Surutnya aliran Sungai Serayu akibat kemarau panjang jadi berkah bagi sebagian warga Desa Srowot, Kecamatan Kalibagor, Banyumas. Di kawasan yang kini dikenal dengan nama Wadas Cinta Carik, warga membuka wisata perahu dadakan untuk menikmati sunset.
Pantauan detikJateng hari ini, kawasan wisata dadakan ini tampak dipadati pengunjung. Bahkan ada yang membuka tenda untuk disewakan sebagai latar belakang swafoto. Banyak pula pedagang keliling yang masuk ke area dasar sungai.
Wisata dadakan yang baru beroperasi sekitar sepekan ini memanfaatkan perahu yang sebelumnya digunakan untuk menyeberangkan sepeda motor saat Jembatan Serayu Banyumas ditutup beberapa waktu lalu. Kini, tiga perahu tersebut disulap menjadi wahana wisata menyusuri Sungai Serayu.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Operator perahu, Pitoyo, mengatakan ide membuka wisata perahu muncul setelah melihat kawasan Wadas Cinta Carik ramai didatangi pengunjung usai viral di media sosial.
"Awalnya kita lihat potensinya besar karena ramai sekali. Akhirnya kita berinisiatif membuat wisata perahu. Perahu ini dulu dipakai mengangkut sepeda motor saat Jembatan Serayu ditutup," kata Pitoyo kepada detikJateng, Selasa (22/7/2026).
Warga naik perahu wisata dadakan saat debit air Sungai Serayu Banyumas surut dampak kemarau, Rabu (22/7/2026). Foto: Anang Firmansyah/detikJateng |
Wisata perahu beroperasi setiap hari mulai pukul 15.00 WIB hingga 17.30 WIB. Dua perahu digandeng menjadi satu dengan kapasitas mencapai 30 penumpang dalam sekali perjalanan.
Rute yang ditawarkan cukup panjang. Perahu akan membawa wisatawan menyusuri Sungai Serayu ke arah hilir sejauh kurang lebih satu kilometer sebelum kembali ke titik keberangkatan. Perjalanan memakan waktu sekitar 20 menit.
Pitoyo menjelaskan, fenomena surutnya Sungai Serayu tahun ini dipicu kemarau panjang. Meski kondisi serupa pernah terjadi pada tahun sebelumnya, kawasan tersebut baru ramai setelah viral di media sosial.
"Kalau tahun lalu sebenarnya surut seperti ini juga, tapi tidak seramai sekarang. Karena viral di media sosial akhirnya banyak yang datang ke sini untuk wisata. Baru tahun ini dibuat wisata perahunya," ujarnya.
Untuk menikmati sensasi berkeliling Sungai Serayu, pengunjung hanya dipungut tarif Rp 5 ribu per orang. Dalam sehari, pengelola bisa memperoleh pemasukan sekitar Rp 300 ribu yang kemudian dibagikan kepada para pemuda yang terlibat mengelola wisata dadakan tersebut.
"Tarifnya Rp 5 ribu per orang. Kapasitasnya maksimal 30 orang sekali jalan," ungkapnya.
Di luar jam operasional wisata, perahu-perahu tersebut tetap digunakan untuk aktivitas sehari-hari, yakni mengangkut pasir dari Sungai Serayu.
"Kalau hari biasa dipakai angkut pasir. Sore harinya baru dua perahu digandeng untuk wisata. Kalau buat angkut pasir sambungannya dilepas," jelasnya.
Dalam waktu operasional sekitar tiga jam, perahu itu biasanya mampu melayani tiga kali perjalanan pulang pergi.
"Hari Minggu kemarin kita mulai dari pagi. Bisa sampai 10 kali bolak-balik karena pengunjungnya banyak," ungkap Pitoyo.
Salah seorang pengunjung, Asti, mengaku mengetahui wisata dadakan tersebut dari video yang muncul di TikTok. Ia datang bersama keluarganya untuk mencoba sensasi menyusuri Sungai Serayu naik perahu.
"Ini baru pertama kali mencoba wisata perahu di sini. Sangat worth it dengan tarif Rp 5 ribu. Pemandangannya bagus sekali dan cocok untuk wisata low budget," kata Asti, warga Desa Sokaraja Wetan, Kecamatan Sokaraja.
Menurutnya, tarif yang dibayarkan sebanding dengan pengalaman yang didapat karena rute perjalanannya yang cukup jauh.
"Jaraknya juga tidak dekat, lumayan jauh. Pertama tahu tempat ini dari TikTok. Pengen langsung nyobain naik perahunya. Dulu waktu Jembatan Serayu ditutup belum sempat naik perahu, sekarang mumpung masih ada jadi sekalian mencoba bersama teman, anak dan suami," tuturnya.

