Napak Tilas petunjuk Pendirian Nahdlatul Ulama (NU) telah sampai di Jombang. Dari Kota Santri ini, Ribuan Jemaah Nadliyin melanjutkan berjalan kaki sejauh 6 km menuju Pondok Pesantren Tebuireng untuk menyerahkan tongkat dan tasbih sebagai simbol restu berdirinya NU.
Perjalanan Napak Tilas Isyarat Pendirian NU di Kota Santri ini dimulai dari Pendopo Kabupaten Jombang sekitar pukul 20.00 WIB. Ribuan Jemaah Nadliyin menempuh jarak 6 Km dengan berjalan kaki menuju Ponpes Tebuireng di Desa Cukir, Diwek.
Sesampainya di lokasi sekitar pukul 21.30 WIB, rombongan inti yang dipimpin Pengasuh Ponpes Salafiyah Syafi'iyah Sukorejo Situbondo KH Raden Ahmad Azaim Ibrahimy langsung menuju Ndalem Kasepuhan Ponpes Tebuireng.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Di sini KH Azaim Ibrahimi menyerahkan tongkat dan tasbih yang dibawanya dari Syaikhona Muhammad Kholil Bangkalan kepada cicit Pendiri NU KH Hasyim Asy'ari, KH Abdul Hakim Mahfudz (Gus Kikin). Tongkat dan tasbih ini konon merupakan simbol restu dari Syaikhona Kholil Bangkalan kepada KH Hasyim Asy'ari untuk mendirikan Jam'iyyah Nahdlatul Ulama.
Penyerahan tongkat dan tasbih ini berlangsung khidmat dan penuh haru. Selanjutnya, rombongan Napak Tilas Isyarat Pendirian NU menuju makam KH Hasyim Asy'ari di makam Masyayikh Ponpes Tebuireng untuk berziarah dan doa bersama.
"Napak Tilas Isyarat Berdirinya NU ini sangat baik untuk mengenang kembali sejarah perjalanan NU yang kini sudah 1 abad," terang Gus Kikin kepada wartawan di lokasi, Minggu (04/01/2026).
Menurut Gus Kikin, di usia yang telah menginjak satu abad ini NU harus bisa mengikuti perubahan zaman. Sehingga ajaran Ahlussunnah Wal Jamaah bisa menaungi kebutuhan jam'iyyah.
"Pesan-pesan dari para muasis pendiri NU, banyak perubahan-perubahan zaman yang harus kita sesuaikan sehingga NU tetap menjadi satu wadah menaungi semua umat islam," tandasnya.
(dpe/abq)











































