Penjelasan Dokter Anak soal Risiko Bayi Naik Motor

Tim detikJatim - detikJatim
Minggu, 07 Agu 2022 23:22 WIB
A poor naked unwanted baby doll
Foto: Getty Images/iStockphoto/coolmilo
Surabaya -

Bayi berusia 6 bulan meninggal dunia setelah diajak kedua orang tuanya naik motor dari Tegal demi menonton pertandingan bola di Surabaya. Dokter spesialis anak dr Kurniawan Satria Denta, M,Sc, Sp.A sangat tidak merekomendasikan itu.

"Usia bayi adalah usia yang sangat rentan cedera kepala, leher, tulang belakang, 30% bobot bayi ada di kepalanya dengan leher yang belum mampu menopang kepala secara biomekanik, kepala bayi jadi seperti bandul yang bisa berayun tanpa tahanan yang cukup," kata dr Kurniawan seperti yang dikutip dari akun Twitter @sdenta, Minggu (7/8/2022).

"Akhirnya risikonya sangat tinggi untuk cedera kepala berat, pendarahan otak dan lain-lain, bayi aja bisa risiko second baby syndrome apalagi kalau naik motor," imbuhnya.

Tak hanya cedera kepala, lanjut dr Kurniawan, bayi juga berpotensi mengalami cedera di beberapa bagian tubuh secara bersamaan.

"Risikonya tidak hanya cedera kepala tapi juga trauma multiple alias cedera di beberapa bagian tubuh yang terjadi bersamaan misal patah rusuk tungkai pendarahan rongga perut dan lain-lain," jelasnya.

Ini karena gerak bayi belum bebas. Sehingga saat dibonceng belum bisa memperbaiki posisi tubuhnya. Hal inilah yang membuat potensi cedera pada bayi lebih tinggi.

"Gerak bayi juga belum bebas ketika bayi terkejat karena dibonceng di tengah misalnya, dia belum bisa memperbaiki posisi tubuhnya sendiri jadi makin tinggi lah resiko cedera bayi," tuturnya.

Selain itu, bayi juga bisa mengalami hipotermia atau kedinginan karena embusan angin saat naik motor. Akibatnya, bayi juga bisa mengalami gangguan pernapasan hingga kesadaran.

"Risiko lainnya yang dapat terjadi pada bayi adalah hipotermia atau kedinginan. Bayi nggak boleh kedinginan. Bayi dengan hipotermia resiko tinggi untuk mengalami gangguan pernapasan metabolisme sampai gangguan kesadaran," terang dr Kurniawan.

"Saya tentunya tidak bisa bicara soal kasus yang terjadi. Tapi pada beberapa kasus lain yang pernah saya tangani, cedera kepala pada bayi (atau hipotermia juga) bisa membuat kesadaran bayi menurun. Bayi letoy jadi gak bisa minum, dipaksa minum terjadi aspirasi/tersedak, ya jadi batuk-batuk," sambungnya.

Meski demikian, dr Kurniawan menyebut bukan berarti bayi tidak boleh bepergian. Tapi sejumlah hal harus diperhatikan. Salah satunya kondisi bayi dalam keadaan sehat serta nyaman dan aman. Namun ia tetap tidak menyarankan bayi naik motor baik jarak dekat apalagi jauh.

"Terus apakah ini berarti bayi tidak boleh bepergian? Di rumah aja terus? Tentunya tidak, bayi boleh bepergian selama kondisi bayi sehat dan kita bisa mengatur mode/durasi/rute/logistik yg optimal untuk kenyamanan dan keamanan bayi," paparnya.

"Yang jelas satu, bawa bayi naek motor sangat tidak direkomendasikan. Baik rute dekat maupun rute jarak jauh. Sudah jelas juga aturannya bahwa kendaraan roda dua tidak bisa dinaiki lebih dari dua orang," terang dr Kurniawan.

Sebelumnya, penyesalan mendalam dialami pasangan suami istri (Pasutri) asal Tegal, Jawa Tengah. Keinginan menyaksikan klub bola kesayangannya di Surabaya bersama putrinya yang berusia enam bulan berubah duka.

Dari informasi yang diperoleh detikJatim, pasutri berinisial FJ (38) dan RA (37) itu hendak menonton bola di Surabaya. Ia berangkat membawa serta putrinya yang berusia 6 bulan dari Tegal naik motor.

"Kalau naik mobil habisnya kan sekitar Rp 2 juta. Jadi saya pilih naik motor dari Tegal hari Sabtu (31/7) pukul 17.38 WIB," kata FJ, saat dikonfirmasi detikJatim, Sabtu (8/8/2022).

Dalam perjalanan ke Surabaya, FJ mengaku sudah berhenti sebanyak tiga kali di Kota Pekalongan, Kudus, dan Tuban. Hingga ia pun sampai di Surabaya pukul 07.10 WIB.



Simak Video "Dokter Bicara soal Viral Bayi 6 Bulan Meninggal Usai Dibawa Ortu Motoran"
[Gambas:Video 20detik]
(abq/sun)