Stok Gula Menumpuk di PG Kremboong, Petani Tebu Terancam Seret Modal

Stok Gula Menumpuk di PG Kremboong, Petani Tebu Terancam Seret Modal

Suparno - detikJatim
Jumat, 29 Agu 2025 08:15 WIB
Stok gula menumpuk di Pabrik Gula (PG) Kremboong
Stok gula menumpuk di Pabrik Gula (PG) Kremboong. (Foto: Suparno/detikJatim)
Sidoarjo -

Stok gula Pabrik Gula (PG) Kremboong, di bawah PT Sinergi Gula Nusantara menumpuk hingga mencapai 1.000 ton. Gula-gula ini merupakan hasil giling dari musim panen Mei hingga Agustus 2025 yang belum terserap oleh pasar, bahkan sebagian besar belum diambil oleh pembelinya. Hal ini berimbas langsung pada seretnya arus modal di kalangan petani tebu.

"Stok kita per hari ini sekitar 1.000 ton belum terjual, dan sekitar 2.000 ton sudah laku tapi belum diambil oleh pembeli," ungkap Manager Keuangan dan Umum PG Kremboong, Bustony Choiri, saat ditemui detikJatim di kantornya, Kamis (28/8/2025).

Menurut Bustony, kondisi ini bukan tanpa sebab. Salah satunya karena PG Kremboong tidak termasuk dalam tujuh pabrik gula yang gulanya akan diserap oleh Danantara senilai Rp1,5 triliun. Danantara hanya membeli dari pabrik-pabrik gula milik PT Sinergi Gula Nusantara (SGN) seperti PG Assembagoes, Pradjekan, Semboro, IGG, Gempol Krep, Ngadirejo, dan Pesantren Baru. PG Kremboong sendiri berada di bawah PT Perkebunan Nusantara (PTPN) X, bagian dari BUMN Holding Perkebunan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Padahal, stok gula kita hasil dari gilingan tebu milik petani. Saat ini, harga acuan pembelian di angka Rp14.500 per kilogram, tapi pembeli banyak yang menahan karena khawatir tidak bisa jual kembali dengan margin yang layak," ujar Bustony.

Lebih jauh, Bustony menjelaskan bahwa sistem kemitraan antara PG Kremboong dengan petani bersifat bagi hasil, bukan jual beli langsung. Petani mendapatkan sekitar 70% dari total produksi, sisanya milik pabrik. Gula milik petani ini kemudian dilelang oleh koperasi petani, dan hasilnya dikembalikan ke mereka.

ADVERTISEMENT

Namun, karena gula menumpuk di gudang dan belum diambil, arus kas petani terganggu. "Mereka butuh uang untuk panen berikutnya. Kalau gulanya belum terjual atau belum diambil, uangnya juga belum mereka pegang," paparnya.

Masalah lainnya, menurut Bustony, adalah keberadaan gula rafinasi yang masuk ke pasar konsumsi. Gula rafinasi seharusnya hanya untuk industri makanan dan minuman, namun kenyataannya merembes ke pasar umum dan dijual dengan harga lebih murah. Hal ini memicu persaingan tidak sehat dan mempersulit gula petani untuk bersaing.

"Regulasi sebenarnya sudah jelas, tapi pengawasan yang lemah membuat gula rafinasi masuk ke pasar konsumsi. Ini bikin harga gula petani tertekan," jelasnya.

PG Kremboong sendiri memiliki kapasitas giling tebu sebesar 2.400-2.500 ton per hari, menghasilkan sekitar 120-160 ton gula kristal per hari selama musim giling. Namun, tingginya pasokan dari berbagai daerah seperti Mojokerto, Malang, Pasuruan, hingga Lumajang, memperburuk kondisi ketika pasar tak mampu menyerap.

"Gula itu salah satu sembako. Sensitif terhadap harga. Kalau ada yang lebih murah, pasti orang pilih yang lebih murah," tambahnya.

Sementara itu, petani dan koperasi dikabarkan telah mengirimkan perwakilan ke DPR dan mengikuti forum di Surabaya untuk menuntut pembatasan distribusi gula rafinasi di pasar konsumsi. Salah satu usulan solusinya adalah agar penjualan gula petani dilakukan satu pintu agar harga lebih stabil.

Bustony berharap pemerintah dan pemangku kebijakan segera turun tangan agar ekosistem gula nasional tetap sehat. "Kalau kondisi ini dibiarkan, petani bisa berhenti tanam tebu. Padahal, ini soal ketahanan pangan kita sendiri," pungkasnya.




(auh/hil)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads