Di balik kostum badut Doraemon yang kerap mengundang tawa anak-anak, tersimpan kisah pilu seorang ibu muda asal Mojokerto. Ninik Istyawati harus berjibaku dengan kerasnya hidup demi menafkahi tiga anaknya seorang diri, bahkan rela bekerja dari balik kostum badut.
Ninik Istyawati (30) adalah sosok di balik badut Doraemon asal Mojokerto yang viral di media sosial. Video itu menyedot perhatian publik karena merekam momen haru ketika Ninik meminta izin kepada ibunya untuk menjadi badut, sekaligus memberi kejutan di Hari Ibu.
Video berdurasi 1 menit 25 detik tersebut memperlihatkan Ninik berpura-pura mengamen di rumah kontrakan ibunya, Rugiati (52), warga Desa Pugeran, Kecamatan Gondang, Mojokerto, Selasa (23/12) sekitar pukul 14.00 WIB.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dengan mengenakan kostum badut, Ninik berjoget mengikuti irama lagu Selamat Ulang Tahun. Di tangannya, ia menenteng bungkusan nasi bebek dan pepes tahu, makanan kesukaan sang ibu. Tanpa sepengetahuan Rugiati, momen itu direkam diam-diam oleh keponakan Ninik dari belakang.
Saat lagu dari ponselnya hampir berakhir, Ninik mendekati ibunya. Ia menyerahkan nasi bebek dan pepes tahu, lalu membuka kepala badut tepat di hadapan sang ibu. Rugiati pun sontak terkejut. Ninik tak kuasa menahan tangis dan langsung memeluk ibunya.
"Ibu tidak tahu kalau di dalam badut itu saya. Tahunya setelah aku kasih nasi, topeng saya buka, spontan ibu kaget, kemudian saya menangis," kata Ninik kepada wartawan di rumahnya, Rabu (31/12/2025).
Ninik merupakan janda dengan tiga anak. Pendidikan terakhirnya Madrasah Aliyah di Kecamatan Gondang. Anak pertamanya kini duduk di kelas 3 MI dan mondok di pesantren. Anak keduanya masih TK A, sementara putri bungsunya baru berusia 22 bulan. Ia bercerai dengan suaminya pada 2024.
Sehari-hari, Ninik tinggal bersama ayahnya, Masrukin (57), di Dusun Ponggok, Desa Wonoploso, Gondang, Mojokerto. Orang tuanya telah bercerai sejak Ninik duduk di kelas 4 SD. Sang ibu kini tinggal terpisah di rumah kontrakan bersama suami barunya.
Ia mengaku tak pernah menyangka video tersebut akan viral. Siang itu, niat Ninik sederhana. Ia ingin berpamitan kepada ibunya karena hendak mencari tambahan rezeki sebagai badut, sekaligus memberikan kado kecil di Hari Ibu berupa nasi bebek dan pepes tahu kesukaan Rugiati.
"Alhamdulillah ibu merestui karena dari segi ekonomi sedang terhimpit, mencari tambahan dengan menjadi badut," terangnya.
Sejak ditinggal suaminya, Ninik harus berjuang sendiri menafkahi sekaligus menyekolahkan ketiga anaknya. Berbagai pekerjaan telah ia lakoni demi mendapatkan rezeki halal. Salah satunya berjualan ayam geprek. Jika modal mencukupi, ia juga berdagang lontong balap, mi nyemek, tempe penyet, hingga rujak cingur.
Tak berhenti di situ, Ninik juga membuka jasa pijat capek khusus perempuan, menerima jasa bersih-bersih rumah, hingga menjadi ojek konvensional. Meski bekerja tanpa mengenal waktu, penghasilannya masih jauh dari cukup. Setiap bulan, ia harus membayar angsuran Rp 1.250.000 hingga September 2026, serta biaya pondok pesantren anak pertamanya sebesar Rp 600.000 per bulan.
Beban itu belum termasuk kebutuhan mendadak sang anak di pondok pesantren, biaya sekolah anak keduanya, serta kebutuhan hidup sehari-hari. Meski demikian, Ninik memilih memendam semua keluh kesahnya.
"Saat pengeluaran bersamaan, bayar pinjaman dan biaya anak di pondok, bikin bingung. Ke orang tua saya tak pernah mengeluh. Karena khawatir menjadi beban pikiran mereka," jelasnya.
Kondisi itulah yang membuat Ninik rela mengenakan kostum badut Doraemon demi memenuhi kebutuhan tiga buah hatinya. Dari balik kostum tersebut, ia mengais rupiah tanpa mengamen. Ia memilih menerima panggilan foto bersama anak-anak di rumah, objek wisata, maupun acara ulang tahun.
"Untuk foto dengan anak-anak saya tidak mematok tarif, seikhlasnya saja. Kalau job event saya tarif Rp 100.000 untuk 3 jam, mulai Januari nanti Rp 150.000 untuk 4 jam," ungkapnya.
Perempuan yang merupakan bungsu dari dua bersaudara ini mulai menekuni profesi sebagai badut dengan modal pinjaman dari sahabat dekatnya. Uang sebesar Rp 500.000 itu ia gunakan untuk membeli kostum badut Doraemon. Hingga kini, pinjaman tersebut belum mampu ia lunasi.
"Sejak cerai dengan suami, muncul ide menjadi badut. Karena modalnya satu kali. Setelah balik modal, tinggal mencari labanya pelan-pelan," ujarnya.
Meski demikian, Ninik tetap mempertahankan usaha kulinernya. Ia menyadari, penghasilan sebagai badut saja belum cukup untuk membesarkan ketiga anaknya. Dari pekerjaan itu, ia terkadang hanya membawa pulang Rp 27.000 per hari. Namun, pernah pula memperoleh Rp 255.500 dalam sehari saat mangkal di salah satu objek wisata.
"Pikiran saya satu, hidup supaya manfaat, rezeki ada jalannya karena Allah SWT tidak tidur. Saya ingin anak-anak saya bisa sukses, tidak hidup susah," tandasnya.
(ihc/dpe)
