Waspada Pohon Tumbang Saat Angin Kencang, Ini Mitigasi yang Perlu Diperhatikan

Waspada Pohon Tumbang Saat Angin Kencang, Ini Mitigasi yang Perlu Diperhatikan

Aprilia Devi - detikJatim
Selasa, 14 Okt 2025 22:30 WIB
Setelah beberapa hari diguyur hujan, langit Ibu Kota sore tadi menampilkan senja yang mempesona. Beberapa warga bahkan menyempatkan diri untuk mengabadikan momen.
Ilustrasi pancaroba (Foto: Rifkianto Nugroho)
Surabaya -

Awal musim hujan diprediksi akan terjadi di Jawa Timur mulai Oktober 2025 ini. Di tengah masa peralihan atau pancaroba, cuaca ekstrem termasuk terjadinya angin kencang rawan terjadi.

Peneliti senior dari Pusat Penelitian Mitigasi Kebencanaan dan Perubahan Iklim (Puslit MKPI) ITS Amien Widodo menyebut bawa BMKG kerap mengingatkan terkait potensi terjadinya angin kencang pada masa peralihan musim.

"BMKG selalu mengingatkan perubahan musim kemarau ke musim hujan (pancaroba) akan diikuti angin kencang," ujar Amien, Selasa (14/10/2025).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurutnya, kondisi ini juga dipengaruhi dengan fenomena La Nina di Pasifik yang dapat meningkatkan intensitas hujan serta meluasnya wilayah yang terdampak angin kencang.

Amien mencatat bahwa dalam dua tahun terakhir, tren pohon tumbang meningkat. Jika sebelumnya kejadian pohon tumbang hanya terjadi di satu-dua lokasi, kini sebarannya lebih luas dan jumlah pohon yang roboh semakin banyak. Tak hanya itu, dampaknya pun mulai memakan korban.

ADVERTISEMENT

"Ini artinya kekuatan angin semakin besar dan frekuensi kejadian tinggi serta dampaknya besar karena ada korban manusia dan kerusakan," ungkap Amien.

Ia menambahkan, menurut ilmu manajemen risiko, situasi seperti ini sudah dikategorikan sebagai risiko tinggi.

Salah satu hal yang menjadi perhatian serius dalam mitigasi bencana adalah kondisi pohon-pohon di lingkungan padat aktivitas manusia. Pohon-pohon di pinggir jalan, taman kota, sekolah, hingga kantor-kantor, menurut Amien, seharusnya tidak dibiarkan begitu saja.

"Pohon seperti makhluk hidup lainnya akan menua dan kropos serta bisa dimakan rayap. Oleh karena posisinya berdekatan dengan manusia, maka pohon tersebut mestinya diberlakukan seperti bangunan," jelasnya.

Artinya, pohon perlu mendapat perlakuan khusus berupa pemeriksaan berkala, pemangkasan jika perlu, monitoring kondisi, hingga peremajaan atau penggantian pohon.

"Kalau sekiranya kondisi pohon sudah rawan roboh dan membahayakan masyarakat di sekitarnya, maka segera ditebang dan diganti yang baru," tambahnya.

Amien menegaskan bahwa dalam banyak kasus, bukan angin kencang yang sepenuhnya menjadi penyebab pohon tumbang. Namun bisa jadi kondisi fisik pohon itu sendiri yang bermasalah.

"Kita bisa melihat dengan kasat mata bahwa saat angin puting beliung lewat, tidak semua pohon tumbang. Ini berarti bukan angin yang menyebabkan pohon itu tumbang, tapi pohon yang tumbang tersebut bermasalah," bebernya.

Hasil kajian di lapangan, kata dia, menunjukkan sejumlah penyebab utama pohon tumbang. Pertama, banyak pohon peneduh yang sudah tua dan tidak tumbuh lagi.

Kemudian beberapa pohon ditemukan keropos di bagian tengah karena dimakan rayap, atau batang serta cabangnya mulai rapuh dan kering. Ketiga, banyak pohon yang memiliki kanopi terlalu lebar
dan berat sebelah, sehingga pohon mulai doyong atau miring ke satu sisi.

Faktor keempat yang tak kalah penting adalah metode penanaman. Amien menyebut, sebagian besar pohon peneduh di pinggir jalan ditanam bukan dari bibit, melainkan dari stek. Hal ini umumnya hanya mengembangkan akar menyamping, sebagaimana terlihat dari banyaknya trotoar yang retak-retak.

Melihat potensi bahayanya, Amien menegaskan bahwa pemerintah tidak boleh mengabaikan persoalan ini.

"Waktunya berkeliling memeriksa pohon-pohon. Jangan biarkan angin menumbangkan pohon tanpa arah dan membahayakan orang, rumah, kendaraan, jalur listrik, jalur komunikasi, dan lain-lain," pungkasnya.




(auh/abq)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads