Pemerintah menganugerahi gelar pahlawan nasional kepada Presiden ke-4 RI KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Di mata keluarganya, Gus Dur lebih dari pahlawan nasional, tapi juga pahlawan rakyat.
Hal tersebut disampaikan istri Gus Dur, Sinta Nuriyah saat ziarah makam masyayikh Pondok Pesantren (PP) Tebuireng di Desa Cukir, Diwek, Jombang. Sinta Nuriyah ziarah makam Gus Dur dengan didampingi putri sulungnya Zannuba Ariffah Chafsoh (Yenny Wahid).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Presiden Prabowo Subianto menganugerahi Gus Dur pahlawan nasional di bidang Perjuangan Politik dan Pendidikan Islam. Namun di mata Sinta Nuriyah, Gus Dur lebih dari itu.
Gus Dur dianggap sebagai pahlawan rakyat. Sebab, sejak Gus Dur wafat hingga kini hampir 16 tahun, masih banyak masyarakat yang mengunjungi makamnya untuk berziarah.
"Saya berpendapat bahwa istilah atau pemberian sebagai pahlawan nasional itu kalah dengan pahlawan rakyat yang dikunjungi, yang didoain, yang diberikan taburan bunga. Bukan pahlawan nasional, yang dikunjungi adalah pahlawan rakyat, pahlawan yang selalu ada di hatinya rakyat," terangnya kepada wartawan di lokasi, Selasa (11/11/2025).
Yenny Wahid menambahkan, Gus Dur selamanya akan menjadi pahlawan rakyat di hati masyarakat. "Jadi, intinya yang lebih penting daripada menjadi pahlawan nasional adalah Gus Dur tetap menjadi pahlawan rakyat," tegasnya.
Yenny Wahid mewakili keluarga menyampaikan terima kasih dan rasa syukur terhadap gelar pahlawan nasional yang dianugerahkan Presiden RI Prabowo Subianto kepada ayahnya. Gelar pahlawan nasional ini membuktikan bahwa nilai-nilai yang diperjuangkan Gus Dur semasa hidupnya, dianggap penting oleh negara.
"Saya ucapkan terima kasih dan rasa syukur dengan penuh kerendahan hati kami menerima gelar yang telah diberikan pemerintah kepada Gus Dur. Karena ini (gelar pahlawan nasional) sebagai simbol bahwa apa yang diperjuangkan oleh Gus Dur itu menjadi nilai-nilai yang dianggap penting oleh negara," tandasnya.
(auh/abq)











































