Hidup dengan HIV/AIDS, Memahami Stigma dan Cara Mengatasinya

Allysa Salsabillah Dwi Gayatri - detikJatim
Minggu, 30 Nov 2025 21:00 WIB
ILUSTRASI HARI AIDS SEDUNIA. Foto: iStock
Surabaya -

Penyintas HIV/AIDS seringkali mendapatkan perlakuan diskriminasi baik di lingkungan masyarakat maupun tenaga kesehatan. Hal ini terjadi karena pemahaman dan edukasi tentang HIV yang kurang. Nyatanya, penularan HIV tidak semudah yang dipikirkan banyak orang.

Stigma ini berdampak pada kehidupan para penderita HIV yang menjadi lebih sulit. Tak jarang, penyintas seringkali mendapat ejekan, dikucilkan, hingga mendapat perlakuan tidak adil. Bahkan, stigma ini dapat berpengaruh pada proses pengobatan mereka.

Diskriminasi dan Stigma terhadap Penderita HIV/AIDS

Stigma HIV sering muncul karena adanya ketidaktahuan dan ketakutan yang berkembang di masyarakat. Akibatnya muncul diskriminasi terhadap orang yang hidup dengan HIV (ODHA).

Pandangan yang salah mengenai HIV, seperti menganggap bahwa penyakit tersebut akan menular pada kelompok tertentu mengakibatkan adanya perilaku diskriminatif.

Bentuk stigma biasanya penderita HIV/AIDS dianggap berbahaya oleh orang lain. Banyak orang juga enggan berbicara, bekerja sekantor, bahkan tidak mau mengonsumsi makanan yang sudah disiapkan penderita.

Bahkan, adanya stigma ini membuat penderita mendapat batasan terhadap layanan medis dan dukungan sosial. Terdapat beberapa alasan mengapa stigma mengenai penderita HIV/AIDS masih ada di Indonesia.

  • Pemahaman mengenai HIV masih kurang, sehingga penyakit ini ditakuti banyak orang.
  • Kurangnya informasi mengenai cara penularan dan pencegahannya, sehingga masyarakat seringkali memiliki pandangan yang salah mengenai penderita HIV/AIDS.
  • Ada anggapan bahwa hanya kelompok tertentu yang dapat terserang HIV.
  • Pengetahuan yang salah mengenai penyebaran penyakit HIV/AIDS misalnya mempercyai bahwa HIV dapat menular melalui kontak fisik atau peralatan makan.
  • HIV dan AIDS sering dikaitkan dengan tindakan negatif tertentu seperti penggunaan obat terlarang, narkoba bentuk suntik, dan seks bebas.

Dampak Stigma Negatif terhadap Penderita HIV/AIDS

Munculnya berbagai stigma sosial terhadap HIV ini menyebabkan penyintasnya mendapatkan perlakuan diskriminasi. Bahkan, dapat berpengaruh terhadap kondisi mental mereka. Stigma ini juga dapat menghambat proses pengobatan penderita.

Pemberian stigma buruk terhadap penderita menyebabkan perasaan ditolak dan diasingkan sehingga ada upaya untuk menutupi status kesehatannya. Dengan demikian, penderita akan menunda mencari pengobatan dan dapat meningkatkan perilaku berisiko

Cara Menghapus Stigma

Upaya yang dapat dilakukan untuk menghapus stigma, yakni melakukan penyuluhan yang lengkap kepada masyarakat, serta adanya dukungan sosial yang lebih kuat. Selain itu, adanya kebijakan melindungi hak-hak individu penderita HIV/AIDS.

Langkah ini perlu kerja sama antara pemerintah, organisasi kesehatan, komunitas, dan individu. Dengan cara ini kita dapat menghapus diskriminasi dan stigma mengenai penderita HIV. Selain itu menciptakan ruang aman untuk semua individu.

Cara Mengurangi Risiko Penularan

HIV menyebar melalui cairan tubuh, seperti air mani, darah, cairan vagina, dan ASI. Hubungan seksual tanpa pengaman atau kondom menjadi jalur penularan yang bisa terjadi. Selain itu, HIV dapat menular melalui penggunaan suntuk yang tidak steril.

Infeksi HIV juga dapat menular melalui seorang wanita yang dikatakan positif HIV kepada bayinya baik saat hamil ataupun menyusui. Akan tetapi, dengan pengobatan yang tepat dan cepat, seorang wanita bisa hamil dan melahirkan tanpa ada penularan HIV ke anaknya




(auh/irb)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork