Fakta Demo Mahasiswa Surabaya Tolak Efisiensi Pendidikan Berujung Ricuh

Fakta Demo Mahasiswa Surabaya Tolak Efisiensi Pendidikan Berujung Ricuh

Fatichatun Nadhiroh - detikJatim
Selasa, 18 Feb 2025 12:10 WIB
Ribuan Mahasiswa Surabaya Geruduk DPRD Jatim Tolak Efisiensi Pendidikan
Demo mahasiswa Surabaya tolak efisiensi pendidikan berujung ricuh (Foto: Esti Widiyana/detikJatim)
Surabaya -

Ribuan mahasiswa di Surabaya melakukan aksi tolak efisiensi pendidikan di DPRD Jatim Jalan Indrapura. Aksi mahasiswa Unair, Unesa, UINSA, Untag, UPN, hingga Unitomo tersebut diwarnai kericuhan hingga polisi menyemprotkan water cannon untuk memukul mundur massa mahasiswa.

Kericuhan dipicu lantaran mahasiswa membakar keranda, namun polisi berusaha memadamkan api.

Berikut Fakta-faktanya:

1. Mahasiswa Surabaya Turun ke Jalan Tolak Efisiensi

Ribuan mahasiswa di Surabaya melakukan aksi tolak efisiensi pemerintah di DPRD Jatim Jalan Indrapura. Aksi dari mahasiswa Unair, Unesa, UINSA, Untag, UPN, hingga Unitomo ini awalnya berjalan kondusif dan bergantian orasi.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Kami menyoroti keputusan sektor pendidikan tidak becus sama sekali. Kami menuntut dewan pelayan rakyat mendengarkan aspirasi kami. Kami datang ke sini bukan tidak bawa apa-apa, tapi bawa tuntutan. Kami tidak mau negara kita bobrok dan kalah dengan negra lain. Hari ini pendidikan telah dipersekusi lagi," kata salah satu orator dari Unesa, Senin (17/2/2025).

"Kami tidak butuh makan siang gratis jika pendidikan kian miris!" Serunya diikuti riuh rendah suara massa mahasiswa.

ADVERTISEMENT

2. Mahasiswa Bentangkan Poster Tolak Kebijakan Pemerintah

Mahasiswa membawa sejumlah kertas berisi tulisan yang mengaspirasikan kekecewaan terhadap pemerintahan Prabowo-Gibran. Tulisan itu seperti 'Bubarkan Negara', 'Prabowo Impoten', 'Pak Prabowo Kami Butuh Pendidikan Gratis Bukan Makan Siang Gratis', 'Batalkan Efisiensi Anggaran Pendidikan'.

Lalu ada yang menuliskan kalimat 'Pemerintah Bablas Anggaran Dipangkas Konstitusi Dilibas #IndonesiaGelapMatiLampu' beserta gambar yang dinamai 'fufufafa'.

3. Polisi Padamkan Api Saat Mahasiswa Bakar Keranda Picu Kericuhan

Mahasiswa membawa keranda bertuliskan 'Indonesia Gelap' mengumpulkan banner dan kertas berisi sejumlah tuntutan yang mereka bawa dan mulai membakarnya. Mahasiswa ini ternyata membekali diri dengan bensin dalam botol air mineral untuk mempercepat nyala api.

Begitu api dari pembakaran keranda dan banner semakin besar dan asapnya semakin tebal, polisi turun tangan. Sejumlah petugas berupaya memadamkan api dengan menyiramkan air. Hal ini justru memicu amarah beberapa mahasiswa. Mereka mulai melemparkan botol ke arah petugas. Aksi ini memancing mahasiswa lain untuk melakukan hal yang sama sehingga petugas kembali harus melakukan tindakan.

Tampak sejumlah petugas berupaya menghalau mahasiswa dengan menghampiri massa. Pada saat itulah beberapa mahasiswa nyaris terpancing emosi untuk melakukan kekerasan tapi diingatkan oleh orator di atas mobil komando.

"Jangan terpancing, jangan terpancing!" kata orator tersebut, Senin (17/2/2025).

4. Polisi Pukul Mundur Mahasiswa dengan Semprotkan Air Water Cannon

Ketegangan di DPRD Jatim pecah menjadi kericuhan. Polisi mulai menembakkan air dari kendaraan water cannon yang berada di dalam halaman DPRD Jatim untuk mengusir mahasiswa yang terus berupaya merangsek masuk.

Massa mahasiswa sendiri terus melemparkan botol air mineral hingga kayu ke arah polisi. Sembari terus menyemprotkan air itu polisi melalui pengeras suara meminta mahasiswa mundur dan tidak memaksa masuk ke halaman DPRD.

"Kawan-kawan, kondusif kawan-kawan. Setop melemparkan botol atau kayu. Kawan-kawan saya minta kondusif!" seru orator berupaya menenangkan massa, Senin (17/2/2025) sore.

5. Mahasiswa Desak Ketua DPRD Jatim Hubungi Seskab Mayor Teddy

Ketua DPRD Jatim Musyafak Rouf tiba dari Jombang untuk menemui mahasiswa di depan Gedung DPRD Jatim. Musyafak tiba di Gedung DPRD Jatim menemui ribuan mahasiswa itu dari balik pagar kawat. Tetapi mahasiswa tidak ingin berdiskusi terhalang kawat.

Musyafak naik ke atas mobil komando dan sempat menandatangani tuntutan bersama. Dia juga sempat memenuhi permintaan mahasiswa untuk menelepon presiden, Ketua DPR RI, atau Sekretaris Kabinet Merah Putih.

Didampingi Sekretaris DPRD Jatim Ali Kuncoro, Musyafak menelepon Mayor Teddy di hadapan orator dan sejumlah koordinator lapangan massa aksi mahasiswa dari berbagai kampus di Surabaya.

Setelah menunggu beberapa waktu, orator yang memegang ponsel milik Musyafak menunjukkan kepada massa bahwa ternyata sambungan telepon dari ponsel Musyafak ditolak oleh Mayor Teddy.

"Sayangnya Mayor Teddy menolak panggilan ini, kawan-kawan," ujar orator diikuti riuh rendah suara 'huu' menandakan kekecewaan massa.

6. Ketua DPRD Jatim Gagal Hubungi Seskab Mayor Teddy

Musyafak kembali menyatakan bahwa dirinya juga tidak mempunyai nomor Seskab Mayor Teddy. Hingga Sekretaris DPRD Jatim M Ali Kuncoro menunjukkan ponselnya dan mengaku dia punya nomor Mayor Teddy. Sayangnya, sambungan telepon itu ditolak oleh Mayor Teddy.

"Sayangnya Mayor Teddy menolak panggilan ini, kawan-kawan," ujar Presiden BEM Unair, Aulia Thaariq Akbar diikuti riuh rendah suara 'huu' dari mahasiswa yang berunjuk rasa menandakan kekecewaan mereka.

Kali itu, Musyafak tidak bisa memenuhi tuntutan mahasiswa. Bukan karena apa, dia beralasan bahwa dirinya tidak memiliki nomor telepon Presiden Prabowo maupun Ketua DPR RI Puan Maharani.

"Saya nggak punya teleponnya Mbak Puan, saya ndak punya nomor teleponnya Pak Prabowo. Maaf saya ndak punya. Demi Allah saya orang Islam, nggak duwe (Tidak punya)," jawab Musyafak.




(dpe/fat)


Hide Ads