Tak Hanya Bermukim, Warga Juga Kerap Berjualan di Bantaran Rel Surabaya

Praditya Fauzi Rahman - detikJatim
Sabtu, 21 Mei 2022 18:38 WIB
Rumah di bantaran rel kereta hingga viaduk Surabaya
Rumah dekat rel Surabaya (Foto: Praditya Fauzi Rahman/detikJatim)
Surabaya -

Hidup memang pilihan. Namun, himpitan ekonomi membuat pilihan apapun mau tak mau harus dijalani. Seperti yang dialami warga di bantaran rel kereta api Dupak Magersari hingga viaduk di Surabaya.

Saban hari, mereka harus berkawan dengan suara nyaring saat kereta lewat. Belum lagi debu yang menyiprat ketika kereta melintas, tak ayal debu dan polusi mengarah pada hunian warga. Bahkan, pemandangan di dekat lokasi, sebagian titik pembatas digunakan warga untuk menjemur pakaian dan memarkir sepeda motor.

Salah satu pedagang sayur, Musayana (41) mengaku hal ini dilakukan karena tak punya pilihan lain. Sebab, tempat tinggal dan lapak dagangannya berdekatan dengan rel kereta. Meski begitu, bukan berarti dagangannya tak pernah berkendala. Sesekali, ia dan petugas kucing-kucingan saat penertiban dilakukan.

"Ya pernah diobrak juga, diobrak sama petugas stasiun & Satpol PP, di sini sering ada sepur roboh dan ambles juga," kata Musayana, Sabtu (21/5/2022).

Ia mengaku, ada sekitar 50 pedagang yang menjajakan dagangan di sana. Bahkan, tak jarang ada juga barang dagangan yang terlindas kereta dan rusak lantaran lupa mengangkutnya.

"Ada 50-an lebih yang jualan di sini, juga pernah dagangan rusak karena ketabrak, gara-gara lupa dibawa," ujar dia.

Selain dagangan, ia menyebut juga ada korban luka dan meninggal dunia karena tertabrak kereta. Menurutnya, hal tersebut kerap terjadi sekitar 1 dekade lalu.

"Dulu, sering ada laka ketabrak sepur, biasanya warga sini-sini aja sih, karena buru-buru, tidak lihat kanan kiri juga," tutur dia.

Hal senada juga disampaikan pedagang lain bernama Farida. Menurutnya, berjualan di sekitar rel kereta api adalah 'ngeri-ngeri sedap'.

Rumah di bantaran rel kereta hingga viaduk SurabayaWarga berjualan di bantaran rel kereta hingga viaduk Surabaya Foto: Praditya Fauzi Rahman/detikJatim

"Ya takut, ya senang, mau bagaimana lagi, kita cuma ingin cari rezeki yang halal, kita juga bukan pedagang dengan modal yang besar, Mas," katanya.

Setiap hari, ia harus merampungkan penjualan hingga pukul 10.00 WIB saja. Sebab, saat siang hari, lokasi sudah sepi pembeli.

"Jam 10.00 WIB udah harus bersih semua yang jualan, lagian juga sudah sepi," ujarnya.

Terpisah, Anam, Warga Ambengan Batu DKA itu mengaku sudah puluhan tahun berkawan dengan kondisi rel kereta api. Sebab, sedari usia 2 tahun, ia telah diajak orangtuanya hijrah dari Tanah Merah, Bangkalan, Madura ke Surabaya.

"Sejak umur 2 tahun, saya sudah bersahabat sama kereta api dan rel keretanya," kata pedagang Lontong Balap itu.

Anam mengaku sejak tahun 1959, ia sudah bermain dan hidup dengan sejumlah rekan serta keluarga di kawasan Viaduk Rel Kereta Api Surabaya.

"Ya memang berisik kalau ada kereta lewat, bahaya juga, tapi lama-lama sudah terbiasa sampai sekarang," tutur dia.

Menurutnya, sudah ada puluhan bahkan ratusan KK yang menghuni kawasan Viaduk Rel Kereta Api di Surabaya. Di tempatnya saja, justru kerap dijadikan markas anak-anak muda berkumpul pada masanya.

"Dulu, di dekat rumah saya, ya di viaduk itu, sering buat nyangkruk (nongkrong) malahan. Cuma kalau ada kereta lewat, ya bubar dan kalau sudah lewat ya balik lagi ke rel. Kalau sekarang, sudah tahu bahayanya, kalau perlu saya omelin kalau ada yang begitu lagi," ungkapnya.

Serupa dengan Anam dan Musayana, Yanto, warga Donokerto, Surabaya juga mengaku terpaksa menghuni kawasan itu. Menurutnya, karena pendapatannya yang kerap dipergunakan untuk kebutuhan sehari-hari, tak bisa membeli rumah di lokasi dan wujud yang layak.

"Sekarang siapa sih yang mau tinggal di tempat seperti ini? Kita seperti ini kan memang karena keadaan, dari segi ekonomi dan lain sebagainya. Kalau kami punya banyak uang, kita juga gak mungkin kok tinggal di tempat ini, Mas," paparnya.

Meski begitu, Anam, Farida, Yanto, dan Musayana mengakui memang salah menghuni rumah yang berdiri di atas tanah KAI itu. Selain bahaya, hal tersebut juga dianjurkan tak boleh ditiru masyarakat.

Mereka kompak ingin membeli rumah yang layak, nyaman, dan aman. Namun, 'maksud hati memeluk gunung, apa daya tangan tak sampai'.



Simak Video "Terobos Palang Perlintasan, Pemotor di Karawang Tewas Disambar Kereta"
[Gambas:Video 20detik]
(hil/dte)