Jejak Majapahit di Balik Rimbunnya Kota Santri

Jejak Majapahit di Balik Rimbunnya Kota Santri

Jihan Navira - detikJatim
Jumat, 28 Nov 2025 08:00 WIB
ilustrasi tanam bibit pohon
ILUSTRASI MENANAM POHON. Foto: Instagram @Kementerianlhk
Jombang -

Jombang tidak hanya dikenal sebagai 'Kota Santri', tetapi sebagai salah satu wilayah yang menyimpan jejak tradisi kuno peninggalan Majapahit. Salah satu tradisi yang masih bertahan hingga kini adalah menanam pohon ketika seorang anak lahir.

Tradisi ini dilaksanakan secara kolektif oleh masyarakat Jombang antara bulan Desember hingga Maret. Meskipun demikian, penanaman pohon juga dilakukan secara mandiri oleh setiap keluarga di bulan-bulan lainnya.

Kebiasaan ini hidup di sejumlah desa tua yang secara historis masih berada dalam lingkaran budaya Majapahit. Jadi, tak heran jika masyarakatnya tak hanya mengenal, tetapi juga uri-uri budaya. Hal ini patut diapresiasi dan dicontoh, sebab tradisi seringkali menjadi hal pertama yang tergerus di tengah arus modernisasi.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Budaya lokal bukan sekadar peninggalan masa lalu, melainkan sebuah identitas, penanda sejarah, pengikat sosial untuk mempertahankan tradisi lisan atau cerita leluhur, serta bagian dari merawat nilai-nilai leluhur yang masih relevan bagi kehidupan kita.

Salah satu contoh tradisi yang terus hidup dan diwariskan dari generasi ke generasi hingga saat ini, yaitu tradisi penanaman pohon saat kelahiran anak. Praktik kebudayaan ini bukan sekadar simbolik, melainkan bentuk nyata hubungan manusia dengan alam.

ADVERTISEMENT

Ingin tahu bagaimana ajaran-ajaran masa lampau termasuk pada masa kejayaan Majapahit turut serta menjaga alam Jombang? Simak informasi selengkapnya tentang tradisi unik menanam pohon setiap kelahiran anak di Jombang.

Tradisi Menanam Pohon Warisan Majapahit di Jombang

Di Kabupaten Jombang, Jawa Timur, terdapat tradisi yang diyakini sebagai warisan era Majapahit, yaitu menanam pohon setiap kali seorang anak lahir. Tradisi ini sudah dilakukan berabad-abad dan masih bertahan di sejumlah desa, yang dikenal kuat memegang nilai-nilai adat yang disebut "Tumpak Tandur Bumi Wono Ndadari".

Dalam naskah-naskah kuno dan sejumlah catatan lisan masyarakat, menanam pohon saat anak lahir merupakan simbol harapan. Tradisi ini dilakukan masyarakat Jawa pada masa Majapahit sebagai bentuk doa agar anak tumbuh kuat, panjang umur, sekaligus memiliki karakter setangguh pohon yang ditanam.

Biasanya, keluarga akan menanam satu pohon, mulai dari pohon buah, pohon beringin kecil, hingga jenis tanaman keras sebagai penanda kelahiran anak. Pohon itu kemudian dirawat seiring tumbuh kembang sang anak.

Harapannya, pohon tumbuh membersamai anak yang lahir dan manfaatnya bisa 'dipanen' kelak saat dewasa. Ini juga menjadi simbol harapan bahwa kehidupan keduanya akan sama-sama kuat, panjang umur, dan memberi manfaat bagi lingkungan sekitar.

Filosofi Tradisi Tumpak Tandur Bumi Wono Ndadari

Tradisi Tumpak Tandur Bumi Wono Ndadari mengajarkan filosofi kehidupan melalui simbol pohon. Setiap bagian pohon mewakili nilai penting. Dengan begitu, tradisi ini bukan sekadar ritual, tetapi sarana menanamkan nilai-nilai kehidupan dan tanggung jawab sosial sejak dini.

Akar: Fondasi Moral

Akar yang menancap dalam tanah melambangkan landasan moral dan nilai-nilai kehidupan yang kuat. Seperti akar yang menopang pohon agar tetap tegak, anak diharapkan memiliki prinsip, akhlak, dan etika yang kokoh sebagai dasar kehidupannya.

Fondasi moral ini menjadi pedoman bagi anak dalam setiap tindakannya. Dengan prinsip yang kuat, anak diharapkan bisa memberi manfaat bagi diri sendiri maupun orang lain.

Batang: Kekuatan dan Harapan

Batang yang tegak lurus melambangkan harapan agar anak tumbuh menjadi pribadi yang kuat dan tegar menghadapi tantangan hidup. Batang memberi stabilitas dan arah bagi pohon, sama halnya dengan anak yang diharapkan mampu berdiri kokoh dalam menghadapi lika-liku kehidupan.

Dengan kekuatan dan keteguhan, anak bisa terus berkembang menuju masa depan yang lebih baik. Ia diharapkan mampu menghadapi rintangan dengan percaya diri dan memberi inspirasi bagi orang di sekitarnya.

Daun: Manfaat bagi Lingkungan Sekitar

Daun yang rimbun mencerminkan harapan agar kehidupan anak membawa kebaikan dan manfaat bagi orang di sekitarnya. Layaknya daun yang memberi keteduhan dan oksigen, anak diharapkan bisa memberi inspirasi, dukungan, atau kontribusi positif bagi keluarga, teman, dan masyarakat sekitar.

Buah: Kontribusi Nyata untuk Masyarakat

Buah melambangkan hasil dan manfaat nyata yang dapat diberikan anak untuk masyarakat. Seperti pohon yang berbuah untuk dinikmati banyak orang, anak diharapkan mampu menghasilkan prestasi, karya, atau tindakan bermanfaat yang memberi dampak positif bagi lingkungan sosialnya.

Tradisi ini dilestarikan warga Jombang hingga sekarang sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur, dan menjadi kontribusi nyata dengan turut serta menjaga keseimbangan lingkungan.

Selain itu, tak hanya berfokus kepada sang anak, tradisi ini juga sebagai pengingat bagi orang tuanya. Anak yang dilahirkan juga membutuhkan oksigen yang layak, bukan sekedar pemenuhan materi.

Apa yang Dilakukan dalam Tradisi Ini?

Sebenarnya untuk pelaksanaan tradisi ini cukup sederhana, tetapi sangat simbolik dan penuh harapan bagi masyarakat Jombang. Tradisi ini dilakukan setiap kali ada anak yang lahir, orang tua si anak akan mencarikan bibit pohon terbaik untuk ditanam bersama dengan ari-ari bayi.

Pemilihan bibit pohon juga tidak sembarangan, tetapi menyesuaikan dengan jenis kelamin sang anak. Dalam tradisi Tumpak Tandur Bumi Wono Ndadari ini, jika anak yang lahir adalah laki-laki maka yang ditanam adalah pohon keras.

Begitu pula dengan anak yang lahir perempuan, maka yang ditanam adalah pohon berbuah. Pemilihan dan penyesuaian jenis pohon ini juga terkait warisan yang kelak dapat dimanfaatkan bagi anaknya kelak saat sudah dewasa.

Itu dia detikers, cara bagaimana masyarakat Jombang melestarikan tradisi peninggalan Majapahit sekaligus turut serta melestarikan alam!



(hil/irb)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads