Kisah inspiratif datang dari Jalal, warga Dusun Ganting, Tulangan, Sidoarjo. Ia membangun rumah pohon di area makam leluhur desanya, tepatnya di kompleks makam Mbah Kluntung, tokoh yang dikenal sebagai pembabat pertama Desa Ganting.
Kepada detikJatim, Jalal menceritakan awal kisah tersebut bermula sekitar tahun 2004. Saat itu, orang tuanya bermimpi bertemu sosok berpakaian serba putih, berjubah, dan bersorban, yang menyampaikan pesan bahwa makam leluhur di Ganting dalam kondisi kotor dan tidak terawat.
"Orang tua saya mimpi ada orang pakai baju putih, katanya makam di sini kotor. Waktu itu saya masih umur 20 tahun, habis dengar cerita itu saya langsung merasa terpanggil," ujar Jalal saat ditemui di rumah pohonnya, Sabtu (13/9/2025).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sejak mendengar cerita tersebut, Jalal secara sukarela membersihkan area makam hampir setiap hari. Ia merawat makam tanpa rasa takut, meski berada di lokasi yang kerap dianggap angker oleh sebagian warga.
Namun delapan tahun berselang, musibah datang. Angin kencang merobohkan sejumlah pohon besar di sekitar makam, termasuk pohon kepuh tua yang selama ini menjadi peneduh utama kawasan tersebut. Jalal bersama teman-temannya kemudian berinisiatif menanam lima pohon beringin sebagai pengganti.
"Biar tetap teduh, kami tanam beringin. Saya atur jaraknya biar seimbang. Alhamdulillah sekarang tumbuh subur," katanya.
Jalal di depan rumah pohon miliknya/Foto: Suparno |
Seiring waktu, pohon-pohon beringin itu tumbuh besar. Setelah sekitar 15 tahun, akar-akarnya menjalar ke berbagai arah. Dari keinginan merapikan akar agar tidak merusak pekarangan makam, Jalal justru mendapat ide untuk merakit struktur menyerupai rumah pohon.
"Awalnya nggak niat bikin rumah pohon. Tapi karena akarnya sudah kuat dan menjalar, saya rakit dari akar itu, biar rapi dan nggak ganggu pekarangan," jelasnya.
Agar keaslian pohon tetap terlihat, Jalal melengkapi bagian dalam rumah pohon dengan banner transparan.
"Saya pasang banner di dalam, biar akar beringinnya kelihatan, biar orang tahu ini pohon asli. Bukan tempelan," tambahnya.
Bagian dalam rumah pohon Jalal Foto: Suparno |
Kini, Jalal hampir setiap hari berada di sekitar rumah pohon tersebut. Ia membersihkan halaman, merawat makam, serta menjaga lingkungan agar tetap asri dan teduh.
"Saya asli sini, lahir di dusun ini. Kalau bukan saya yang rawat makam Mbah Kluntung, siapa lagi? Nggak ada rasa takut sama sekali, malah nyaman di sini," ujarnya.
Sejak mulai membersihkan makam pada 2004, Jalal mengaku tak pernah merasa ragu. Sekitar tahun 2008, ia mulai merakit struktur akar di sisi selatan makam, lalu perlahan berkembang ke sisi utara.
"Nggak pernah takut. Ini tempat leluhur saya, yang babat Desa Ganting. Justru saya merasa tenang di sini," imbuhnya.
Rumah pohon milik Jalal Foto: Suparno |
Menurut Jalal, menjaga warisan leluhur tak harus dilakukan dengan cara besar. Dari ketulusan tersebut, makam tua yang dulunya terbengkalai kini menjadi area rindang, bersih, dan menyejukkan.
"Selain itu juga untuk mengingatkan warga yang kesukaannya berburu hewan liar di area makam. Kalau dilanggar sering terjadi kejadian aneh. Baru masuk area dengan niat berburu, tiba-tiba orangnya lari ketakutan," pungkas Jalal.
Butuh Puluhan Tahun hingga Jadi Rumah Pohon
Jalal mengungkapkan, pohon beringin yang kini menjelma rumah pohon telah ia tanam sejak era 1990-an bersama teman-temannya, sebagai pengganti pohon kepuh yang tumbang.
"Awalnya dulu tahun 90-an, pohon kepuh di sini tumbang. Saya sama teman-teman berinisiatif nanam beringin biar tetap rindang dan nggak panas. Ada lima pohon beringin yang kita tanam berdekatan," kata Jalal saat ditemui detikJatim, Senin (8/9/2025).
Jalal sehari-harinya menghabiskan waktu dirumah pohon untuk mencari ketenangan hati. Foto: Suparno |
Ia merawat beringin dengan cara unik. Akar-akar yang menjalar justru ia susun rapi hingga membentuk bangunan alami menyerupai rumah. Di bagian dalam, Jalal memasang banner transparan agar struktur akar tetap terlihat jelas.
"Kalau beringin itu akarnya banyak dan cepat menjalar. Saya takut pekarangan penuh akar. Akhirnya saya bentuk biar bagus, saya rakit, saya susun. Jadi akarnya kelihatan, tapi pekarangannya tetap utuh," jelasnya.
Kini, rumah beringin tersebut telah berusia lebih dari 15 tahun. Dari luar tampak seperti bangunan biasa, namun bagian dalamnya menyuguhkan pemandangan akar beringin asli yang membentuk dinding alami.
"Tujuan saya sederhana saja, biar teduh, rindang, dan akar-akarnya tertata rapi. Nggak neko-neko, yang penting manfaat," tutup Jalal.
Simak Video "Video: Pria di Sidoarjo Hidup Belasan Tahun di Rumah Pohon Beringin"
[Gambas:Video 20detik]
(ihc/hil)















































