Monumen Arek Lancor, Ikon Perjuangan Masyarakat Pamekasan

Monumen Arek Lancor, Ikon Perjuangan Masyarakat Pamekasan

Muhammad Faishal Haq - detikJatim
Minggu, 02 Nov 2025 18:00 WIB
Monumen Arek Lancor, Ikon Perjuangan Masyarakat Pamekasan
Monumen Arek Lancor Pamekasan. Foto: Akhmad Zaini
Pamekasan -

Monumen Arek Lancor berdiri tegak di jantung Kota Pamekasan, menjadi simbol perjuangan sekaligus identitas lokal yang tak lekang waktu. Struktur berbentuk kobaran api dengan lima bilah menyerupai senjata tradisional Madura ini bukan sekadar penanda geografis, melainkan ruang publik tempat warga beraktivitas, berkumpul, hingga menggelar upacara keagamaan.

Dilansir dari laman resmi Pemerintah Kabupaten Pamekasan, dalam beberapa tahun terakhir kawasan di sekitar monumen mendapat perhatian serius dari pemerintah daerah untuk menjaga kebersihan dan kenyamanan pengunjung.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Meski berukuran besar dan terletak di titik paling strategis kota, Arek Lancor tetap menyatu dengan kehidupan sehari-hari warga. Taman, area pedestrian, hingga rumah ibadah seperti masjid dan gereja di sekitarnya menjadi cerminan tradisi toleransi, sekaligus mempertegas fungsi monumen sebagai titik temu masyarakat.

Pemerintah Kabupaten Pamekasan bersama dinas terkait pun rutin melakukan penataan dan perawatan agar monumen ini tetap menjadi ruang yang aman, representatif, dan sarat nilai sejarah.

ADVERTISEMENT

Sejarah Ikon Perjuangan

Latar berdirinya Monumen Arek Lancor tak lepas dari perjuangan rakyat Pamekasan pada masa Agresi Militer Belanda I. Pada 4 Agustus 1947, pasukan Belanda mendarat di Camplong dan Branta Pesisir, lalu berhasil menduduki Kota Pamekasan dua hari kemudian.

Rakyat tidak tinggal diam. Bersama Tentara Nasional Indonesia (TNI) dari Resimen Jokotole, para ulama memimpin berbagai laskar rakyat seperti Barisan Pemberontakan Rakyat Indonesia (BPRI) pimpinan KH Amin Jakfar, serta Laskar Hizbullah dan Sabilillah.

Puncak pertempuran terjadi pada 16 Agustus 1947, bertepatan dengan 29 Ramadan, ketika para pejuang melancarkan serangan umum untuk merebut kembali markas Belanda di jantung kota.

Pertempuran sengit pecah di depan Masjid Jamik (kini Masjid Agung Asy-Syuhada'). Meskipun persenjataan tak seimbang, para pejuang bertempur dengan gagah berani hingga puluhan di antaranya gugur sebagai syuhada.

Sebagai bentuk penghormatan, para pejuang yang gugur awalnya dimakamkan secara massal di depan masjid, kini ditandai dengan Tugu Garuda, sebelum akhirnya dipindahkan ke Taman Makam Pahlawan Panglegur.

Nama "Asy-Syuhada'" (para syahid) pun disematkan pada masjid agung tersebut. Monumen Arek Lancor kemudian didirikan pada tahun 1985 sebagai pengingat abadi atas semangat dan pengorbanan rakyat Pamekasan dalam mempertahankan kemerdekaan.

Fungsi Ruang Publik

Kini, Monumen Arek Lancor menjadi ruang terbuka yang dinamis. Setiap akhir pekan, kawasan ini dipenuhi keluarga, anak muda, hingga lansia yang datang untuk j alan-jalan, berfoto, atau sekadar duduk menikmati udara kota. Warga menjadikan monumen ini destinasi rekreasi urban yang tak pernah sepi, terutama saat libur.

Selain menjadi tempat rekreasi, kawasan monumen juga kerap digunakan untuk kegiatan keagamaan massal seperti salat Id, serta upacara kenegaraan pada momen penting. Karena itu, tata kelola ruang, kebersihan, dan keamanan menjadi prioritas bagi pemerintah daerah agar semua kegiatan berlangsung tertib dan khidmat.

Tingginya aktivitas warga di sekitar Monumen Arek Lancor membuat kawasan ini tak lepas dari berbagai tantangan pengelolaan, terutama soal kebersihan dan ketertiban. Menjawab keluhan warga pada awal 2025, Pemkab Pamekasan melalui Satpol PP menertibkan pedagang kaki lima dan penjual buah di area monumen.

Langkah ini diambil untuk mengembalikan kenyamanan, kebersihan, dan kerapian ruang publik. Hasilnya, kawasan monumen kini tampak lebih tertata dan bersih, menghadirkan kembali suasana yang nyaman bagi pengunjung.

Penertiban juga bekerja sama dengan dinas untuk pemeliharaan rutin, dari pembersihan taman, perawatan tanaman hias, hingga pengaturan lalu lintas di sekitar bundaran. Upaya tersebut mencerminkan komitmen pemda dalam menata ruang publik yang tertib, sekaligus menjaga nilai historis yang melekat pada monumen.

Melalui penataan berkelanjutan dan keterlibatan aktif masyarakat, Monumen Arek Lancor terus dijaga agar tetap representatif, bersih, dan nyaman. Dengan nilai sejarah yang kuat serta fungsi sosial yang hidup, monumen ini menjadi kebanggaan Pamekasan, ikon perjuangan yang relevan bagi setiap generasi.

Artikel ini ditulis oleh Muhammad Faishal Haq, peserta magang PRIMA Kemenag di detikcom.




(irb/hil)


Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads