Respons Beragam Warga Surabaya saat MUI Jatim Haramkan Paylater

Esti Widiyana - detikJatim
Senin, 01 Agu 2022 07:04 WIB
Ilustrasi PayLater
Paylater (Foto: Shutterstock)
Surabaya -

Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Timur mengharamkan paylater. Ini karena paylater dianggap riba. Lalu, bagaimana pendapat pengguna paylater di Kota Surabaya?

Salah satu warga Surabaya Utara, Sari tidak terlalu mempermasalahkan hal tersebut. Sebab ia merasa bunga dari e-commers yang dipakai masih batas wajar.

"Ga terlalu gimana-gimana ya, yang penting bisa bayar. Cuma menurutku bungae sek wajar kok (bunganya masih wajar kok) dan masuk akal," kata Sari kepada detikJatim, Minggu (31/7/2022).

Ia sendiri sudah mengetahui informasi tersebut. Tetapi ia tidak terlalu mendalami dan mempermasalahkannya.

"Cuma poin kenapa diharamkan belum tak pahami banget. Soalnya baca sebagian sudah merasa terhakimi, karena aku pengguna ya," jelasnya.

Warga Sidoarjo, Qurrotu A'yun (33) mengaku paylater selama ini membantu usaha kecil-kecilan yang dibangun sejak 2 tahun. Dengan paylater dirinya terbantu karena belum memiliki modal.

"Paylater membantu saya yang tidak memiliki modal untuk membuka usaha. Beli sekarang, bayar bulan depan. Bunganya juga ringan, jadi terbantu," ujar ibu dengan satu anak ini.

Sementara Nazila (23) warga Rungkut mengaku dirinya selama pandemi COVID-19 2 tahun memilih memakai paylater. Selain tidak perlu keluar rumah, barang-barang yang dibeli juga relatif murah dibanding di toko.

"Saya kenal paylater sejak pandemi, karena waktu itu tidak boleh kemana-mana dan takut. Jadi saya manfaatkan membeli barang-barang kebutuhan rumah tangga. Bayar tagihannya juga ringan dan alhamdulillah tidak pernah telat," kata ibu muda satu anak yang akrab dipanggil Lala.

Berbeda dengan Sari, warga Menanggal, Purwanto justru setuju dengan MUI Jatim. Ia sendiri mengaku sebagai pengguna paylater.

"Setuju, paylater iku riba dan paylater iku bukannya menolong orang, malah njerumuskan orang biar utange tambah akeh," pungkasnya.

Sebelumnya, Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Timur mengharamkan paylater dengan bunga. Paylater dengan akad hutang piutang dan berbunga, kata MUI Jatim, merupakan riba.

"Sistem paylater dengan menggunakan akad qard atau hutang piutang yang di dalamnya ada ketentuan bunga hukumnya haram dan akadnya tidak sah karena termasuk riba," kata Sekretaris Komisi Fatwa MUI Jatim, KH Sholihin dalam keterangan yang diterima detikJatim, Sabtu (30/7/2022).

Sholihin mengungkapkan, paylater membuat seseorang harus membayarkan pinjaman dengan suku bunga tertentu. Hal ini disebut menyalahgunakan kemajuan teknologi.

"Memanfaatkan kemajuan teknologi digital dalam transaksi pinjam-meminjam merupakan sesuatu yang positif, tapi selama tidak bertentangan dengan tujuan dasar dalam akad pinjaman yaitu menolong sesama dan tidak menyalahi prinsip-prinsip syariah," bebernya.

"Sedangkan yang ada saat ini, sistem paylater dengan menggunakan akad utang piutang dan ada ketentuan bunga, itu hukumnya haram," sambungnya.



Simak Video "Konser Westlife di Surabaya Obati Rindu Fan"
[Gambas:Video 20detik]
(abq/fat)