Terkuaknya Dugaan Kasus Kekerasan Seksual Mahasiswi UNY

Jauh Hari Wawan S. - detikJateng
Kamis, 27 Jan 2022 06:42 WIB
Poster
Ilustrasi kekerasan seksual (Foto: Edi Wahyono)
Sleman -

Dugaan kasus kekerasan seksual mencuat di Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Kasus yang menimpa mahasiswi UNY angkatan 2019 ini juga telah tersebar luas di berbagai platform media sosial.

Disebutkan dalam sejumlah postingan di Twitter, terduga pelaku merupakan salah satu senior di Unit Kegiatan Mahasiswa Fakultas (UKMF) Sangkala FBS UNY. Pihak UKMF Sangkala FBS UNY pun telah mengeluarkan pernyataan sikap terkait dugaan kasus kekerasan seksual yang melibatkan salah satu anggotanya.

"Dugaan kasus kekerasan seksual yang melibatkan terduga pelaku SR pertama kali diadukan kepada DPO Dewan Pertimbangan Organisasi) pada 15 Januari 2022," tulis akun Instagram resmi @sangkalafbsunny, seperti dikutip detikJateng, Rabu (26/1/2022).

Lewat Instagramnya, Sangkala FBS UNY menyatakan berkomitmen untuk menindak tegas segala macam bentuk kekerasan seksual tanpa pandang bulu, baik yang dilakukan anggota, Pengurus Inti (PI), Dewan Pertimbangan Organisasi (DPO), maupun Dewan Pembina (DP). Kasus dugaan kekerasan seksual ini kini ditangani Dewan Pertimbangan Organisasi dan Pengurus Inti.

"Menindaklanjuti laporan itu, DPO dan PI telah menyusun rencana untuk membentuk Tim Pencari Fakta serta meminta persetujuan dari penyintas untuk mendalami, menyelidiki, dan mengungkap kebenaran dugaan kasus kekerasan seksual ini," jelasnya.

SR saat ini telah dinonaktifkan dari seluruh aktivitas organisasi dan mencabut hak-haknya sampai penyelidikan kasus ini terungkap. Kemudian DPO dan PI juga akan membentuk Tim Pencari Fakta, yang melibatkan pihak-pihak yang berkompeten dan memiliki independensi dalam menyelesaikan kasus ini.

"Selama proses penyidikan berlangsung. kami akan menyediakan pendampingan dan memberikan perlindungan, baik secara fisik maupun psikis, bagi penyintas," tegasnya.

Nantinya, apabila terduga pelaku terbukti bersalah maka pihak Sangkala FBS UNY akan memproses kasus ini melalui jalur yang tepat dan sesuai.

"Sebagai tanggung jawab moril terjadinya kasus ini, kami siap menuntaskan dugaan kasus kekerasan seksual ini dengan mengutamakan keberpihakan terhadap penyintas. Kami tidak akan memberikan tempat bagi pelaku kekerasan seksual demi menciptakan ruang yang aman bagi seluruh anggota," tutup pernyataan sikap itu.

Rektor UNY Bentuk Satgas

Pihak kampus pun saat ini masih melakukan penelusuran sembari menunggu laporan dari penyintas.

"Belum (ada laporan), justru kami baru mencari. Kami belum dapat informasi dari pihak-pihak terkait. Tapi kami pro aktif (untuk menelusuri)," kata Rektor UNY Prof Sumaryanto saat dihubungi wartawan, Rabu (26/1).

Rektorat, kata Sumaryanto, segera membentuk Satgas untuk menangani kasus ini. Selain itu, pihaknya juga akan merevisi Peraturan Rektor No 17 Tahun 2020 tentang Penanggulangan Kekerasan Seksual di UNY mengacu pada Permendikbud Nomor 30 Tahun 2021.

"Benar (akan membuat Satgas) melibatkan unsur BEM," ucapnya.

Rektorat bakal tegas memberikan sanksi sesuai aturan yang berlaku terkait kasus kekerasan seksual. Jika terbukti bersalah, pihak kampus bisa memberikan sanksi internal bahkan hingga ke ranah hukum.

"Kami kan ada etika mahasiswa, etika dosen, maka karena kami punya rambu-rambu itu bisa menggunakan sanksi internal. Tetapi kalau sudah masuk ranah eksternal, publik, pidana, ya sudah kami serahkan kepada penegak hukum," ungkapnya.

BEM KM UNY kecam kasus ini

Terkait kasus kekerasan seksual ini BEM KM UNY turut angkat bicara. Pihak BEM mengecam segala bentuk kekerasan seksual.

"BEM KM UNY mengecam segala bentuk kekerasan seksual," kata Ketua BEM KM UNY Ryan Maulia Muhammad kepada wartawan, kemarin.

Selain mengecam segala bentuk kekerasan seksual, BEM KM UNY juga siap mengawal dan mendampingi korban.

"BEM KM UNY akan mengawal dan mengusut hingga tuntas kasus kekerasan seksual yang terjadi," tegasnya.

Ryan juga menjelaskan sejak adanya informasi dugaan kasus kekerasan seksual terhadap mahasiswi UNY angkatan 2019 itu, BEM KM UNY telah melakukan diskusi dengan rektorat. Dari hasil diskusi tersebut dijelaskan Tim Biro Hukum UNY sedang merevisi Peraturan Rektor UNY Nomor 17 Tahun 2020 tentang Penanggulangan Kekerasan Seksual di UNY mengacu pada Permendikbud Nomor 30 Tahun 2021.

Setelah itu, akan dibentuk Tim Satgas untuk menangani kasus kekerasan seksual yang berkolaborasi dengan BEM KM UNY.

"Setelah revisi peraturan ditetapkan, akan segera membentuk Tim Satgas atau Tim Kode Etik khusus untuk menindaklanjuti Pencegahan dan Penanganan setiap kasus kekerasan seksual, berkolaborasi dengan BEM KM UNY untuk usut tuntas permasalahan tersebut," katanya.

Siap dampingi hingga ranah hukum

Dia menjelaskan rektorat akan terbuka untuk berkolaborasi dengan BEM KM UNY untuk memberikan pendampingan kepada korban hingga ke ranah hukum jika diperlukan.

"Rektor serta Tim Kemahasiswaan dan Alumni UNY, akan sangat terbuka apabila BEM KM UNY juga berkolaborasi dan dapat menyampaikan terkait setiap kasus kekerasan seksual di kampus dan siap memberikan pendampingan ke ranah hukum jika memang diperlukan. Namun, pihak kampus tidak akan bisa menindaklanjuti kasus apabila tidak ada laporan atau pengaduan," jelasnya.

Pihaknya juga tengah menelusuri ke pengurus BEM 2021 apakah sebelumnya sudah menerima laporan kasus ini atau belum.

"BEM UNY periode 2022 masih coba menghubungi pengurus periode sebelumnya untuk mendapatkan data validnya (pelaporan)," ujar Ryan.



Simak Video "Mau Lapor Pelecehan Seksual, Wanita di Boyolali Diduga Dilecehkan Polisi"
[Gambas:Video 20detik]
(ams/ams)