- Kenapa Kolak Pisang Identik Jadi Menu Takjil Ramadan?
- Makna Kolak bagi Umat Islam di Jawa 1. Mendekatkan Diri kepada Sang Pencipta 2. Pisang Kepok sebagai Simbol Pertobatan 3. Ubi Jalar untuk Mengubur Kesalahan 4. Mengendalikan Hawa Nafsu dengan Kebaikan
- Cara Membuat Kolak Pisang Bahan-bahan: Cara membuat:
- FAQ Sejarah Kolak Pisang Apakah kolak pisang makanan tradisional? Bagaimana sejarah olahan makanan kolak ada di Indonesia? Apa filosofi kolak?
Aroma manis kolak pisang selalu hadir setiap Ramadan, seolah menjadi isyarat bahwa waktu berbuka sudah dekat. Popularitasnya tidak pernah surut, meski pilihan takjil makin beragam dari tahun ke tahun. Menu sederhana ini justru makin kuat posisinya di meja pembuka puasa masyarakat Indonesia. Namun, pernahkah kamu bertanya-tanya, kenapa kolak pisang identik jadi menu takjil Ramadan?
Di balik kesederhanaannya, kolak pisang membawa jejak sejarah panjang yang berakar pada tradisi dakwah Wali Songo, khususnya Syekh Maulana Malik Ibrahim. Kebiasaannya menyantap hidangan kolak sebagai menu berbuka kemudian menginspirasi masyarakat dan berkembang menjadi tradisi yang diwariskan turun-temurun. Dari sinilah kolak bertransformasi menjadi ikon Ramadan.
Kini, kolak pisang bukan hanya soal rasa, tetapi juga simbol kebersamaan dan refleksi diri di bulan suci. Artikel ini merangkum sejarah, filosofi, dan makna yang menyertainya. Yuk, simak penjelasan lengkapnya agar kita memahami kenapa kolak begitu melekat dengan Ramadan, detikers!
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Poin utamanya:
- Kolak pisang menjadi menu takjil populer karena tradisi yang diwariskan sejak era Syekh Maulana Malik Ibrahim.
- Setiap bahan dalam kolak memiliki filosofi mendalam bagi masyarakat Jawa, terutama terkait pertobatan dan perbaikan diri.
- Tradisi ini kemudian menyebar dan menetap sebagai bagian penting identitas kuliner Ramadan di Indonesia.
Kenapa Kolak Pisang Identik Jadi Menu Takjil Ramadan?
Dikutip dari buku Historiografi Sejarah Lokal Gresik tulisan Ahmad Ali Murtadho, kehadiran kolak pisang sebagai takjil Ramadan tidak terlepas dari peran Syekh Maulana Malik Ibrahim. Ia merupakan sosok wali pertama dalam jajaran Wali Songo yang memiliki kebiasaan unik saat bulan Ramadan tiba.
Syekh Maulana kerap menyantap kolak ayam sebagai hidangan untuk membatalkan puasa. Kebiasaan ini dilakukan secara rutin setiap kali waktu berbuka tiba. Karena kedekatannya dengan menu tersebut, penduduk setempat bahkan memberikan julukan khusus kepadanya, yaitu Sunan Kolak.
Wali pertama ini dikenal sebagai pendakwah yang sangat santun. Ia berpindah dari satu tempat ke tempat lain untuk menyebarkan ajaran Islam. Dalam setiap langkahnya, ia selalu menekankan bahwa Islam adalah agama yang indah dan damai.
Ia mengajarkan ajaran yang murni sesuai dengan apa yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW. Sifatnya yang baik dan pendekatannya yang lembut membuat masyarakat tertarik. Banyak orang memutuskan memeluk Islam dengan sukarela tanpa paksaan sedikit pun.
Melalui pendekatan yang humanis, tradisi kuliner pun menjadi jembatan dakwah yang efektif. Kebiasaannya menyantap kolak ayam tidak hanya dianggap sebagai urusan perut. Hal ini menjadi simbol kebersamaan dan kedekatan antara sang guru dengan para pengikutnya.
Hingga saat ini, banyak penduduk yang masih setia menjalankan tradisi memakan kolak saat berbuka puasa. Kini, meski varian kolak telah berkembang menjadi kolak pisang atau ubi yang manis, esensinya tetap sama. Kolak tetap menjadi menu takjil yang identik dengan Ramadan karena jejak tradisi yang ditinggalkan sang Sunan Kolak berabad-abad silam.
Makna Kolak bagi Umat Islam di Jawa
Tradisi kuliner ini tidak berhenti pada sosok Syekh Maulana Malik Ibrahim saja. Seiring berjalannya waktu, masyarakat Jawa menyerap kebiasaan tersebut dan memperkayanya dengan simbol-simbol filosofis yang mendalam. Menurut Dawud Achroni dalam buku Belajar dari Makanan Tradisional Jawa, kolam memiliki makna mendalam bagi umat Islam di Jawa. Berikut penjelasan lengkapnya.
1. Mendekatkan Diri kepada Sang Pencipta
Secara etimologi, nama 'kolak' diyakini berasal dari istilah bahasa Arab, yaitu khalaqa yang berarti menciptakan, atau khaliq yang berarti Sang Pencipta. Penamaan ini bukan tanpa alasan. Hidangan ini sengaja dinamakan demikian agar setiap orang yang menyantapnya diingatkan untuk selalu mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Momentum ini terasa sangat pas disajikan pada bulan Ramadan. Momen ketika umat Islam sedang berfokus mengendalikan hawa nafsu dan meningkatkan intensitas ibadah demi meraih rida Sang Khaliq.
