Warga 6 Desa Terdampak Proyek Kilang Tuban Demo Soal Rekrutmen Kerja

Ainur Rofiq - detikJatim
Senin, 24 Jan 2022 15:19 WIB
unjuk rasa warga desa terdampak
Warga 6 desa terdampak pembangunan kilang Tuban berunjuk rasa (Foto: Ainur Rofiq)
Tuban -

Ratusan pemuda dari paguyuban enam desa yang terdampak langsung proyek pembangunan PT Pertamina Rosneft Pengolahan dan Petrokimia (PRPP) Kilang Grass Root Refinery (GRR) Tuban berunjuk rasa. Mereka menuntut lapangan pekerjaan dan keterbukaan dalam proses rekrutmen.

Massa yang berasal dari desa Wadung, Mentoso, Rawasan, Sumurgeneng, Beji, dan Kaliuntu itu mengaku kecewa dengan cara Pertamina Rosneft dalam perekrutan security yang telah dilakukan oleh PT Pertamina Training and Consulting (PTC). Mereka menduga perekrutan itu tidak sesuai yang dijanjikan kepada tenaga kerja lokal.

Dalam aksinya, massa secara bergantian berorasi di depan pintu proyek Pertamina Rosneft. Para pemuda dari enam desa ini juga menyampaikan tuntutan di antaranya menolak vendor atau oknum di lingkup Pertamina yang tidak berpihak dengan tenaga kerja lokal yang terdampak pembangunan kilang minyak.

Massa juga meminta agar PT Pertamina Training and Consulting (PTC) dikeluarkan dari Pertamina karena dianggap tidak bisa berkoordinasi dengan masyarakat terdampak dan pemdes.

unjuk rasa warga desa terdampakUnjuk rasa warga 6 desa terdampak (Foto: Ainur Rofiq)

"Kami melakukan aksi damai, menagih janji yang dijanjikan saat merayu untuk pembebasan lahan," teriak salah satu korlap, Suwarno dalam orasinya, Senin (24/1/2022).

Suwarno menegaskan banyak warga terdampak pembangunan kilang minyak hingga saat ini masih menganggur setelah kehilangan lahan pertaniannya.

"Warga terdampak yang ingin bekerja dibatasi usia, padahal mereka semua adalah tulang punggung keluarga. Tapi kenapa pensiunan di atas 50 tahun dipekerjakan?," tanya Suwarno saat orasi.

Kepala Desa Wadung, Sasmito, juga sangat menyayangkan dengan sikap dari pihak Pertamina yang mengabaikan pemerintah desa terkait perekrutan tenaga kerja. Tidak hanya itu, ia juga menganggap Pertamina kurang kooperatif kepada masyarakat yang terdampak pembangunan kilang minyak Tuban.

"Kami hanya minta perwakilan dari Pertamina menemui peserta aksi untuk menjelaskan terkait aspirasi yang sudah disampaikan warga. Jangan sampai Pertamina ini bicara kepentingan umum tapi endingnya business to business. Bagaimana masyarakat bisa sejahtera kalau tidak ada sinkronisasi dengan program pemerintah" ujar Sasmito.

Aksi unjuk rasa ini mendapat penjagaan ketat aparat polisi. Sementara perwakilan dari pihak Rosneft Pertamina yang menemui pengunjuk rasa berjanji akan menyampaikan tuntutan warga ke pimpinan.

"Akan kami sampaikan ke pimpinan," kata Solikin, perwakilan perusahaan di lokasi.



Simak Video "Pertamina Talks 2022 Siap Melangkah Menuju Energi Baru yang Berkelanjutan"
[Gambas:Video 20detik]
(iwd/iwd)