Di Lereng Merbabu Boyolali, Ombus-ombus Khas Batak Dibuat dari Singkong

Di Lereng Merbabu Boyolali, Ombus-ombus Khas Batak Dibuat dari Singkong

Jarmaji - detikJateng
Senin, 15 Jun 2026 07:00 WIB
Ini Kue Ombus-ombus Khas Batak yang Lumer Manis di Mulut
Ilustrasi kue ombus-ombus khas Batak. Foto: Instagram
Boyolali -

Di Boyolali, singkong bisa diolah menjadi beragam jenis makanan tradisional hingga menu kekinian. Bahkan ombus-ombus kue khas Batak, yang biasanya dibuat dari adonan tepung beras atau ketan, juga bisa dimodifikasi menggunakan bahan dasar singkong.

Hal itu tersaji dalam Festival Mustikarasa 2026 yang digelar warga di lereng Gunung Merbabu, tepatnya di Dukuh Dungus, Desa Seboto, Kecamatan Ampel, Kabupaten Boyolali.

Festival ini menjadi ruang yang mengajak masyarakat untuk mengenal kekayaan pangan Indonesia. Festival ini sekaligus untuk memperkuat ketahanan pangan keluarga melalui pemanfaatan bahan pangan lokal.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kegiatan ini diikuti belasan peserta dari berbagai kalangan di Kecamatan Ampel. Tidak hanya berasal dari kalangan ibu rumah tangga, kader PKK, maupun tokoh perempuan desa, tetapi juga diikuti sejumlah generasi muda atau Gen Z. Mereka ikut berkreasi mengolah pangan berbahan dasar singkong menjadi sajian yang unik.

"Kalau yang tradisional saya bikin ombus-ombus dari khas Batak. Kalau yang inovasi masakan saya bikin cassava choco truffle," kata salah satu peserta, Angelica Reza Zaifana, Minggu (14/6/2026) sore.

ADVERTISEMENT
Olahan singkong di Festival Mustikarasa 2026, Desa Seboto, Kecamatan Ampel, Boyolali, Minggu (14/6/2026).Olahan singkong di Festival Mustikarasa 2026, Desa Seboto, Kecamatan Ampel, Boyolali, Minggu (14/6/2026). Foto: Jarmaji/detikJateng

Ombus-ombus, kue khas Batak, biasanya terbuat dari adonan tepung beras atau ketan, kelapa parut, dan gula merah sebagai isian. Namun oleh Angelica dan teman-temannya, ombus-ombus dikreasi atau dimodifikasi menggunakan singkong.

"Saya pikir ombus-ombus ini perlu dikenal ya, karena enggak harus cuma masyarakat Batak, tapi bisa juga dikenal oleh masyarakat Jawa," ujar dia.

Peserta lainnya, Ratna Widuri, menyajikan combro dengan isian tempe. Serta pai singkong yang dipadukan dengan fla menyerupai bubur sumsum dan sagu.

Menurut Ratna, mengolah singkong menjadi makanan modern tidak sulit. Kreatif dalam mengembangkan resep menjadi kuncinya.

"Kita harus kreatif aja gimana mengolah bahan singkong bisa menjadi beberapa masakan," ujarnya.

Ada pula peserta yang membuat papeda singkong, dawet singkong, dan lainnya.

Ketua Panitia, Dwi Adi Agung Nugroho, mengatakan festival ini digelar untuk bagaimana masyarakat memanfaatkan kekayaan pangan berbahan lokal.

"Di antaranya adalah ada banyak tanaman polo gantung dan polo pendem yang sampai hari ini jarang kita manfaatkan. Padahal itu potensinya luar biasa sebagai bagian dari ketahanan pangan," kata Dwi.

Setelah lomba ini digelar, ia berharap para peserta maupun hadirin bisa melakukan kreasi serupa juga, yaitu memberikan nilai lebih terhadap singkong.

"Tidak harus bergantung pada bahan baku yang tidak kita punya dan cenderung kalau ada kondisi global yang tidak menentu itu akan membuat kita menjadi tergantung dan akan berpengaruh pada kita," pungkasnya.



(dil/dil)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads