Hari AIDS Sedunia diperingati setiap tanggal 1 Desember. Peringatan ini bertujuan menumbuhkan kesadaran akan bahaya AIDS yang disebabkan Human Immunodeficiency Virus (HIV).
Selain meningkatkan kesadaran akan penyakit ini, Hari AIDS Sedunia juga menyoroti tantangan besar yang masih dihadapi orang yang hidup dengan HIV, terutama stigma dan diskriminasi yang dapat menghambat mereka mengakses layanan kesehatan dan dukungan yang mereka butuhkan.
AIDS atau Acquired Immunodeficiency Syndrome merupakan kumpulan gejala yang muncul akibat serangan Human Immunodeficiency Virus (HIV). Penyakit ini menyerang dan melemahkan sistem kekebalan tubuh manusia.
Dilansir dari laman resmi World Health Organization (WHO), diperkirakan sekitar 40,8 juta orang di dunia terserang HIV pada akhir tahun 2024. Angka ini menempatkan HIV/AIDS sebagai penyakit yang penanganannya perlu mendapat perhatian serius.
Lalu bagaimana sebenarnya sejarah dan makna peringatan Hari HIV/AIDS sedunia? Serta, bagaimana Indonesia memperingati Hari HIV/AIDS sedunia? Yuk, simak penjelasan selengkapnya di bawah ini, detikers!
Sejarah dan Makna Hari AIDS Sedunia
Melansir laman resmi United Nations (UN) Indonesia, Hari AIDS Sedunia pertama kali diperingati pada 1 Desember 1988 sebagai hari internasional pertama untuk kesehatan global. Peringatan ini muncul setelah kasus HIV/AIDS pertama, yang kemudian meningkatkan kewaspadaan dan upaya pencegahan di masyarakat.
AIDS merupakan reaksi tubuh yang telah terpapar virus HIV. Virus ini disebarkan atau terpapar karena cairan tubuh penderita HIV. Bisa berasal dari darah, air susu ibu, cairan sperma, dan cairan ejakulasi lainnya.
Menurut penjelasan laman Halodoc yang dibina Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, pada mulanya HIV terjadi setelah manusia memakan daging simpanse yang membawa Simian Immunodeficiency Virus (SIV).
Virus SIV bermutasi dan menular kepada manusia. SIV merupakan virus dengan jenis lentivirus yang menyerang kekebalan tubuh. SIV menyerang kekebalan tubuh kera atau monyet dengan cara yang mirip seperti HIV.
Berdasarkan pengamatan kesehatan, SIV memiliki kaitan erat dengan HIV yang berpindah ke manusia dengan penularan virus. Indikasi kasus pertama HIV berasal dari sampel darah yang diambil pada tahun 1959. Sampel ini diambil dari seorang pria yang tinggal di Kinshasa, Republik Demokratik Kongo.
Para ilmuwan menggunakan sampel laki-laki tersebut untuk membuat pohon keluarga untuk penularan HIV dari kasus ini. Dari penelitian tersebut, pihak kesehatan Kongo melacak penularan lainnya SIV ke HIV yang juga terjadi pada tahun 1920 yang mencerminkan reaksi serupa.
Sementara itu, kasus HIV pertama di Indonesia dideteksi pula pertama kali di Bali pada tahun 1987. Kemudian perkembangannya di Indonesia menjadi meningkat hingga 100 kasus pada 1998.
Stigma dan Diskriminasi HIV/AIDS
Melansir laman resmi WHO, stigma dan diskriminasi masih menjadi salah satu hambatan utama bagi orang yang hidup dengan HIV dalam mengakses layanan kesehatan. Hambatan ini dapat mengurangi kemampuan mereka untuk menerima perawatan dan tetap terlibat dalam seluruh rangkaian layanan HIV.
Kondisi ini membuat banyak orang enggan mencari pertolongan, sehingga kesehatan mereka terancam. Untuk menghadapi tantangan ini, pada Konferensi AIDS Internasional 2024, WHO merilis ringkasan teknis berjudul "Memastikan Pelayanan Kesehatan Berkualitas dengan Mengurangi Stigma dan Diskriminasi Terkait HIV".
Dokumen ini dirancang untuk membantu pengelola fasilitas kesehatan dalam menyediakan layanan yang berkualitas dan bebas stigma, serta menegaskan bahwa setiap individu berhak memperoleh standar kesehatan fisik dan mental tertinggi.
"Agar orang yang hidup dengan atau terdampak HIV dapat mengakses dan tetap terlibat dalam perawatan, sangat penting bagi tenaga kesehatan untuk memiliki keterampilan dalam memberikan layanan kesehatan berkualitas bebas stigma," ujar dr Meg Doherty, Direktur Program HIV, Hepatitis, dan IMS Global WHO.
Pernyataan ini menekankan pentingnya membangun kapasitas tenaga kesehatan agar layanan dapat diberikan secara ramah, inklusif, dan tanpa diskriminasi. Ringkasan teknis WHO juga menguraikan area prioritas, panduan tindakan yang dapat dilakukan, serta menampilkan contoh penerapan di berbagai negara.
Meskipun dokumen ini terutama ditujukan untuk fasilitas kesehatan, prinsip-prinsipnya juga berlaku untuk model layanan masyarakat. Dengan demikian, setiap orang, di mana pun berada, dapat mengakses layanan HIV tanpa takut stigma atau diskriminasi, yang menjadi langkah penting dalam upaya global mengakhiri AIDS.
Peringatan Hari AIDS Sedunia 2025
Peringatan Hari AIDS Sedunia 2025 mengusung tema "Overcoming disruption, transforming the AIDS response" atau "Mengatasi gangguan, mengubah respons terhadap AIDS".
Tema ini menekankan pentingnya kepemimpinan politik berkelanjutan, kerja sama internasional, dan pendekatan yang berpusat pada hak asasi manusia, sebagai upaya global untuk mengakhiri AIDS pada 2030. Meski telah terjadi kemajuan signifikan selama puluhan tahun, respons terhadap HIV kini berada di persimpangan.
Banyak layanan penyelamatan nyawa terganggu, sementara sejumlah komunitas menghadapi risiko dan kerentanan yang meningkat. Namun, di tengah tantangan ini, harapan tetap hidup melalui tekad, ketahanan, dan inovasi dari komunitas yang berjuang untuk mengakhiri AIDS.
Data terbaru menunjukkan bahwa pada tahun 2024, sekitar 40,8 juta orang hidup dengan HIV di seluruh dunia. Dari jumlah ini, diperkirakan 630.000 orang meninggal karena penyakit terkait HIV, dan sekitar 1,3 juta orang terinfeksi HIV pada tahun yang sama.
Sebagai salah satu negara dengan populasi terbesar keempat di dunia. Pemerintah Indonesia juga terus berupaya memberikan kesetaraan mulai dari pemahaman dalam kewaspadaan HIV dan AIDS sejak dini.
Hari AIDS Sedunia di Indonesia diperingati dengan kesadaran menjaga satu sama lain sebagai bentuk kepedulian terhadap kesehatan tubuh manusia atas gejala gejala penyakit yang sama.
Itulah informasi terkait Hari AIDS sedunia, detikers. Yuk, jadi bagian dari kepedulian dan kewaspadaan terhadap virus ini detikers!
Artikel ini ditulis Fadya Majida Az-Zahra, peserta magang PRIMA Kemenag di detikcom.
Simak Video "Video: Apa Tantangan Terbesar Hidup sebagai Perempuan dengan HIV?"
(auh/irb)