Takut Atap Ambruk, Siswa SDN 2 Karangpatihan Ponorogo Belajar di Tenda

Takut Atap Ambruk, Siswa SDN 2 Karangpatihan Ponorogo Belajar di Tenda

Charolin Pebrianti - detikJatim
Jumat, 26 Agu 2022 12:49 WIB
Kondisi SDN 2 Karangpatihan, Pulung.
Siswa belajar di dalam tenda (Foto: Charolin Pebrianti/detikJatim)
Ponorogo -

Puluhan siswa SDN 2 Karangpatihan, Pulung, Ponorogo terpaksa belajar di tenda darurat. Mereka takut sewaktu-waktu kelas mereka ambrol karena bangunan dan atap sudah rapuh.

Pantauan detikJatim, ada tiga kelas yang belajar di tenda. Yakni kelas 1, 3, dan 4. Sementara kelas 2, 5, dan 6 belajar di dalam kelas. Pemindahan ini terpaksa dilakukan karena ruangan kelas rawan ambrol.

Baik dari dinding maupun atapnya tampak rawan ambrol. Bahkan saat angin kencang kerap kali atapnya berbunyi hingga membuat para siswa ketakutan.

"Belajar di tenda rasanya panas, nggak nyaman, ramai juga. Tapi kalau di kelas takut ambruk," tutur siswa kelas 4 Calista Dwi Nadila Alwahida kepada wartawan, Jumat (26/8/2022).

Calista bersama teman-temannya pun berharap sekolahnya bisa diperbaiki. Agar belajarnya lebih nyaman dan aman. Sebab, saat kelas digabung otomatis konsentrasi belajar jadi terganggu.

"Maunya sekolahnya dibangun lagi yang bagus biar bisa sekolah yang enak," terang Calista.

Sementara, salah satu Guru, Nurhadi mengatakan rehab terakhir di tahun 2009 hanya memperbaiki jendela dan tembok dipasang keramik.

"Saya mengajar dari tahun 2005, tahun 2009 ada perbaikan sedikit bagian jendela dan tembok. Kalau atap belum," ujar Nurhadi.

Kondisi SDN 2 Karangpatihan, Pulung.Kondisi SDN 2 Karangpatihan, Pulung. Foto: Charolin Pebrianti/detikJatim

Menurutnya, ruangan kelas terpaksa tidak dipakai karena rawan ambruk terutama bagian atap. Saat angin kencang selalu ada bunyi kretek-kretek dari atas.

"Siswa takut belajar di dalam kelas, takut ambrol," kata Nurhadi.

Akhirnya sekolah berusaha meminjam tenda darurat dari BPBD Ponorogo untuk belajar siswa. Namun langkah ini kurang efisien, sebab ada tiga kelas di dalam tenda. Ditambah suasana panas saat siang hari membuat gaduh para siswa.

"Di dalam tenda ini kan ada kelas 1,3 dan 4. Otomatis nggak efisien, jadi satu kan gaduh, gak optimal untuk pembelajarannya, panas juga kalau siang belum lagi kalau hujan," tandas Nurhadi.

Sementara, Komite Sekolah, Ladi menambahkan harapannya segera ada perbaikan gedung sekolah baik dari Pemkab maupun pusat. Sebab, sekolah ini penting untuk keberlangsungan belajar para siswa.

"Kalau tenda suatu saat diminta BPBD, wali murid siap patungan untuk beli tenda. Ini untuk menjaga anak kami terhindar dari bahaya," papar Ladi.

Ladi pun berharap segera ada solusi terkait permasalahan ini. Pasalnya, para siswa kerapkali mengeluh tidak konsentrasi saat belajar karena kondisi panas di dalam tenda.

"Total ada 4 ruangan yang rusak, harapannya segera diperbaiki gedungnya supaya bisa belajar lagi di dalam kelas," pungkas Ladi.



Simak Video "Perkembangan Kasus Siswa SD Di-bully Kakak Kelas Hingga Koma"
[Gambas:Video 20detik]
(dpe/iwd)