Komite Disiplin (Komdis) PSSI Jawa Tengah menjatuhkan sanksi larangan bermain sepakbola seumur hidup kepada kiper PSIR Rembang Raihan Ably Valent Ramdan Alfariq buntut tendangan kungfunya kepada pemain Persikaba Blora, Rizal Dimas Agesta. Begini respons pihak Persikaba.
Komdis memutuskan Raihan Ably Valent Ramdan Alfariq dikenai larangan beraktivitas dan berpartisipasi di seluruh kompetisi di bawah naungan PSSI seumur hidup.
Sanksi tersebut tertuang dalam Surat Putusan Nomor 52/KD.L4/PSSI.JTG/I/2026 yang dibacakan pada Rabu (21/1) malam, disertai denda sebesar Rp 5 juta. Komdis menilai tindakan tersebut sebagai violent conduct atau kekerasan yang membahayakan keselamatan lawan, sesuai Kode Disiplin PSSI 2025.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selain menjatuhkan hukuman kepada pemain, Komdis PSSI Jawa Tengah juga memberikan sanksi kepada perangkat wasit yang memimpin pertandingan dengan tidak menugaskan mereka memimpin laga di bawah naungan PSSI selama satu tahun karena dinilai tidak menjalankan tugas secara optimal.
Head Coach Persikaba Blora, Gusnul Yakin, menilai bahwa keputusan Komite Disiplin PSSI Jawa Tengah sudah tepat. Penjaga gawang PSIR Rembang itu layak atas sanksi tersebut.
"Saya kira itu keputusan yang tepat ya. Sekarang itu harus kayak gitu. Supaya enggak ada kejadian yang begitu-begitu terus. Dan sanksi itu sudah benar. Biar ada efek jera, biar tidak ada pemain lain yang seperti itu lagi," ucap Gusnul seusai melatih sepak bola di lapangan Ngawen, Blora, Kamis (22/1/2026).
Ia juga menyinggung sanksi yang diberikan Komdis PSSI Jateng kepada wasit yang bertugas. Ia menilai, keputusan tersebut bisa jadi pembelajaran bagi para pengadil lapangan hijau yang lainnya.
"Sanksi untuk wasit, itu juga tepat. Agar wasit yang masih muda itu dijadikan pembelajaran lagi untuk ke depannya," jelasnya.
Lebih lanjut, tendangan kungfu kaki Raihan yang mengenai dada pemain Laskar Aryo Penangsang itu menurutnya amat brutal, bisa mengakibatkan cedera.
"Itu terlalu brutal saya kira. Sesama pemain dengan koleganya sendiri ngapain harus diambil kayak gitu (tendangan kungfu). Ya untungnya kemarin Rizal itu anaknya refleks dengan mengikuti arah tendangan itu. Tapi itu sangat brutal saya kira," jelasnya.
Gusnul mengatakan, tendangan kungfu itu seharusnya pelanggaran dan berbuah kartu, namun wasit tidak meniup peluit dan permainan berlanjut.
"Wasit saya kira seharusnya bisa mengambil tindakan tegas, memberi kartu. Tetapi ternyata keputusan wasit menganggap itu tidak pelanggaran, dan tidak ada kartu untuk kiper PSIR Rembang," ujar dia.
Selama laga, Gusnul menilai wasit tidak sepenuhnya buruk, namun ada beberapa kesalahan fatal. Gusnul terus mengingatkan kepada anak asuhnya agar tidak terprovokasi yang berlebih, meski ada beberapa keputusan wasit yang kontroversi.
"Sebetulnya pertandingan kemarin cukup menarik. Meskipun ada kesalahan-kesalahan kecil dari wasit, saya kira itu hal yang wajar. Saya sangat bangga sama pemain-pemain kami walaupun menit 20 atau berapa itu ya, kami kena kartu merah, bermain dengan 10 pemain. Tetapi pemain kami masih konsisten dan tidak ada kejadian-kejadian yang membuat pertandingan itu tidak enak ditonton," jelasnya.
Pihaknya selalu menekankan pada anak asuhnya untuk menjunjung tinggi sportifitas dalam setiap laga.
"Saya selalu menekankan pada pemain-pemain saya, kalah menang seri, itu adalah bagian daripada permainan sepak bola. Jadi kebrutalan itu jangan sampai terjadi. Yang penting harus selalu menjunjung tinggi sportifitas," jelasnya.
Diketahui sebelumnya, insiden terjadi saat Persikaba mendapat tendangan bebas. Rizal yang berposisi sebagai gelandang serang terlihat berusaha menyambut bola.
Namun di depannya, Raihan juga berusaha menangkap bola. Saat berusaha menangkap bola, kaki Raihan terlalu tinggi dan langsung mengenai dada Rizal hingga tergeletak di kotak penalti.
(apu/apu)











































