Jalan RA Kartini di Kecamatan Tulangan, Sidoarjo, mengalami retak dan ambrol. Kondisi itu viral di media sosial karena dinilai membahayakan pengguna jalan. Retakan berada tepat di tepi sungai dengan kontur tanah yang rawan longsor.
detikJatim meninjau langsung lokasi pada Jumat (2/1/2026). Hasil pantauan menunjukkan retakan memanjang sekitar 30 meter di badan jalan, mulai dari Jembatan Mantul hingga depan Toko Barokah. Kedalaman retakan bervariasi dan hanya diberi penanda darurat berupa karung serta batang kayu.
Terdapat pula bagian yang ambrol, posisinya persis di tepi sungai seberang Masjid Mukhlisin. Akibatnya, bahu jalan sepanjang 20 meter itu tidak lagi dapat dilalui kendaraan dan menyisakan badan jalan yang semakin sempit.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sutrisno (56), warga setempat mengatakan, retakan pada jalan tersebut mulai terlihat sekitar sebulan terakhir. Menurutnya, penurunan tanah terjadi secara bertahap sebelum akhirnya ambrol dalam sepekan terakhir.
"Awalnya agak turun dikit-dikit, prosesnya memang seperti itu. Lama-lama turun terus. Kalau amblesnya itu sudah sepekan lebih," ujar Sutrisno saat ditemui detikJatim pada Jumat (2/1/2026).
Ia menjelaskan, kondisi tersebut dipicu oleh pergerakan air sungai yang kerap berubah akibat buka-tutup pintu air di wilayah Grogol. Saat pintu air dibuka, debit dan arus air meningkat sehingga menggerus tepian sungai yang tanahnya tidak stabil.
"Kalau hujan sebenarnya nggak pengaruh. Yang pengaruh itu air dari pintu air sering dibuka untuk mencegah meluapnya air sungai (banjir). Kalau habis dibuka (pintu airnya), air sungai turun banget dan arusnya kencang, akhirnya tepian sungai ikut bergerak dan turun," jelasnya.
Sutrisno menyebut karakter tanah di sepanjang tepian sungai tersebut memang rawan longsor. Ia mengatakan kejadian amblesnya jalan di kawasan itu bukan kali pertama terjadi.
"Dulu sering dipatok pakai kayu. Dibangun, ambles, dibangun lagi, ambles lagi. Karena memang tepiannya tipis," ungkapnya.
Kondisi tersebut bukan semata disebabkan oleh pekerjaan kontraktor maupun pelaksana proyek. Menurut Sutrisno, perbaikan yang dilakukan selama ini hanya sebatas pembangunan badan jalan tanpa disertai penguatan struktur tepian sungai.
"Kontraktor kan hanya membangun jalan sesuai yang tertulis di kontrak. Kalau memang tidak ada pekerjaan plengsengan, ya tidak bisa disalahkan," ujarnya. Ia menilai, diperlukan penanganan yang lebih menyeluruh dengan penguatan tepian sungai agar kerusakan serupa tidak terus berulang.
Kondisi jalan yang menyempit akibat ambrol juga dinilai sangat membahayakan, terutama bagi pengendara dari luar daerah yang belum mengetahui situasi di lokasi. Terlebih, rambu peringatan yang terpasang masih sangat minim dan kurang mencolok.
"Kalau warga sini Insyaallah sudah tahu (ada jalan rusak). Tapi kalau orang luar daerah kan nggak tahu. Apalagi dari arah Barat itu biasanya lajunya kencang. Takutnya meleng atau terperosok," kata Sutrisno.
Ia menambahkan, pada malam hari risiko kecelakaan semakin tinggi karena keterbatasan penerangan dan tidak adanya garis pengaman atau marka peringatan di tepi jalan.
"Harusnya ada safety line yang lorek kuning itu. Tapi karena tidak ada, ya kita pakai yang ada, sak (karung). Sekarang kalau papasan bus atau truk, salah satu harus berhenti dulu karena bahu jalan sudah tidak bisa dipakai," imbuhnya.
Sutrisno berharap, pemerintah setempat segera melakukan penanganan menyeluruh. Tidak hanya perbaikan jalan, tetapi juga penguatan tepian sungai agar kejadian serupa tidak terus berulang.
"Harapannya cepat ditindak. Jangan sampai ada korban dulu baru diperbaiki, jangan sampai lah, jangan sampai," pungkasnya.
(auh/hil)











