2. Pisang Kepok sebagai Simbol Pertobatan
Isian kolak yang paling populer adalah pisang kepok. Dalam filosofi Jawa, kata 'kepok' sering dikaitkan dengan istilah kapok. Ini adalah sebuah pengingat bahwa sebagai manusia, kita harus memiliki rasa kapok atau jera terhadap dosa-dosa yang pernah dilakukan.
Menyantap pisang kepok di waktu berbuka menjadi simbolisasi bahwa setelah seharian menahan lapar, kita juga harus berkomitmen untuk berhenti melakukan kemaksiatan dan benar-benar bertobat kepada Allah.
3. Ubi Jalar untuk Mengubur Kesalahan
Selain pisang, ubi jalar atau yang dalam bahasa Jawa disebut telo pendhem juga memiliki filosofi yang kuat. Kata 'pendhem' berarti menanam atau mengubur di dalam tanah.
Maknanya, umat Islam diajak untuk mengubur segala kesalahan, keburukan, dan dendam di masa lalu sedalam mungkin. Dengan memakan ubi ini, seseorang diharapkan mampu membuka lembaran baru yang lebih bersih dan meninggalkan jejak-jejak dosa yang telah lama terkubur.
4. Mengendalikan Hawa Nafsu dengan Kebaikan
Melalui perpaduan rasa manis gula aren dan gurihnya santan, kolak menggambarkan bahwa proses mendekatkan diri kepada Tuhan dan memperbaiki diri adalah sesuatu yang nikmat jika dilakukan dengan sungguh-sungguh.
Setiap suapan kolak menjadi pengingat bagi umat Islam di Jawa agar terus menguburkan dosa melalui perbuatan baik. Jadi, saat kita berbuka dengan kolak, kita tidak hanya membatalkan puasa secara fisik, tetapi juga memperbarui niat untuk menjadi pribadi yang lebih baik di hadapan Sang Pencipta.
Cara Membuat Kolak Pisang
Setelah memahami filosofi mendalam di balik isian kolak yang sarat akan pesan pertobatan, tentu kita ingin menghadirkan hidangan penuh makna ini di meja makan. Berikut ini adalah cara membuat kolak pisang sebagaimana dikutip dari buku Kue-kue Indonesia tulisan Yasa Boga. Isian kolak juga bisa kita sesuaikan dengan selera masing-masing.
Bahan-bahan:
- 1 buah ubi jalar (kupas, potong dadu)
- 1 buah ubi kayu/singkong (potong dadu)
- 3 buah pisang raja atau kepok (potong menjadi 2-3 bagian)
- 3-6 mata nangka atau durian (sebagai penambah aroma)
- 100 gram kolang-kaling (rebus hingga lunak)
- 750 ml santan cair
- 100 ml santan kental
- 150 gram gula merah
- 1 sdt garam
- 2 lembar daun pandan (sobek-sobek, buat simpul)
Cara membuat:
- Didihkan santan cair bersama kolang-kaling, daun pandan, dan garam. Pastikan untuk terus mengaduk agar santan tidak pecah.
- Kecilkan api, lalu masukkan ubi kayu, pisang, dan durian.
- Masukkan gula merah dan santan kental. Masak hingga mendidih kembali dan seluruh bahan matang sempurna. Tetaplah mengaduk pelan agar rasa merata.
- Jika menggunakan ubi jalar dan nangka, masukkan kedua bahan ini pada tahap paling akhir karena teksturnya yang cepat lunak. Setelah matang, angkat dan sajikan.
- Karena waktu untuk merebus tiap bahan berbeda-beda, ada baiknya ubi kayu atau singkong dikukus terlebih dahulu sampai empuk sebelum dicampurkan.
- Dengan cara ini, waktu memasak bersama santan menjadi lebih singkat dan efisien.
Nah, itulah tadi penjelasan mengenai sejarah kolak pisang yang identik dengan takjil Ramadan. Semoga bermanfaat!
FAQ Sejarah Kolak Pisang
Apakah kolak pisang makanan tradisional?
Ya. Kolak pisang merupakan makanan tradisional Indonesia yang telah lama hadir dalam budaya kuliner Nusantara. Hidangan ini berkembang melalui akulturasi antara tradisi lokal dan pengaruh dakwah para wali, hingga akhirnya menjadi menu khas Ramadan.
Bagaimana sejarah olahan makanan kolak ada di Indonesia?
Sejarah kolak di Indonesia terkait erat dengan Syekh Maulana Malik Ibrahim yang dikenal sering berbuka dengan kolak, hingga dijuluki Sunan Kolak. Kebiasaan ini diikuti masyarakat setempat dan kemudian menyebar luas, bertransformasi menjadi tradisi kuliner Ramadan yang bertahan hingga kini.
Apa filosofi kolak?
Filosofinya berkaitan dengan pesan pertobatan dan kedekatan dengan Sang Pencipta. Pisang kepok dikaitkan dengan konsep 'kapok' sebagai simbol jera terhadap dosa, telo pendhem atau ubi jalar melambangkan mengubur kesalahan masa lalu, sementara manisnya gula aren mengingatkan bahwa perbaikan diri adalah proses yang indah.
(par/apl)











































