Firasat Buruk Sang Anak Dapati Bapak Tenggak Racun di Makam Ibu

Tim detikJatim - detikJatim
Rabu, 22 Jun 2022 09:16 WIB
Juragan sepatu tewas tenggak racun dievakuasi (Foto: Enggran Eko Budianto/detikJatim)
Surabaya - Andri Budi Santoso (46), juragan sepatu di Mojokerto nekat mengakhiri hidup dengan menenggak racun tikus dan serangga di makam istrinya. Tewasnya Andri menjawab firasat buruk yang dirasakan sang anak, Bima Prayuganing Santoso (18).

Diketahui, Andri berstatus duda sejak istrinya, Sutiya Ningsih meninggal karena COVID-19 pada 20 Juli 2021. Sehari-hari, ia tinggal bersama tiga anaknya yang duduk di bangku kelas 2 SMK, kelas 1 SMP dan TK nol besar di Dusun/Desa Gedeg.

Bapak tiga anak ini mempunyai 2 industri rumahan sepatu. Pertama di Dusun Gedeg yang manajemennya ia serahkan ke anak sulungnya, Bima Prayuganing Santoso (18). Di tempat ini, korban mempunyai 15 karyawan. Usaha kedua di Dusun Losari, Desa Sidoharjo, Kecamatan Gedeg yang baru berjalan dan ia kelola sendiri.

Bima menuturkan, mendiang bapaknya memang menunjukkan perubahan perilaku akhir-akhir ini. Menurutnya, Andri menjadi lebih pendiam dibandingkan sebelumnya. Namun, korban enggan menceritakan masalah yang ia alami kepada anak-anaknya.

Sehingga Bima tidak mengetahui persis persoalan apa yang mendorong bapaknya nekat bunuh diri. Terlebih lagi tidak ada surat wasiat yang ditinggalkan Andri.

Sejauh yang Bima ketahui, bapaknya kesulitan biaya untuk menikah dengan janda bernama Fitri, warga Dusun Losari, Desa Sidoharjo yang rencananya digelar 3 Juli nanti. Pihak calon istri korban meminta uang Rp 17 juta untuk menggelar resepsi pernikahan.

"Bingung tidak ada dananya, duitnya kan untuk putaran (bisnis) semua. Yang sana (pihak calon istri korban) sudah ngebet. Katanya yang sana minta Rp 17 juta untuk ramai-ramai. Keinginan kami tak perlu ramai-ramai karena sama-sama sudah punya anak. Banyak yang sudah memberi saran, tapi egonya besar bapak itu," jelas Bima, Selasa (21/6/2022).

Perubahan perilaku maupun persoalan yang dialami mendiang bapaknya tetap saja membuat Bima tak menyangka peristiwa tragis itu terjadi. Pelajar kelas 2 SMK ini sempat mempunyai firasat buruk sebelum menerima kabar kematian bapaknya.

"Perasaan saya tidak enak kemarin sore. Saya cerita ke tukang sol kalau perasaan saya tidak enak, tubuh lemas, saya pakai nonton televisi. Setelah magrib saya dikabari (kematian Andri) saat akan memasak untuk karyawan," ungkapnya.

Sebelum bunuh diri, Andri sempat pamit ke Bima untuk mengunjungi calon istrinya pada Senin (20/6) sekitar pukul 11.30 WIB. Juragan sepatu itu pulang sekitar pukul 14.30 WIB membawa bahan-bahan sepatu. Ia kembali meninggalkan rumah sendirian setelah berganti kaus oranye dan celana jeans cokelat.

Menurut Bima, saat itu mendiang bapaknya pergi tanpa pamit. Ia juga tidak mengetahui apa saja yang dibawa korban. Pesan terakhir bapaknya justru ia dengar dari salah seorang karyawan tukang gambar kap sepatu. Melalui pesan tersebut, seolah-olah Andri berpamitan untuk pergi selamanya.

"Tukang gambar bilang ke saya kalau bapak memberi tahu dia untuk gajian berikutnya disuruh minta ke saya langsung. Gajian satu minggu sekali setiap hari Sabtu. Kemarin saya tidak berpikiran macam-macam. Setelah kejadian saya ingat pesan tersebut," tambahnya.

Polisi pun menyimpulkan kematian Andri karena menenggak racun tikus dicampur racun serangga di makam istrinya. Juragan sepatu ini nekat mengakhiri hidupnya karena kesulitan biaya untuk menikah lagi.

Kasi Humas Polres Mojokerto Kota Iptu Khoirul Umam mengatakan, Juru Kunci Makam Islam Dusun/Desa Gedeg, Bambang Utomo (52) semula melihat korban berziarah ke makam istrinya sore tadi sekitar pukul 17.00 WIB. Istri korban, Sutiya Ningsih meninggal karena COVID-19 pada 20 Juli 2021.

Sekitar 30 menit kemudian, Bambang yang kembali ke makam untuk menyalakan lampu, menemukan korban sudah tewas. Andri duduk bersila dengan badan tengkurap di makam sang istri.

Sesudah olah TKP, polisi mengevakuasi jenazah korban ke RSUD RA Basoeni, Gedeg untuk divisum sekitar pukul 19.30 WIB. "Hasil visum menunjukkan korban tewas akibat minum racun tikus dicampur obat serangga," kata Umam kepada detikJatim, Selasa (21/6/2022).

Saat melakukan olah TKP, polisi menemukan 1 saset obat nyamuk cair, 2 bungkus bekas racun tikus, 1 saset sisa obat nyamuk cair, 1 kantong plastik ikan hias, 1 gunting, sepasang sandal korban, serta bekas muntahan korban.

"Korban depresi jelang pernikahan 3 Juli 2022 belum mempunyai biaya," jelas Umam.

Andri berencana menikahi Fitri, janda asal Dusun Losari, Desa Sidoharjo, Kecamatan Gedeg. Namun, duda anak tiga itu kesulitan memenuhi biaya pernikahan Rp 17 juta yang diminta keluarga calon istrinya.

Karena uang korban diputar untuk bisnis produksi sepatu. Andri mempunyai 2 industri rumahan sepatu di rumahnya, Dusun/Desa Gedeg dan di Dusun Losari, Desa Sidoharjo.

Setelah divisum, polisi langsung menyerahkan jenazah Andri kepada keluarganya untuk dimakamkan sekitar pukul 20.30 WIB. Karena anak sulung dan adik kandung korban menolak autopsi.

"Pihak keluarga menerima kejadian tersebut, mereka membuat surat pernyataan menolak autopsi," tandas Umam.

Simak Video "Komnas Perempuan: Sulit Tangani Kasus Kekerasan yang Libatkan Polisi"


(hil/fat)
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Foto

detikNetwork