Warga Kampung Miliarder Tuban Ngaku Kini Jual Sapi untuk Kebutuhan Hidup

Ainur Rofiq - detikJatim
Senin, 24 Jan 2022 20:28 WIB
Musanam, warga yang ikut demo kilang Tuban
Kakek Musanam yang ikut demo kilang Tuban soal rekrutmen pekerjaan (Foto: Ainur Rofiq)
Tuban -

Terselip cerita sedih warga dari unjuk rasa warga enam desa terdampak pembangunan PT Pertamina Rosneft Pengolahan dan Petrokimia (PRPP) Kilang Grass Root Refinery (GRR) Tuban soal rekrutmen pekerjaan. Mereka bercerita hanya menghabiskan tabungan karena tak ada pekerjaan setelah tanah mereka dibeli PT PRPP.

Padahal sebelumnya mereka menjadi miliarder dengan uang ganti rugi mencapai miliaran rupiah. Tetapi karena tak ada penghasilan, uang itu mulai tergerus untuk mencukupi kebutuhan setiap hari.

Salah satu warga kampung miliader di Tuban yang kini dihantui rasa penyesalan setelah tanahnya dijual ke pihak proyek kilang Tuban adalah Musanam (60), warga Desa Wadung, Kecamatan Jenu.

Musanam mengaku menyesal telah menjual rumah dan tanah ladangnya yang produktif seluas 2,4 hektare pada tahun lalu dengan harga lebih dari Rp 2,5 miliar. Rasa penyesalan yang dirasakan saat ini adalah ia tak lagi punya penghasilan tetap dan tak bisa bekerja lagi.

Untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari bersama keluarga, ia terpaksa harus menjual satu demi satu sapi ternaknya yang selama ini ia pelihara.

"Punya 6 ekor sapi mas, sudah tak jual tiga ekor dan kini tersisa tiga. Sapi-sapi itu saya jual untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari," tutur Musanam di sela aksi demo di depan kantor proyek GRR Tuban, Senin (24/1/2022).

Musanam bercerita dulu sebelum lahan pertanian dijual, saat panen ia bisa mendapat Rp 40 juta setiap kali panen jagung atau tanaman lainnya. Saat proyek kilang minyak akan dibangun, ia dirayu agar tanahnya bisa dibeli pihak proyek.

Keluarga Musanam juga dijanjikan pihak perusahaan akan diberikan pekerjaan. Tetapi selama satu tahun lebih, janji itu tak kunjung didapatkan. Keluarganya tak juga diberikan pekerjaan.

Warga lain yang mengaku bernasib sama adalah Mugi (60). Perempuan yang tinggal di kampung miliarder ini juga kini nyaris tak memiliki pekerjaan usai tanah seluas 2,4 hektare miliknya dijual.

"Ya nyesal nak sudah menjual lahan pertanian saya. Dulu lahan saya ditanami jagung dan cabai dan setiap kali panen bisa menghasilkan Rp 40 juta. Tapi sejak tak jual. Saya sudah tidak lagi memiliki penghasilan," keluh Nenek Mugi.

Lahan pertanian seluas 2,4 hektare milik Mbah Mugi dibeli dengan harga hingga Rp 2,5 miliar. Kemudian uangnya digunakan untuk kebutuhan sehari-hari sementara sisanya ditabung.

Mugi mengaku dulu tak ingin menjual tanahnya. Tetapi karena seringnya pihak proyek datang saat ia berada di sawah, akhirnya ia bersedia lahannya dijual.

"Setiap saya di kebun, saya didatangi dan dirayu-rayu, mau diberikan pekerjaan anak-anak saya pokoknya dijanjikan enak-enak. Tapi sekarang mana, gak ada," keluh Mugi.

Kedua warga kampung miliader ini juga ikut bersama ratusan warga Desa Wadung, Mentoso, Sumurgeneg dan beberapa desa di kawasan ring satu Pertamina menggelar aksi unjuk rasa. Mereka menuntut agar pihak proyek menunaikan janji yang sebelumnya disampaikan kepada masyarakat kampung miliader Jenu, Tuban.



Simak Video "Kilang Minyak Pertamina di Balikpapan Kebakaran!"
[Gambas:Video 20detik]
(iwd/iwd)