengan lakon siluman Macan Putih. Ia kemudian diminta membuat patung Macan Putih sesuai legenda Desa Balongjeruk sebagai simbol kekuatan dan penjaga desa secara spiritual.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Namun, rupanya tak hanya Desa Balongjeruk saja yang mempercayai sosok ghaib tersebut. Misalnya di Desa Klepek, Kediri, jejak kepercayaan terhadap sosok macan putih dapat ditelusuri melalui pemanfaatan ruang punden dalam tradisi Nyadranan.

ADVERTISEMENT

Punden tidak sekadar menjadi lokasi ritual, melainkan ruang sakral tempat simbol-simbol kepercayaan Jawa, termasuk figur macan putih yang hadir dalam bentuk nilai, tata ruang, dan laku budaya yang diwariskan turun-temurun.

Dari sini, viralnya patung macan putih justru membuka kembali ingatan kolektif tentang bagaimana simbol tersebut dimaknai masyarakat Jawa, khususnya dalam tradisi Nyadranan di Desa Klepek, Kabupaten Kediri.

Patung macan putih di Desa Balungjeruk, Kecamatan Kunjang, Kabupaten KediriPatung macan putih di Desa Balungjeruk, Kecamatan Kunjang, Kabupaten Kediri Foto: Andhika Dwi/detikJatim

Mengenal Masyarakat dan Punden di Desa Klepek

Masyarakat Desa Klepek, Kecamatan Kunjang, Kediri hingga saat ini masih rutin menjalankan tradisi turun-temurun pada waktu-waktu tertentu.

Tradisi tersebut meliputi upacara Nyadranan yang dilaksanakan pada Jumat Pahing bulan Suro, tradisi barikan setelah panen padi dan pada musim rendeng atau penghujan, serta rangkaian tradisi yang dilakukan menjelang hajatan pernikahan dan khitanan.

Melansir jurnal berjudul Pemanfaatan Ruang Punden pada Tradisi Nyadranan Desa Klepek Kabupaten Kediri, seluruh tradisi dan upacara yang dijalankan masyarakat Desa Klepek tidak terlepas dari keberadaan punden atau makam leluhur.

Sebagai tempat yang disakralkan, punden di Desa Klepek memiliki sejarah dan arti penting bagi masyarakat. Punden atau makam leluhur tersebut rupanya milik Mbah Komari Hirojoyo, sosok yang dihargai dan dihormati masyarakat setempat.

Menurut cerita turun temurun, Mbah Komari Hirojoyo merupakan keturunan Kerajaan Mataram yang tiba di Desa Klepek ketika wilayah tersebut masih berupa kawasan hutan dan dipercaya dihuni makhluk halus. Kedatangannya diyakini berhasil mengalahkan kekuatan gaib tersebut, sebelum akhirnya membangun Desa Klepek.

Dari situ lah punden menjadi tempat sakral sekaligus menjadi wadah dari kegiatan tradisi yang bertujuan untuk mengungkapkan rasa syukur kepada Tuhan melalui Mbah Komari Hirojoyo sebagai perantaranya.

Hubungan Mbah Komari Hirojoyo dan Macan Putih

Menurut kepercayaan masyarakat setempat, Mbah Komari Hirojoyo memiliki ingon-ingon atau peliharaan ghaib berupa seekor macan putih. Ingon-ingon Mbah Komari Hirojoyo ini muncul setiap malam Jumat menjelang acara utama tradisi Nyadranan.

Macan putih ini diyakini muncul untuk melindungi masyarakat desa dari marabahaya yang tidak diinginkan. Namun, tidak semua masyarakat dapat melihat wujud dari sosok macan putih ini. Biasanya, yang diberikan penglihatan hanya kepala desa atau juru kunci yang bertanggung jawab untuk menjaga kentongan atau tempat berhentinya macan putih setelah mengelilingi desa.

Berdasarkan hal tersebut, masyarakat tidak hanya menghormati Mbah Komari Hirojoyo sebagai pendiri Desa Klepek, tetapi juga mempercayai keberadaan dari sosok macan putih hingga saat ini.




(ihc/hil)


Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads