Sudah hampir dua bulan halaman dan akses menuju SD Negeri Kedungbanteng, Kecamatan Tanggulangin, Kabupaten Sidoarjo, tergenang banjir. Kondisi tersebut membuat proses belajar mengajar terpaksa dilakukan secara daring, meski sebagian siswa mengaku lebih senang belajar tatap muka di sekolah.
Salah satunya dirasakan oleh Rizki Yawalludin, siswa kelas V SD Negeri Kedungbanteng. Rizki mengaku sedih karena tidak bisa mengikuti pembelajaran bersama teman-temannya.
"Sebenarnya enak belajar langsung di sekolah. Bisa ketemu teman-teman, bisa tanya dan sharing pelajaran kalau tidak paham," ujar Rizki saat ditemui detikJatim, Senin (5/1/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Siswa SD harus daring Foto: Suparno/detikJatim |
Menurut Rizki, pembelajaran daring juga memiliki sejumlah kendala, terutama terkait keterbatasan kuota internet. Ia mengaku pernah harus berpindah-pindah tempat demi mendapatkan akses internet.
"Kalau tidak ada pulsa atau paket, kadang saya ke rumah teman yang ada Wi-Fi, kadang juga ke warung kopi," katanya.
Ia berharap, banjir segera surut agar kegiatan belajar mengajar bisa kembali dilakukan di sekolah.
Sementara itu, Kepala SD Negeri Kedungbanteng, Desi Ernawati, membenarkan bahwa pada hari pertama masuk sekolah setelah libur, pihaknya masih menerapkan pembelajaran daring demi keselamatan siswa.
"Kami sudah berkoordinasi dengan pengawas dan Dinas Pendidikan. Keputusan ini sesuai aturan, karena yang utama adalah keselamatan anak-anak," ujar Desi saat ditemui detikJatim di sekolah.
Ia menjelaskan, banjir yang merendam halaman sekolah dan akses jalan sudah terjadi sejak November lalu. Selain tergenang air, kondisi jalan menuju sekolah juga licin dan berbahaya bagi siswa.
"Banjirnya mulai November sampai sekarang. Akses jalan, baik dari depan maupun belakang, sama-sama terendam dan licin," jelasnya.
Meski demikian, pihak sekolah terus berupaya mencari solusi agar pembelajaran tatap muka dapat kembali dilakukan secara bertahap. Saat ini, sekolah memiliki total 136 siswa dari kelas I hingga VI.
"Kami sudah rapat dan merencanakan kelas III sampai kelas VI bisa mulai masuk sekolah secara bertahap. Akses jalan sementara akan dibuat non permanen, hanya jalan setapak, supaya anak-anak bisa lewat dengan aman," katanya.
Namun, Desi mengakui pengawasan ekstra tetap dibutuhkan, mengingat anak-anak kerap bermain air di area banjir. "Anak-anak itu senang main air, padahal jalannya licin. Itu yang jadi perhatian kami," tambahnya.
Pihak sekolah berharap banjir segera surut sehingga seluruh siswa bisa kembali belajar secara normal di sekolah tanpa harus terkendala akses dan keselamatan.
(auh/hil)












































