Kabar Kesehatan

Sikap Orang Tua ketika Anak Terpapar Berita Irjen Ferdy Sambo

Tim detikHealth - detikJatim
Kamis, 11 Agu 2022 03:03 WIB
Anggota Brimob berjaga di kediaman pribadi mantan Kadiv Propam Polri Irjen Pol Ferdy Sambo, Duren Tiga, Jakarta Selatan, Selasa (9/8/2022). Tim khusus Polri melakukan penggeledahan di rumah pribadi Irjen Pol Ferdy Sambo yang oleh TImsus Polri telah ditetapkan sebagai tersangka kasus pembunuhan Brigadir J atau Brigadir Nofriansyah Yoshua Hutabarat. ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan/aww.
Brimob geledah rumah Ferdy Sambo. (Foto: ANTARA FOTO/SIGID KURNIAWAN)
Surabaya -

Seperti disebutkan oleh Menko Polhukam Mahfud Md, motif Irjen Ferdy Sambo di balik pembunuhan Brigadir Nofriansyah Yoshua Hutabarat (Brigadir J) bersifat sensitif. Kemungkinan hanya boleh didengar orang dewasa. Mengingat, motif di balik kasus itu hingga kini masih menjadi 'tebak-tebakan'.

"Soal motif, biar nanti dikonstruksi hukumnya karena itu sensitif, mungkin hanya boleh didengar oleh orang-orang dewasa," kata Mahfud dalam jumpa pers di Kemenko Polhukam, Selasa (9/8/2022), dikutip dari detikNews.

Selain pernyataan tersebut, banyak terungkap pula skenario pembunuhan berencana itu yang kental dengan kekerasan. Karena banyak diberitakan, mau tidak mau anak-anak juga ikut terpapar detail-detail perbuatan kriminal yang pastinya tidak ramah anak.

Psikolog Anak dan Keluarga Anna Surti Ariani, SPsi, MSi, Psi, atau yang akrab disapa 'Nina' menjelaskan memang ada beberapa informasi yang tidak bisa sembarangan diakses, didengarkan, atau ditonton anak-anak tanpa pengawasan orangtua. Misalnya berita terkait pembunuhan, horor, pornografi, atau seks yang vulgar.

Sebab, tanpa arahan orang dewasa anak mungkin memiliki pemahaman atau interpretasi yang salah atas pesan yang disampaikan dalam berita. Lebih lagi, anak bisa merasa cemas dan ketakutan.

"(Informasi) pembunuhan diberitakan sampai panjang juga meningkatkan ketakutan (anak berpikir) 'betapa dunia saya tidak aman ada pembunuh yang merajalela'. Atau bahkan ketika ini disebut bahwa ini (pelakunya) polisi, (anak berpikir) berarti polisi tidak menjaga masyarakat malah mencelakai?" Ujarnya kepada detikHealth, Kamis (10/8).

"Bisa saja anak memiliki pemahaman berbeda dan belum tentu baik untuk dirinya. Jadi kalau kita mau mengajak anak menonton berita, memang perlu diterjemahkan dalam bahasa anak dan kita mesti siap untuk mengecek bagaimana sebetulnya ada perubahan apa di anak ketika dia habis mendengar berita tertentu," sambung Nina.

Lantas bagaimana orangtua harus menyikapinya? Baca di halaman selanjutnya.