Patung macan putih di Desa Balongjeruk, Kecamatan Kunjang, Kabupaten Kediri yang viral karena bentuknya mirip kuda nil ternyata ditawar warga asal Bali, namun tawaran itu ditolak oleh pembuatnya.
"Sempat ada yang menawar sampai Rp 180 juta, katanya orang Bali, tapi saya tolak," kata Suwari, pembuat patung macan putih, Selasa (6/1/2026).
Meski demikian Suwari tak membeberkan alasan penolakan tawaran tersebut. Suwari sendiri selama ini memang dikenal sebagai pematung berbagai bentuk hewan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia pun tak menyangka patungnya yang disebut-sebut mirip kuda nil itu bakal menjadi fenomena dan membawa berkah warga setempat. Sebab sejak viral, Desa Balongjeruk kini jadi ramai wisatawan dadakan.
Karena hal ini, geliat ekonomi di desa setempat pun bergeliat. Kawasan di sekitar patung kini dipenuhi pedagang dari berbagai daerah. Pengunjung tak hanya dari desa setempat tapi juga dari luar daerah.
Kepala Desa Balongjeruk, Safi'i, mengaku bersyukur dengan penolakan tawaran itu, sebab dampak positif yang ditimbulkan dari keberadaan patung tersebut mampu membangkitkan roda ekonomi warganya.
Ia menambahkan, pemerintah desa akan terus berupaya menata kawasan tersebut agar tetap nyaman, tertib, dan mampu menjadi ikon desa yang berdampak ekonomi bagi masyarakat Balungjeruk.
"Harapan ke depan, patung macan putih ini terus bisa memberikan manfaat bagi masyarakat, terutama untuk peningkatan kesejahteraan warga dan pelaku UMKM," ujar Safi'i.
Alhasil, banyak kemudian pedagang makanan dan minuman bahkan cinderamata patung putih tersebut. Patung yang awalnya jadi bahan ejekan itu ternyata membawa berkah bagi warga setempat.
"Sekarang jumlahnya terus bertambah setiap hari. Saat ini bisa lebih dari 100 pedagang yang berjualan di sekitar lokasi," ujar Kepala Desa Balongjeruk, Safi'i.
Senada, warga juga mendukung penolakan menjual patung macan putih. Wahyu, salah satu warga Desa Balongjeruk mengatakan penolakan tersebut merupakan keputusan yang tepat. Sebab, keberadaan patung macan putih mampu menjadi motor penggerak ekonomi masyarakat sekitar.
"Ini wisata buatan warga. Harapannya bisa benar-benar menjadi pembangkit ekonomi, khususnya UMKM warga sekitar," kata Wahyu.
Pernyataan Wahyu bukan tanpa alasan, sebab sejak ada patung macan putih tersebut, pengunjung baik dari desa setempat maupun luar daerah terus mengalir.
Kedatangan mereka sepele, hanya ingin melihat patung yang sempat viral karena bentuknya lebih mirip kuda zebra atau kuda nil. Potennsi ini lah yang kemudian dibaca sebagai peluang ekonomi.
(auh/abq)











































