Run to Geopark bakal digelar di Bukit Cinta Watu Prahu, Desa Gununggajah, Kecamatan Bayat, Klaten, pada Minggu (14/12/2025). Run to Geopark turut menawarkan jalur atau trek lari yang beragam hingga keindahan panorama alam.
Acara tersebut terselenggara berkat kolaborasi Badan Perencanaan Pembangunan Riset dan Inovasi Daerah (Bapperida) Klaten, Clongop Akademia, dan komunitas pelari.
Sri Nuryani dari Bapperida Klaten menyebut Run to Geopark diikuti oleh 500 peserta. Dari jumlah tersebut, sekitar sebanyak 35 persen peserta berasal dari luar Klaten.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Nuryani menjelaskan para peserta bakal menyusuri trek sepanjang kurang lebih 8 km. Dia menyebut para peserta bisa menikmati pemandangan alam yang cantik sembari berlari.
"Jadi yang kita tawarkan adalah keindahan alam yang ada di bentang alam," jelas Nuryani saat ditemui detikJateng di kantor Bapperida Klaten, Kecamatan Klaten Selatan, Kamis (11/12/2025).
Nuryani mengatakan, peserta juga dapat melihat tanaman langka yang tumbuh di wilayah Bayat. Salah satu vegetasi langka itu yakni Pandan Alas.
"Kita biasa melihat view dari atas, bisa melihat juga beberapa jenis tanaman yang kemungkinan besar banyak tanaman langka yang tidak kita jumpai di bawah. Karena salah satu pohon yang termasuk pohon langka itu Pandan Alas," tuturnya.
Foto: dok. Panitia Run to Geopark |
Tak hanya bentang alam, para peserta juga bakal melewati bebatuan purba sepanjang trek. Nuryani mengatakan, bebatuan purba itu diusulkan untuk menjadi Geopark.
"Ini hanya beberapa batu, hanya lima batuan yang kita lewati. Tapi harapannya ini sudah menggambarkan bahwa bentang alam yang ada di Bayat itu alangkah indahnya," katanya.
Lebih lanjut, Nuryani menjelaskan, 80 persen trek yang dilewati peserta berupa tanah, sisanya merupakan aspal. Selain tanah, trek juga didominasi bebatuan. Peserta juga bakal melewati hutan usai mencapai water station.
"Jadi nanti kita masuk hutannya itu ada di kurang lebih di tiga, tiga bukit. Tiga bukit itu kita masuk hutannya tiga kali seperti itu," jelasnya.
Sebab itu, Nuryanto menilai, trek yang bakal ditempuh bervariasi. Terlebih ketinggian trek sekitar 200 meter di atas permukaan laut (mdpl).
"Cukup beragam (treknya). Kalau bisa saya bilang salah satu jalur enak lah, playable," pungkasnya.

