Di kawasan Pantai Kartini, Rembang, terdapat sebuah jangkar yang menjadi ikon sekaligus menyimpan kisah misterius. Masyarakat mengenalnya sebagai Jangkar Dampu Awang, peninggalan yang lekat dengan cerita rakyat tentang perjumpaan tokoh pelaut atau Dampu Awang dengan Sunan Bonang, salah satu Wali Songo pada abad ke-15 hingga 16 Masehi.
Pantauan detikJateng hari ini, Jangkar Dampu Awang yang berada di kawasan Wisata Pantai Kartini Rembang tampak dalam kondisi kurang terawat. Dari pantauan di lokasi, jangkar berukuran besar yang selama ini dikenal sebagai salah satu peninggalan bersejarah tersebut terlihat dibiarkan tanpa perawatan rutin.
Jangkar besi raksasa itu berada di dalam sebuah bangunan pendopo sederhana. Namun, kondisi lingkungan di sekitarnya tampak kotor dengan banyak daun kering berserakan di lantai.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pada bagian kaki jangkar, tampak sisa-sisa sesajen berupa daun pisang yang mengering, bunga layu, dan sisa dupa yang dibakar yang diletakkan di antara bebatuan. Hal ini menunjukkan masih adanya aktivitas ritual atau kepercayaan tertentu, meski tidak diimbangi dengan penataan area yang rapi dan bersih.
Selain itu, besi jangkar terlihat kusam dan berkarat, dengan permukaan yang kasar dan berwarna cokelat gelap. Tidak tampak papan informasi yang menjelaskan sejarah atau nilai budaya Jangkar Dampu Awang, sehingga pengunjung yang datang hanya bisa melihat tanpa mendapatkan pengetahuan yang memadai.
Kondisi sekitar pendopo juga tampak sepi dan kurang tertata. Beberapa kabel terlihat menggantung tanpa penataan, sementara area taman di sekitarnya dipenuhi dedaunan kering dan rumput yang tumbuh tidak terurus.
Sebagai salah satu ikon sejarah yang sering dikaitkan dengan kisah legenda Dampu Awang di Rembang, kondisi Jangkar Dampu Awang ini menimbulkan keprihatinan. Minimnya perawatan dikhawatirkan dapat mengurangi nilai historis dan daya tarik wisata budaya di Pantai Kartini Rembang.
Pemerhati Sejarah Rembang sekaligus akademisi UIN Raden Mas Said Surakarta, Muhammad Nabil Fahmi, menyebut jangkar tersebut bukan sekadar benda mati, melainkan simbol kuat memori kolektif masyarakat pesisir.
Selama puluhan tahun, jangkar Dampu Awang telah menjadi landmark Kabupaten Rembang. Bahkan, mengilhami penamaan kawasan wisata Pantai Kartini yang juga dikenal sebagai Dampo Awang Beach.
"Di Rembang ada patung jangkar di mana-mana. Eksistensinya begitu melekat dalam identitas Rembang," kata Nabil.
Dalam cerita rakyat yang berkembang, jangkar tersebut diyakini milik kapal Dampu Awang, seorang tokoh pelaut atau kepala syahbandar beretnis Tionghoa. Kisahnya dikaitkan dengan pecahan kapal yang konon tersebar di sekitar Lasem, sementara jangkarnya terdampar di pesisir Rembang. Namun, Nabil menegaskan bahwa hingga kini belum ada data historis yang benar-benar memastikan kebenaran kisah tersebut.
"Belum ada bukti apakah Dampu Awang itu sosok nyata, apakah jangkarnya memang milik kapal tersebut, termasuk berapa usia jangkar itu. Setahu saya belum pernah diteliti secara serius oleh dinas terkait," ujarnya.
Meski demikian, sejumlah catatan sejarah menunjukkan bahwa keberadaan jangkar ini sudah dikenal sejak lama. Nabil mengungkap adanya pemberitaan surat kabar Belanda De Nieuwsgier tahun 1957 yang menulis tentang jangkar tersebut.
Dalam laporan itu, jangkar disebut berada di belakang atau sisi utara penjara Kabupaten Rembang, dengan kondisi sebagian masih terpendam tanah.
"Koran itu juga menyebut bahwa warga setempat mengeramatkan jangkar yang diyakini milik Kiai Dampu Awang," katanya.
