Makna Napak Tilas Isyaroh Pendirian NU: Bukan Sekadar Perjalanan Fisik

Makna Napak Tilas Isyaroh Pendirian NU: Bukan Sekadar Perjalanan Fisik

Esti Widiyana - detikJatim
Senin, 05 Jan 2026 15:03 WIB
Makna Napak Tilas Isyaroh Pendirian NU: Bukan Sekadar Perjalanan Fisik
Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa bersama kader muslimat saat Napak Tilas Isyaroh Pendirian NU. (Foto: Esti Widiyana/detikJatim)
Surabaya -

Ribuan Nahdliyin napak tilas dari Bangkalan ke Jombang, Minggu (5/1). Kegiatan menyambut 1 Abad NU versi Masehi (1926–2026) ini disebut bukan hanya sekadar perjalanan fisik.

Napak Tilas Isyaroh Pendirian NU 2026 jadi perjalanan spiritual dan historis jejak perjuangan muassis NU dari Ponpes Syaichona Mohammad Cholil Bangkalan hingga Tebuireng, Jombang.

Sekretaris Pesantren Sukorejo Situbondo Achmad Fadhail mengatakan, perjalanan awal napak tilas dilakukan Minggu pagi pukul 06.30 WIB di Ponpes Syaichona Mohammad Cholil Bangkalan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Selanjutnya, KHR Ach Azaim Ibrahimy bersama ribuan nahdliyin berangkat napak tilas ke Sunan Ampel.

"Kemudian ke kantor PCNU Surabaya. Setelah itu kita bergerak ke (Stasiun) Gubeng naik kereta ke Jombang. Di Jombang kita akan jalan kaki lagi ke Pesantren Tebuireng, tiba di Tebuireng jam 21.00 WIB," kata Fadhail.

ADVERTISEMENT

Dia mengatakan, ada 1.200 peserta aktif yang mengikuti napak tilas tersebut. Ada simpatisan yang hanya ikut di awal atau akhir sekitar 2.500 orang. Peserta dan simpatisan tidak hanya dari Jawa Timur tetapi juga dari Jabar, Lombok, hingga Kalimantan.

Menurutnya, kegiatan ini bukan hanya napak tilas perjuangan para muassis tetapi jug merefleksikan apa yang menjadi amanah dari Syekh Maulana Kholil kepada KH As'ad dijalankan dengan sepenuh hati dan ketulusan.

"Sampailah kepada Kh Hasyim Asy'ari Jombang. Mudah-mudahan dengan kita merefleksikan ini semua, kita akan menjadi Nahdliyin yang bisa meneladani beliau-beliau semuanya," ujarnya.

Ketua PCNU Surabaya Masduki Toha mengatakan napak tilas Isyaroh pendirian NU memiliki makna strategis bagi keberlanjutan perjuangan jam'iyyah.

"Napak tilas ini bukan sekadar perjalanan fisik, tetapi perjalanan ruhani dan ideologis. Dari Bangkalan, Surabaya, hingga Tebuireng, kita diajak untuk memahami bahwa NU lahir dari adab, restu ulama, dan pengorbanan besar," ujarnya.

Persinggahan di Kantor PCNU Surabaya yang juga merupakan kantor lama PBNU tersebut, kata Masduki, menjadi pengingat penting bagi warga NU lintas generasi.

Baginya, tempat ini adalah saksi sejarah bagaimana NU dibangun dari kesederhanaan, keikhlasan, dan kerja-kerja organisatoris yang penuh pengabdian.

"Generasi NU hari ini wajib melanjutkan khidmah tersebut dengan tetap berpegang teguh pada nilai Ahlussunnah wal Jama'ah serta komitmen kebangsaan," pungkasnya.

Rangkaian Napak Tilas ini diawali pelepasan dan penyerahan tongkat dan tasbih di Pondok Pesantren Syaichona Mohammad Cholil Bangkalan oleh KH Fachruddin kepada KHR. Ach. Azaim Ibrahimy sebagai simbol isyaroh restu pendirian NU.

Rombongan kemudian melaksanakan perjalanan jalan kaki menuju Pelabuhan Kamal, menyeberang ke Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya, serta melaksanakan ziarah dan tahlil di Kompleks Makam Sunan Ampel.

Memasuki Surabaya, peserta singgah di Kantor PCNU Surabaya yang dikenal sebagai kantor pertama PBNU. Persinggahan ini menjadi titik penting refleksi sejarah, karena dari tempat inilah di masa lalu berbagai keputusan strategis dan gerak dakwah NU dirumuskan.

KHR Ach Azaim Ibrahimy (baju putih berkalung tasbih), Sekretaris Pesantren Sukorejo, Situbondo, Achmad Fadhail (baju hijau), Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa bersama kader muslimat.KHR Ach Azaim Ibrahimy (baju putih berkalung tasbih) saat Napak Tilas Pendirian NU. Foto: Esti Widiyana/detikJatim)

Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa turut hadir dan memberikan apresiasi atas pelaksanaan Napak Tilas Isyaroh Pendirian NU.

Khofifah sebagai pimpinan Pemprov Jatim mendukung upaya pelestarian sejarah, nilai keulamaan, dan peran NU dalam menjaga harmoni sosial serta keutuhan bangsa.

Setelah dari Surabaya, rombongan melanjutkan perjalanan menuju Stasiun Gubeng untuk bertolak ke Jombang menggunakan kereta api.

Setibanya di Jombang, peserta melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki menuju Pondok Pesantren Tebuireng.

Puncak kegiatan Napak Tilas Isyaroh Pendirian NU 2026 berlangsung di Asta Hadratussyaikh KH Hasyim Asy'ari Tebuireng ditandai seremonial penyambutan dan penyerahan tongkat serta tasbih dari KHR Ach Azaim Ibrahimy kepada KH Fahmy Amrullah yang ditutup dengan tahlil dan doa bersama.




(auh/hil)


Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads