15 Daerah Bebas PMK di Jatim Bisa Suplai Kebutuhan Daging Sapi

Faiq Azmi - detikJatim
Rabu, 25 Mei 2022 21:43 WIB
Gubernur Jatim, Khofifah Indar Parawansa di kampus pusvetma
Gubernur Khofifah bersama tim pusvetma (Foto: Faiq Azmi/detikJatim)
Surabaya -

Gubernur Jatim, Khofifah Indar Parawansa memastikan ada 15 kabupaten/kota masuk zona hijau penyakit kuku dan mulut (PMK). 15 daerah ini tetap bisa mensuplai kebutuhan daging sapi utamanya menjelang Idul Adha.

"Daerah yang masih hijau tetap memungkinkan untuk mensuplai sapi mereka. Tentu ada dokter hewan yang akan melakukan pemeriksaan sebelum naik kapal (kalau sapi dikirim ke luar provinsi), bisa lewat Pelabuhan Kalianget. Nanti apa lewat Probolinggo, lalu ke daerah tujuan. Proses ini sekarang sedang dibahas, kalau memungkinkan kita akan minta izin kepada Menhub," kata Khofifah usai rapat koordinasi tertutup dengan Pusat Veteriner Farma (Pusvetma) di Surabaya, Rabu (25/5/2022).

Khofifah menegaskan bahwa kabupaten/kota berstatus zona hijau PMK tersebut, hewan ternaknya dipastikan tetap terlindungi dan bisa menyuplai kebutuhan sapi bagi daerah yang memerlukan. Termasuk untuk hewan kurban Idul Adha.

"Pusvetma dan Tim Pakar saya minta membuat exercise secara lebih detail terutama melakukan proteksi terhadap 15 kabupaten kota yang saat ini masuk kategori zona hijau," ungkapnya.

Berdasarkan data Disnak Jatim, 15 Kab/Kota yang masuk dalam kategori zona hijau PMK meliputi Sampang, Pamekasan, Sumenep, Banyuwangi, Situbondo, Ngawi, Pacitan, Tulungagung, Trenggalek, Ponorogo, Nganjuk, Kota Kediri, Kabupaten Kediri, Kota Blitar, dan Kabupaten Blitar. Sedangkan 23 kabupaten/kota lainya di Jatim masuk wilayah zona kuning PMK.

"Nah kita lindungi kota/kabupaten yang berbatasan langsung dengan wilayah zona kuning atau merah. Karena kita lihat, beberapa daerah misalnya Pangkal Pinang itu suplai sapinya dari Madura. Sehingga perlu kita pikirkan bagaimana tetap bisa suplai ke sana secara aman," katanya.

Proteksi yang dimaksud misalnya dengan pengiriman sapi melalui jalur penyebrangan laut. Tentunya dengan tidak melewati kawasan zona kuning. "Bahkan kalau memungkinkan nanti kita minta izin ke Menteri Perhubungan untuk bisa direct," imbuh Khofifah.

Dirinya kemudian juga menambahkan bahwa mobilitas pengiriman hewan ternak di daerah mataraman juga perlu diproteksi dengan baik. Misalnya dengan tidak mengirimkan hewan ternak yang dari zona kuning melewati daerah zona hijau.

"Nah proteksi-proteksi seperti ini membutuhkan komitmen kita semuanya. Apakah dari kabupaten atau Kota, Camat sampai di tingkat desa, babinsa, babinkamtibmas, sama-sama kita menjaga," tuturnya

"Maka melalui momen ini saya rasa kita semua harus memiliki tujuan dan pemikiran yang sama. Agar semua pihak hingga lini terbawah bisa bergerak dan mengendalikan penyebaran PMK," imbuhnya.

Komitmen untuk melakukan proteksi di wilayah yang masih tergolong zona hijau PMK menurut Khofifah adalah upaya untuk menghindari para jagal yang masuk ke desa-desa dan menawar ternak dengan harga yang sangat murah.

"Ini mendekati momen Idul Adha, kita harus cegah para pembeli sapi khususnya jagal yang mulai masuk ke desa-desa dan menawar sapi dengan harga sangat murah. Kita jaga dan lindungi agar peternak tetap tenang," ujarnya.

Berdasarkan data Posko Terpadu Penanganan PMK Hewan Ternak Pemprov Jatim per tanggal 24 Mei 2022, sebanyak 8.794 sapi terjangkit PMK. Dari total tersebut sebanyak 1.482 sapi telah dinyatakan sembuh dari PMK.

Untuk sebaran kasus PMK di Jatim, 5 Wilayah yang tercatat memiliki jumlah kasus PMK Hewan Ternak aktif yakni Lumajang dengan 1.595 kasus, Gresik dengan 1.531 kasus, Mojokerto dengan 1.175 kasus, Probolinggo dengan 972 kasus, dan Sidoarjo 862 kasus.



Simak Video "Cerita Peternak Lumajang yang Sapinya Kena Penyakit Mulut dan Kuku"
[Gambas:Video 20detik]
(fat/fat)