Di tengah isu lemahnya sejumlah UMKM di kawasan eks lokalisasi Gang Dolly, masih tersisa secercah harapan dari para perajin batik sekitar. Pembinaan dari Rumah Batik Putat Jaya membuat para perajin tetap produktif meski lingkungan sekitar kembali diterpa isu prostitusi terselubung.
"Batik itu kan identik dengan budaya. Menurutku sampai kapanpun budaya itu berdiri sendiri. Itu sebabnya UMKM batik tetap bertahan apa pun kondisinya. Tidak terpengaruh namun justru tetap memberi dampak positif bagi perekonomian," ujar Mulyadi Gunawan (52), pembina Rumah Batik kepada detikJatim, Sabtu (29/11/2025).
Setiap pekan, tempat ini selalu kedatangan perajin dari berbagai penjuru Surabaya. Ada yang hadir untuk belajar, ada yang membawa desain dan tinggal mewarna, hingga ada pula yang meminta bantuan membuat pola.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kalau ada UMKM yang butuh tenaga untuk membuat pola biasanya minta tolong teman-teman binaan lain di sini," imbuh pria yang akrab disapa Pengky tersebut. Ia menuturkan kebersamaan di Rumah Batik menumbuhkan suasana kekeluargaan sehingga tidak terjadi persaingan antar perajin.
Ibarat pendamping, Rumah Batik tidak memproduksi. Tempat ini berdiri sekitar 2 tahun setelah penutupan kawasan eks lokalisasi pada 2014, saat Pemerintah Kota Surabaya mulai membangun sejumlah sentra baru untuk memulihkan ekonomi warga.
"Saya dulu ditunjuk Bu Risma (wali kota saat itu) untuk mengajarkan warga sekitar cara membatik dari nol sehingga mereka punya mata pencahariaan lagi," ujarnya.
Bahkan sebelum Rumah Batik resmi dibangun, pengajaran dilakukan oleh Pengky dan rekannya dari rumah ke rumah. Ia berdedikasi tinggi untuk melestarikan seni sekaligus membantu kebangkitan ekonomi masyarakat di kawasan eks lokalisasi.
Dari sinilah, sejarah Batik Surabaya dimulai. Yang dahulunya 'abu-abu', kini memiliki identitas baru. "Surabaya dulu nggak terlalu dikenal batiknya. Akhirnya di sini kami kembangkan motif-motif khas Surabaya," ucap pria yang gemar melukis itu.
Motif yang lahir dari Rumah Batik ini selalu berpijak pada kearifan lokal Surabaya. Ikon-ikon kota diselipkan ke setiap karya. Misalnya, batik motif daun jarak dibuat untuk daerah Putat Jaya, batik motif kembang turi dibuat untuk daerah Dupak (dekat dengan Pasar Turi), dan lain sebagainya.
Menjadi rumah binaan dengan 70 lebih perajin di bawahnya, Pengky berharap kehadiran 'Rumah Batik' tidak berhenti di Putat Jaya saja.
"Kalau tiap kecamatan punya satu saja rumah batik, UMKM pasti akan banyak bermunculan dan ekonomi bisa tumbuh perlahan. Dampaknya pasti terasa ke warga sekitar," tutupnya.
(dpe/abq)











