Penampakan Jangkar Dampu Awang di Pantai Kartini, Rembang. Foto diunggah Jumat (6/2/2026). Foto: Mukhammad Fadlil/detikJateng |
Menariknya, koran tersebut juga memberitakan rencana penggalian jangkar untuk dibawa ke Jakarta dan ditempatkan di museum, yang diduga Museum Nasional. Namun rencana itu tak pernah terwujud.
Hingga kini, jangkar Dampu Awang tetap berada di Rembang dan kemudian dipindahkan ke kawasan wisata Pantai Kartini untuk menjadi daya tarik pengunjung.
Menurut Nabil, meski asal-usul dan usia jangkar belum dapat dibuktikan secara ilmiah, eksistensi jangkar Dampu Awang, bersama temuan jangkar kuno lainnya di pesisir Rembang, merupakan bukti artefaktual yang tak terbantahkan tentang kuatnya tradisi bahari daerah tersebut.
"Sudah banyak penelitian sejarah dan arkeologi yang menunjukkan dinamika peradaban maritim Rembang, sejak era klasik, Islam, hingga kolonial," jelasnya.
Ia menilai cerita rakyat seperti kisah Dampu Awang tidak seharusnya dipinggirkan. Bagi Nabil, cerita rakyat adalah bagian dari pengetahuan lokal yang merekam realitas masa lalu dalam bentuk narasi penuh hikmah.
"Bagaimana sejarah sebenarnya, itulah PR kita hari ini. Mencoba menyusun kepingan sejarah dari data yang ada, termasuk dari cerita rakyat," tutupnya.
Sementara itu, sejarawan sekaligus pemerhati sejarah Lasem-Rembang, Exsan Ali Setyonugroho, menegaskan bahwa kisah Dampu Awang yang selama ini berkembang di masyarakat merupakan narasi fiktif yang dibentuk pada masa kolonial.
Exsan menjelaskan, Dampu Awang bukanlah tokoh personal sebagaimana digambarkan dalam legenda. Nama tersebut merujuk pada sebuah jabatan penting pada masa lalu, bukan individu tertentu.
"Dampu Awang itu bukan nama orang, melainkan nama jabatan. Ia adalah panglima angkatan laut Lasem," ujar Exsan.
Ia menyebut, jabatan Dampu Awang pernah diemban oleh sejumlah tokoh, di antaranya Rajasa Wardana yang dikenal sebagai suami Raja Lasem Dewi Indu, kemudian Santipuspa dan Santiyoga. Dengan fakta tersebut, Exsan menilai legenda yang menggambarkan konflik antara Sunan Bonang dan Dampu Awang tidak memiliki dasar historis.
"Legenda tentang Kapal Dampu Awang yang ditendang Sunan Bonang itu fiktif. Secara sejarah tidak masuk akal. Narasi itu sengaja dibentuk Belanda untuk memisahkan Jawa dan Islam," tegasnya.
Di Rembang sendiri berkembang cerita rakyat tentang Kapal Dampu Awang yang konon ditendang oleh Sunan Bonang hingga porak-poranda. Bagian-bagian kapal disebut terlempar ke berbagai tempat, salah satunya jangkar yang dipercaya terdampar di kawasan Pantai Kartini atau Taman Kartini Rembang.
Exsan menilai, legenda tersebut sengaja dibangun sebagai upaya memecah identitas. Dalam narasi itu, Jawa kerap direpresentasikan melalui figur Dampu Awang yang dikaitkan dengan China, sementara Islam diwakili oleh Sunan Bonang.
"Padahal Jawa dan Islam itu menyatu. Ketika bersatu, kekuatan itu terbukti mampu melawan kolonial, seperti yang terjadi dalam Perang Lasem," jelasnya.
Ia juga meluruskan asal-usul nama Rembang yang selama ini sering dikaitkan dengan istilah kerem kemambang (karam mengambang). Menurut Exsan, nama Rembang justru berasal dari kata ngrembang, yakni proses memangkas tebu saat masa panen.
Keberadaan jangkar yang kini menjadi ikon di Rembang disebut berasal dari masa kolonial Belanda. Exsan menilai, simbol tersebut digunakan untuk memperkuat narasi pemisahan antara Jawa dan Islam.
"Cerita tentang Dampu Awang dan Sunan Bonang kemungkinan dibentuk setelah Perang Lasem. Itu bagian dari strategi adu domba kolonial," pungkasnya.












































