Bukit Patrum di Dusun Mojopereng, Desa Krakitan, Kecamatan Bayat, Klaten menjadi saksi sejarah bisnis tambang perusahaan kolonial Belanda. Bukit yang sekarang menjadi objek wisata itu dulunya tambang batu kapur.
"Dari dokumen-dokumen berbahasa Belanda, Bukit Patrum itu tambang gamping (batu kapur) di bawah Perusahaan N. V. Klaten (depan Terminal Ir Sukarno), terhubung rel lori sejak tahun 1912," ungkap pegiat sejarah Klaten, Hari Wahyudi, kepada detikJateng, Sabtu (17/1/2026).
Menurut Hari, bukit itu tempat tambang batu gamping dan Belanda membangun tempat pembakaran. Setelah ditambang, batu gamping itu dibawa menggunakan lori pengangkut ke perusahaan induknya N. V. Klaten.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Hasilnya dibawa menggunakan lori pengangkut ke perusahaan induknya N. V. Klaten. Kalau dalam buku 'De Landbouw in de Indischen Archipel' karya Van Hoeve, hanya menulis batu kapur untuk dipasok di pabrik gula," jelas Hari.
Pada peta kolonial tahun 1930, sambung Hari, jejak tambang dan pabrik batu kapur itu masih ada keterangannya. Tambang batu kapur di Klaten hanya satu dari 14 tambang yang ada di Jawa.
"Hingga tahun 1916 tercatat 14 perusahaan pengolahan batu kapur di seluruh pulau Jawa (selain Klaten ada Ponorogo, Surabaya, Jawa Barat dan lainnya)," terang Hari.
"Mungkin batu kapur dulu dipergunakan sebagai pemutih cairan tebu agar gula yang dihasilkan lebih bersih, biar lebih mahal harganya kalau di ekspor," imbuhnya.
Bukit Patrum saat detikJateng berkunjung tinggal bukit kapur sunyi di barat objek wisata Rawa Jombor. Tebing-tebing bukit tersebut meninggalkan jejak tambang dengan dinding tegak lurus.
Penampakan Bukit Patrum di Dusun Mojopereng, Desa Krakitan, Kecamatan Bayat, Klaten, Sabtu (17/1/2026). Foto: Achmad Husain Syauqi/detikJateng |
Di sisi selatan, beberapa tebingnya berbentuk menyerupai ceruk gua di dekat permukiman warga. Tobong-tobong pembakaran batu gamping tradisional milik warga masih berdiri meski banyak yang tidak beroperasi.
Di Bukit Patrum terdapat satu tebing tegak lurus seperti tiang dan satu gundukan bukit di dekatnya. Di tebing serupa tiang tersebut terdapat rumah kecil ukuran sekitar 3x3 meter dengan ketinggian bukit sekitar 30-40 meter.
Rumah tersebut dijuluki rumah hantu. Padahal bangunan tersebut konon gudang dinamit untuk meledakkan bukit kapur putih yang sangat keras.
"Ya warga menyebut itu omah demit (rumah hantu), padahal itu gudang dinamit. Tambang dulunya menggunakan dinamit," ungkap Sekretaris Desa (Sekdes) Krakitan, Wardono, kepada detikJateng.
Menurut Warsono, dulu Bukit Patrum luas dan tepinya di jalan desa saat ini. Tapi karena ditambang hanya menyisakan gundukan bukit yang jauh dari jalan.
"Dulu bukitnya sampai tepi jalan, sekarang tinggal yang saat ini. Kapurnya diangkut lori, tahun 1990-an itu masih ada relnya," kata Warsono.
"Kapur gamping itu untuk pabrik gula di PG Gondang, Ceper, dan lainnya," imbuh Warsono.
Salah satu warga sepuh setempat, Hadi (75), mengatakan tambang batu kapur Belanda itu hasilnya diangkut ke PG Gondang. Angkutan menggunakan lori atau sepur montit.
"Pakai lori montit mengangkutnya. Saya kecil masih ada lorinya," ungkap Hadi kepada detikJateng.
(apu/apu)

