Kenapa Tukar Hadiah di Hari Natal? Ini Sejarah di Baliknya

Kenapa Tukar Hadiah di Hari Natal? Ini Sejarah di Baliknya

Fadya Majida Az-Zahra - detikJatim
Rabu, 24 Des 2025 19:40 WIB
Kenapa Tukar Hadiah di Hari Natal? Ini Sejarah di Baliknya
Ilustrasi kado Natal. Foto: Freepik
Surabaya -

Saat malam Natal, tukar kado selalu berhasil memeriahkan suasana. Tapi, tahukah kamu tradisi ini bukanlah kebiasaan belaka. Kebiasaan muncul karena pengaruh ajaran Kristen, perayaan kuno pra-Kristen, dan perkembangan budaya masyarakat Eropa yang kemudian menyebar ke berbagai belahan dunia.

Yuk, simak sejarah di balik tukar kado dan bagaimana tradisi ini berkembang di seluruh dunia, detikers!

Asal-usul Tukar Kado yang Selalu Ada di Hari Natal

Dikutip dari The Knowledge Panel, tradisi tukar kado ini berawal dari kisah Tiga Orang Majus yang mengikuti bintang dan membawa emas, kemenyan, serta mur sebagai persembahan bagi bayi Yesus.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Emas dipersembahkan untuk Raja, kemenyan untuk Tuhan yang dipuja, dan mur sebagai persiapan pemakaman yang meramalkan kematian-Nya. Kisah ini berasal dari Matius 2:11 yang menginspirasi umat Kristen awal untuk meniru dengan memberi hadiah pada Epifani di 6 Januari, yang kemudian bergeser ke 25 Desember.

Selain pengaruh Alkitab, tukar kado juga terinspirasi dari festival Saturnalia di Romawi. Yang mana memberi hadiah menjadi simbol kemakmuran dan kebahagiaan dari dewa pertanian yang dikenal sebagai dewa Saturnus.

ADVERTISEMENT

Pengaruh Santo Nikolaus, uskup dermawan abad ke-4, juga mempopulerkan Santa Claus sebagai pembawa hadiah pada Malam Natal. Ia dikenal sebagai sosok yang sangat dermawan dan sering memberikan hadiah atau bantuan uang secara rahasia kepada orang miskin serta anak-anak.

Tukar Kado Semakin Dikenal Lewat Komersialisasi di Eropa

Seiring waktu, tradisi ini semakin dikenal berkat komersialisasi Victoria era di Inggris dan Amerika abad ke-19. Dari yang awalnya ritual rohani, berubah menjadi pesta kumpul keluarga yang dipopulerkan lewat pengaruh kerajaan, sastra, dan perdagangan.

Ratu Victoria dan keluarganya ikut membuat Natal lebih akrab dengan mengubah perayaan Epifani menjadi Malam Natal yang inklusif untuk kalangan kelas menengah.

Sementara itu, di Amerika, novel 'A Christmas Carol' karya Charles Dickens semakin mempopulerkan tradisi memberikan hadiah sebagai bentuk kemurahan hati. Kemajuan kereta api dan layanan pos pada saat itu juga yang perlahan membuat tradisi tukar kado jadi perayaan Natal menjadi global.

Sejak 1840-an, jaringan kereta api Great Western Railway di Inggris membuat pengiriman hadiah dari kota ke kota jauh jadi lebih cepat, dari yang awalnya butuh berhari-hari bisa hanya hitungan jam.

Reformasi pos Penny Black pada 1840 juga menurunkan biaya kirim surat dan paket cuma satu penny, jadi masyarakat semakin mudah mengirim kartu ucapan dan hadiah sederhana.

Dari situ lahir budaya Christmas parcels, di mana keluarga kelas menengah rutin mengirim paket setiap Desember. Tradisi inilah yang perlahan memperkuat kebiasaan tukar kado yang kita kenal sekarang

Makna Tukar Hadiah Natal

Budaya turun menurun ini membuat sebagian orang terbiasa untuk saling menerima dan memberi hadiah saat Natal tiba. Secara teologis, tradisi tukar kado membawa pesan bahwa kelahiran Yesus adalah "Hadiah Terbesar" dari Tuhan kepada manusia.

Umat Kristiani percaya bahwa Tuhan memberikan anugerah keselamatan secara cuma-cuma melalui Yesus. Oleh karena itu, manusia meneladani sifat murah hati Tuhan dengan cara memberikan kado kepada sesama sebagai bentuk berbagi berkat dan kasih tanpa syarat.

Hal ini juga berdasar pada kisah tokoh Alkitab semasa Yesus lahir ke dunia. Tertulis dalam Matius 2:11 yang berisi:

"Maka masuklah mereka ke dalam rumah itu dan melihat Anak itu bersama Maria, ibu-Nya, lalu sujud menyembah Dia. Mereka pun membuka tempat harta bendanya dan mempersembahkan persembahan kepada-Nya, yaitu emas, kemenyan dan mur,".

Itulah mengapa tukar-menukar kado dipahami sebagai simbol pemberian yang tulus dan penuh makna.

Artikel ini ditulis Fadya Majida Az-Zahra, peserta magang PRIMA Kemenag di detikcom.




(auh/irb)


Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads