Pergantian tahun selalu identik dengan dentuman dan semburat cahaya kembang api yang memecah langit malam. Di banyak kota, pesta kembang api menjadi penanda berakhirnya satu tahun, sekaligus simbol lahirnya harapan baru, seakan tanpa kilau warna-warni itu, perayaan tahun baru terasa belum sempurna.
Namun, di balik gemerlap kembang api sebagai ikon perayaan akhir tahun, tersimpan sejarah panjang yang melibatkan kepercayaan kuno, tradisi budaya, hingga kemajuan teknologi.
Bermula dari ritual penolak bala di masa lampau, kembang api kemudian bertransformasi menjadi simbol sukacita yang bertahan hingga kini. Lantas, bagaimana asal-usul kembang api bisa menjadi simbol perayaan akhir tahun?
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Asal-usul Kembang Api dari Ritual ke Perayaan
Kembang api berawal dari tradisi masyarakat Liuyang, Tiongkok, sekitar abad ke-2 SM. Saat itu, batang bambu kosong dibakar hingga meledak akibat udara di dalamnya mengembang karena panas.
Suara letusan keras tersebut dipercaya mampu mengusir Nian, monster mitologis pemakan manusia, serta roh-roh jahat lainnya. Tradisi ini berakar pada kepercayaan animisme sebagai upaya perlindungan menjelang akhir tahun.
Pada abad ke-7 hingga ke-9 M, tepatnya pada masa Dinasti Tang (618-907 M), para alkemis Tiongkok bereksperimen mencari ramuan keabadian. Dari upaya tersebut, mereka justru menemukan bubuk mesiu (huo yao), hasil campuran kalium nitrat (70 persen), belerang (15 persen), dan arang (15 persen).
Bubuk mesiu kemudian dimasukkan ke dalam tabung bambu dan dinyalakan, sehingga menghasilkan ledakan yang jauh lebih kuat. Awalnya, temuan ini digunakan dalam ritual, sebelum berkembang menjadi senjata roket, seperti yang tercatat dalam Pertempuran Kaifeng melawan Mongol pada 1232 M.
Seiring waktu, fungsi ledakan tersebut bergeser menjadi bagian dari perayaan. Pada perayaan Tahun Baru Imlek, kembang api digunakan untuk mengusir Nian, monster mitologis yang dipercaya takut pada suara keras dan warna merah, sebuah tradisi yang bertahan hingga kini.
Perjalanan Kembang Api ke Eropa dan Asia Tenggara
Setelah berkembang menjadi simbol perayaan di Tiongkok, kembang api mulai menembus batas geografis. Pada abad ke-13, Marco Polo membawa rahasia bubuk mesiu ke Eropa melalui Jalur Sutra. Italia menjadi pusat inovasi pertama, pada 1379, kota Florence bahkan melarang kembang api karena sering memicu kebakaran.
Di Inggris, Raja Henry VII menciptakan Royal Fireworks pada 1717 untuk pesta pernikahan putrinya. Napoleon Bonaparte mempopulerkannya di Prancis sebagai simbol kemenangan militer.
Sementara di Amerika, kembang api digunakan saat Deklarasi Kemerdekaan 1776, bahkan John Adams menulis surat yang memprediksi perayaan dengan "bells, bonfires, and illuminations".
Di Asia Tenggara, pengaruh Eropa juga terasa. Portugis membawa kembang api ke Maluku pada abad ke-16 untuk Natal dan Tahun Baru. Di Indonesia, kembang api diadaptasi dalam tradisi tororok (ledakan bambu) di Sulawesi dan gasing berbubuk di Jawa, yang pada akhirnya berevolusi menjadi kembang api modern.
Transformasi Kembang Api
Pada abad ke-9 hingga ke-13, kembang api masih menggunakan tabung bambu dan bubuk mesiu, terutama untuk ritual Imlek dan sebagai roket perang. Memasuki abad ke-14 hingga ke-17, teknologi berkembang dengan penggunaan tabung kertas dan warna dasar, yang umum dipakai dalam pesta kerajaan Eropa.
Pada abad ke-19, bahan kimia mulai digunakan untuk menghasilkan warna tertentu, seperti strontium untuk warna merah, yang terlihat jelas dalam perayaan Bastille Day di Prancis.
Di era modern, kembang api berevolusi menjadi pertunjukan yang lebih canggih, seperti pyromusical, kembang api yang disinkronkan dengan musik, yang digelar di Sydney Olympics 2000.
Kini, pertunjukan ramah lingkungan juga mulai muncul,. Misalnya drone light show di Dubai tahun 2023, yang melibatkan 10.000 drone, menggantikan sebagian penggunaan kembang api tradisional.
Warna dan Makna di Balik Cahaya Kembang Api
Dari bambu sederhana hingga bahan kimia modern seperti magnesium dan strontium, kembang api berevolusi tidak hanya dari segi teknologi, tetapi warna. Setiap warna memiliki makna tersendiri, memukau mata, sekaligus menjadi simbol emosi, harapan, dan perayaan yang menyatukan masyarakat di seluruh dunia.
- Warna Merah bahan dasarnya adalah strontium, warna ini ditemukan dan berasal dari Tiongkok
- Warna Hijau bahan dasarnya adalah barium, warna ini ditemukan dan berasal dari Italia
- Warna Biru bahan dasarnya adalah tembaga, warna ini ditemukan dan berasal dari Jepang
- Warna Emas/Putih bahan dasarnya adalah aluminium/magnesium, warna ini ditemukan dan berasal dari AS
Simbol di Balik Ledakan Cahaya Kembang Api
Kembang api bukan sekadar pertunjukan visual, tetapi melambangkan ledakan emosi di akhir tahun. Ledakan singkat yang diikuti hening menjadi simbol harapan baru, menandai berakhirnya satu siklus dan dimulainya awal yang segar.
Cahaya terang yang menembus kegelapan menyerupai matahari terbit setelah musim dingin, melambangkan kemenangan atas kegelapan. Selain itu, suara gemuruh kembang api menciptakan kebahagiaan kolektif, menyatukan banyak orang dalam kegembiraan bersama.
Secara ilmiah, ledakan ini merangsang pelepasan endorfin melalui rangsangan visual dan suara keras. Sebuah studi dari Journal of Consumer Research (2018) menyebut fenomena ini sebagai "efek pesta", yang meningkatkan rasa kebersamaan dan komunal.
Meski kembang api memikat dengan cahaya dan suara, namun tak luput dari kontroversi. Polusi udara meningkat tajam pasca-perayaan, cedera akibat kembang api tercatat ribuan kasus per tahun, sehingga beberapa negara, termasuk Indonesia melalui Peraturan Menteri Pertahanan 2022, membatasi penggunaannya.
Namun, sebagai simbol pergantian tahun dan perayaan kolektif, kembang api tetap memiliki tempat istimewa. Sementara teknologi alternatif seperti laser show, pyromusical, dan drone light show mulai populer, kilau dan dentuman kembang api tradisional tetap menghadirkan sensasi magis yang sulit tergantikan.
Artikel ini ditulis Fadya Majida Az-Zahra, peserta magang PRIMA Kemenag di detikcom.
(hil/irb)











































