Sosok Pimpinan Ritual Maut yang Tewaskan 11 Orang: Bukan Kiai, Bukan Ustaz

Sosok Pimpinan Ritual Maut yang Tewaskan 11 Orang: Bukan Kiai, Bukan Ustaz

Yakub Mulyono - detikJatim
Selasa, 15 Feb 2022 16:25 WIB
ritual pantai payangan
Warga mengevakuasi korban tewas ritual (Foto: Yakub Mulyono)
Jember -

Ritual di Pantai Payangan Jember yang tewaskan 11 orang dipimpin oleh Nur Hasan. Siapa sosok Nur Hasan sebenarnya?

Nur Hasan adalah pimpinan Tunggal Jati Nusantara, sebuah kelompok atau perkumpulan di Dusun Botosari, Desa Dukuh Mencek, Sukorambi, Jember dengan anggota puluhan orang yang salah satu kegiatannya adalah ritual. Pria 35 tahun itu masih selamat dalam tragedi tersebut. Tetapi istri dan anaknya turut menjadi korban tewas.

"Bukan kiai, bukan ustaz. Ya orang biasa, masih muda. Usia kurang lebih 35 tahun. Biasa interaksi dengan masyarakat, ya biasa," ujar Kades Dukuh Mencek Nanda Setiawan kepada wartawan, Selasa (15/2/2022).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Nanda mengatakan Nur Hasan bukan penduduk asli Dusun Botosari. Tetapi dia memang sudah lama tinggal di dusun tersebut bersama keluarganya. Saat ini dia tinggal dengan ibu dan istri pertamanya di dusun itu.

"Kalo pribumi bukan, pendatang tapi sudah bertahun tahun di sini," kata Nanda.

ADVERTISEMENT

Nanda menambahkan Nur Hasan pernah cukup lama meninggalkan dusunnya dengan mengadu nasib ke Malaysia. Pada 2014, ia kembali ke dusunnya. Ia sempat jualan online hingga akhirnya ia mendapatkan cukup banyak pengikut dengan perkumpulannya tersebut.

Nanda menyebut Tunggal Jati Nusantara berawal dari orang-orang yang datang untuk berobat ke Nur Hasan. Lama kelamaan banyak orang yang datang dan akhirnya menjadi kelompok atau perkumpulan.

"Awalnya berobat, orang yang datang ke sana pastilah orang yang susah. Ya mungkin sakit, kesulitan ekonomi, masalah keluarga. Sepengetahuan saya, yang datang ke sana ya orang-orang yang susah," kata Nanda.

Nanda menambahkan kegiatan kelompok yang berdiri sudah 2 tahun itu dilakukan setiap malam Jumat. Kegiatan itu biasanya berupa ngaji dan selawatan. Nanda menyebut tak ada para tetangga yang protes atau komplain soal kegiatan kelompok tersebut.

"(Malam) Jumat Wage apa Jumat Pon gitu. Pokoknya sebulan dua kali. Ya ngaji lah. Karena memang kegiatannya seperti itu ya sudah. Selama masyarakat tidak resah ya sudah," lanjut Nanda.




(iwd/iwd)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads