Wapres Hadiri Napak Tilas Konfederasi Sarbumusi di Sidoarjo

Suparno - detikJatim
Jumat, 30 Sep 2022 13:30 WIB
Wapres Maruf Amin
Wapres Maruf Amin (Foto: Suparno/detikJatim)
Sidoarjo -

Wakil Presiden (Wapres) KH Maruf Amin menghadiri napak tilas dan peringatan ke-67 harlah Konfederasi Serikat Buruh Muslimin Indonesia (K- Sarbumusi) di Sidoarjo. Turut mendampingi Menaker Ida Fauziah.

Maruf Amin tiba sekitar pukul 09.25 WIB, Wapres beserta rombongan tiba di Graha Mahar Agung di Kecamatan Tulangan Sidoarjo. Turut hadir dalam rombongan Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, beserta jajaran Anggota Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Provinsi Jawa Timur, dan Forkopimda Sidoarjo.

K-Sarbumusi merupakan serikat buruh yang didirikan oleh ulama Nahdhatul Ulama (NU) pada 27 September 1955 di Pabrik Gula Kecamatan Tulangan Sidoarjo. Organisasi ini merupakan badan otonom NU yang beranggotakan buruh, karyawan, dan tenaga kerja.

Dalam sambutannya Wapres Ma'ruf Amin mengatakan bahwa dirinya hari ini menghadiri Napak Tilas dan Harlah ke-67 K-Sarbumusi di Sidoarjo. Dengan Napak Tilas ini Wapres merasa bangga, teringat ketika saat masih menjadi anggota ranting Ansor. Dirinya pernah menjadi pengurus ranting Ansor hingga menjadi Rois Am PBNU.

"Saat kami menjadi Ketua ranting Ansor, K-Sarbumusi sudah sangat luar biasa. Satu-satunya organisasi yang bisa menandingi SOBSI. Serikat Buruhnya PKI, karena itu dengan Napak Tilas ini kita mulai membangun kembali kejayaan Sarbumusi di masa yang akan datang dan dengan pola yang berbeda, serta orientasi harus berbeda sesuai dengan tantangan yang di hadapi sekarang," kata Ma'ruf dalam sambutannya di Tulangan Sidoarjo, Jumat (30/9/2022).

Ma'ruf menjelaskan kehadiran dirinya juga merupakan perwakilan Presiden Jokowi yang kini tengah bersiap dalam pertemuan G-20 di Bali. Dalam pesannya, Amin menyampaikan bahwa dunia tengah dilanda ancaman berbagai krisis. Tak terkecuali mengenai ketenagakerjaan. Karena selain akibat digitalisasi, selama dua tahun ini juga dihantam oleh pandemi COVID-19.

"Selama Pandemi COVID-19, dunia kerja global memperlihatkan kerentanan akan disrupsi yang terjadi di bidang sosial-ekonomi, khususnya bagi pekerja migran, pekerja perempuan, pekerja informal dan pekerja dengan disabilitas. Dunia Kerja Baru yang menjadikan pekerja sebagai pusatnya menuntut upaya pemulihan yang juga berpusat pada pekerja, yaitu dengan memperhatikan hak, kebutuhan dan aspirasi buruh. Hal ini sejalan dengan mandat Deklarasi 100 Tahun Organisasi Perburuhan Internasional atau ILO," ujar Ma'ruf.

Pemerintah, pengusaha dan buruh, lanjut Amin, mesti memperbarui komitmen bersama untuk memantapkan kesiapan pekerja dalam mengatasi dampak krisis dan menghadapi dunia kerja di masa depan. Apalagi saat ini, kita memiliki visi besar untuk mewujudkan Indonesia Maju. Tenaga kerja yang produktif, memiliki kapasitas dan kapabilitas, serta tahan dan adaptif dalam situasi yang terus berubah, tentunya sangat dibutuhkan untuk mewujudkan visi tersebut.

Sebagaimana rekomendasi organisasi buruh dunia (ILO), dialog sosial menjadi mekanisme yang paling efektif dalam menyampaikan masukan-masukan untuk merumuskan kebijakan dalam merespons tantangan di bidang ketenagakerjaan. Studi yang dilakukan ILO pada tahun 2021 di 133 negara menunjukkan bahwa serikat buruh berkolaborasi dengan Pemerintah dan pengusaha melalui dialog sosial untuk merumuskan kebijakan, baik di tingkat nasional maupun internasional dalam memperkuat kapasitas pekerja saat krisis menerpa, maupun dalam menyusun strategi jangka panjang untuk mengatasi dampak krisis.

Dialog sosial untuk mencari solusi bersama atas beragam masalah ketenagakerjaan menjadi salah satu pilar dari panduan ILO dalam menghadapi dampak krisis pandemi COVID-19. Selain memperhatikan visi, agenda dan tren global di bidang ketenagakerjaan tersebut, saya harap seluruh anggota K-Sarbumusi juga terus memegang teguh nilai-nilai dan paham Nahdliyin dalam merespons berbagai persoalan.

Menurut Amin, Nahdlatul Ulama menganut paham ahlussunah wal jama'ah yang memiliki pola pikir mengambil jalan tengah antara aqli dan naqli. Inilah identitas Nahdliyin. Kerangka berpikir Nahdliyin disebut fikrah nahdliyah yang dilandaskan pada khittah nahdliyah dalam menentukan arah perjuangan untuk mewujudkan ishlah-al-ummah atau perbaikan umat.

Dialog sosial yang dimandatkan ILO sesungguhnya selaras dengan cara berpikir NU tersebut. Dialog sosial akan menunjang kohesi sosial yang akan berkontribusi pada berfungsinya perekonomian untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat, khususnya pekerja. Ini juga yang diinginkan NU, kebaikan dan perbaikan bagi umat, bangsa dan negara.

"Oleh karena itu, di peringatan hari lahir ke-67 K-Sarbumusi ini, saya ingin menyampaikan apresiasi atas kiprah K-Sarbumusi sebagai badan otonom NU sejak tahun 1955, sehingga K-Sarbumusi menjadi salah satu dari lima organisasi pekerja terbesar di Indonesia dengan jumlah keanggotaan mencapai ratusan ribu orang. Hal itu menjadi modalitas yang sangat penting bagi K-Sarbumusi untuk menjadi mesin penggerak transformasi pekerja yang kita harapkan bersama," tandas Ma'ruf.



Simak Video "Ma'ruf Amin Wanti-wanti Santri dan NU Tak Boleh Cari-cari Jabatan"
[Gambas:Video 20detik]
(abq/iwd)