7 Tradisi Unik Menyambut Tahun Baru di Berbagai Negara

7 Tradisi Unik Menyambut Tahun Baru di Berbagai Negara

Fadya Majida Az-Zahra - detikJatim
Minggu, 28 Des 2025 20:30 WIB
Ilustrasi perayaan tahun baru di seluruh dunia.
Ilustrasi perayaan tahun baru di seluruh dunia. Foto: ChatGPT
Surabaya -

Tahun baru bukan sekadar pergantian kalender, melainkan momen simbolik yang sarat makna untuk merayakan harapan baru, memanggil keberuntungan, dan merefleksikan perjalanan tahun sebelumnya. Namun, setiap negara memiliki tradisi unik yang mencerminkan budaya, sejarah, dan keyakinan lokal.

Tradisi dalam perayaan tahun baru tidak hanya menghibur, tapi memperkuat ikatan komunal sambil menjanjikan kemakmuran di masa depan. Lalu, apa saja kira-kira tujuh tradisi unik tahun baru yang paling menarik dari berbagai penjuru dunia? Simak informasi lengkapnya di sini, detikers!

7 Tradisi Unik Tahun Baru di Berbagai Negara

Perayaan Tahun Baru tidak selalu identik dengan kembang api atau pesta meriah, di berbagai negara, momen pergantian tahun dirayakan dengan tradisi unik. Dilansir dari buku "150++ Tradisi Hari Raya di Dunia oleh Redaksi Plus" dan detikEdu, berikut tujuh unik perayaan tahun baru di berbagai negara.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

1. Memakan 12 Uva Saat Tengah Malam

Di Spanyol, tradisi "las doce uvas" (12 anggur) wajib dilakukan tepat pukul 00.00 pada 1 Januari. Setiap orang harus memakan satu butir anggur untuk setiap denting lonceng jam di Puerta del Sol, Madrid mewakili 12 bulan ke depan.

Asal-usul dari tradisi makan anggur ini dimulai sejak abad ke-19 untuk meniru perayaan Prancis, tapi popularitasnya meledak sejak 1909. Makna tradisi memakan 12 Anggur di awal Januari adalah harapan baik dan kesuksesan akhir tahun.

ADVERTISEMENT

Tips melakukan tradisi ini adalah menyiapkan anggur hijau kecil (seperti Aibar) agar mudah dikunyah cepat. Dalam kepercayaan masyarakat, apabila gagal menelan tepat waktu, maka akan mendapatkan nasib sial sepanjang tahun.

2. Memecah Piring di Pintu Rumah

Warga Denmark memecah piring tua ke depan pintu rumah tetangga saat tahun baru. Tradisi ini dilakukan untuk menciptakan suara gaduh yang menandakan pesta selesai. Semakin banyak pecahan di pintu, maknanya adalah semakin beruntung.

Tradisi ini berakar dari tradisi Viking yang percaya pecahan porselen dapat mengusir roh jahat. Makna tradisi ini adalah tumpukan pecahan piring melambangkan banyak teman dan cinta.

Masyarakat percaya bahwa, orang yang memiliki paling banyak pecahan dianggap paling dicintai. Fakta unik dari tradisi ini adalah piring tak terpakai dari Natal sengaja disimpan untuk tradisi ini. Hal ini dianggap ramah lingkungan karena bisa daur ulang.

3. Membuang Barang Lama dari Jendela

Di Italia, tradisi La Strenna melibatkan melempar perabotan usang, pakaian, atau furnitur dari jendela pada malam tahun baru. Tradisi ini sebagai simbol "membersihkan" nasib lama.

Asal-usul tradisi ini berasal dari ritual Romawi kuno yang bertujuan mengusir kemiskinan, dan populer di Napoli serta Roma. Maknanya adalah melepaskan masa lalu yang buruk agar memberi ruang bagi keberuntungan di tahun baru. Saat ini, praktiknya lebih simbolis, dengan barang-barang kecil demi keamanan.

Hal unik lain dari tradisi ini adalah membakar kertas bertuliskan "resolusi buruk" di api unggun publik, sebagai harapan agar segala hal negatif di tahun sebelumnya terhapus dan digantikan dengan keberuntungan baru.

4. Mengenakan Baju Polkadot dan Makan 12 Buah Bulat

Di Filipina, perayaan tahun baru dirayakan dengan tradisi polojkan, di mana orang memakai pakaian bernuansa titik-titik dan menyantap 12 jenis buah bulat, seperti jeruk, apel, dan pisang, pada tengah malam.

Tradisi ini berakar dari kepercayaan bahwa bentuk bulat dapat menarik uang (koin) dan keberlimpahan. Tradisi perayaan tahun baru di Filipina juga dipengaruhi pula oleh tradisi imigran Tionghoa.

Maknanya, 12 buah melambangkan 12 bulan dalam setahun, sedangkan motif titik-titik pada pakaian melambangkan koin kemakmuran. Suasana tradisi ini semakin meriah dengan terompet dan petasan yang terdengar paling kencang di Asia Tenggara.

5. Membakar Boneka Tahun Lama (Año Viejo)

Quema del Año Viejo adalah ritual membakar boneka besar berisi barang tak berguna, foto musuh, atau simbol masalah tahun lalu, tepat jam 00.00. Asal-usul tradisi ini adalah gabungan tradisi Spanyol dan adat Maya untuk "membakar" masa lalu.

Makna tradisi ini terletak pada api yang melambangkan pemurnian. Setelah dibakar, abu disebar ke tanah sebagai simbol kesuburan dan harapan nasib baik di tahun baru. Keunikan lain dari tradisi ini adalah pembuatan boneka setinggi sekitar 3 meter secara komunal, yang sering kali bersifat satir, menampilkan tokoh politisi korup.

6. Memukul Lonceng Kuil 108 Kali (Joya no Kane)

Di Jepang, tradisi Joya no Kane ditandai dengan 108 denting lonceng kuil pada malam 31 Desember, yang disiarkan secara nasional. Tradisi ini berakar dari ajaran Buddhisme, di mana 108 denting melambangkan 108 dosa manusia.

Makna tradisi ini adalah setiap denting lonceng dipercaya menghapus satu dosa, dan denting terakhir menjadi simbol agar tahun baru dimulai dengan bersih. Ritual lengkap Joya no Kane dimulai dengan berlutut memberi hormat, menikmati soba (untuk umur panjang), dan mengunjungi kuil untuk mengikuti undian nasib.

7. Haka Tari Tari Tahun Baru

Suku Maori merayakan tahun baru dengan haka, tarian perang kolektif yang dilakukan di pantai atau desa, ditandai teriakan kuat dan gerakan yang sinkron. Tradisi ini berasal dari budaya Polynesia pra-kolonial sebagai cara memanggil leluhur dan roh alam.

Makna tarian haka adalah mengusir energi negatif sekaligus memanggil kekuatan komunal demi tahun yang makmur. Tradisi ini sering diakhiri dengan pesta hangi, yaitu daging yang dipanggang dalam tanah liat. Kini, haka juga diadopsi masyarakat modern Selandia Baru, termasuk versi yang dilakukan tim rugby All Blacks.

Tradisi-tradisi tahun baru di berbagai negara menunjukkan bahwa momen pergantian tahun bersifat universal dalam semangatnya, namun unik dalam praktiknya. Selain merayakan, tradisi-tradisi ini mengajak untuk refleksi, melepaskan yang lama, dan menebar harapan kolektif.

Artikel ini ditulis Fadya Majida Az-Zahra, peserta magang PRIMA Kemenag di detikcom.



(hil/irb)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads