Bea Cukai Surakarta Bantu UMKM Minyak Atsiri Rambah Pasar India

Bea Cukai Surakarta Bantu UMKM Minyak Atsiri Rambah Pasar India

Jihaan Khoirunnisa - detikJateng
Kamis, 27 Okt 2022 15:55 WIB
Bea Cukai Surakarta Bantu UMKM Minyak Atsiri Rambah Pasar India
Foto: Dok. Bea Cukai Surakarta
Jakarta -

Bea Cukai Surakarta berupaya memberikan pelayanan kepabeanan bagi pelaku UMKM di wilayah Solo Raya agar dapat berkembang hingga mampu melakukan ekspor ke luar negeri. Salah satunya Endang Listiani (Elis) yang merupakan pendiri PT Syailendra Bumi Investama.

Diketahui, berkat pendampingan dari Bea Cukai Surakarta produk minyak atsiri PT Syailendra Bumi Investama berhasil menembus pasar India. Adapun ekspor perdananya telah dilakukan pada 17 Oktober 2022 lalu.

Kepala Kantor Bea Cukai Surakarta Budi Santoso mengatakan langkah ekspor tersebut menjadi bukti produk UMKM lokal bisa go internasional.


"Produk yang diekspor berupa Sugandh Mantri Essential Oil Pure sejumlah 100 kilogram dengan negara tujuan India. Jika dilihat dari nilai devisa, maka nilai devisa yang didapatkan negara adalah sebesar US$ 25.469 atau diperkirakan sekitar Rp 391 juta," kata Budi dalam keterangan tertulis, Kamis (27/10/2022).

Dia berharap kegiatan ekspor ini dapat terus berjalan, sehingga mampu mendorong perekonomian negara. Apalagi mengingat peran UMKM sebagai roda penggerak utama perekonomian nasional. Kebangkitan UMKM artinya meningkatkan produktivitas pekerja dalam negeri serta memperbanyak peredaran produk dalam negeri.

Sementara itu, Elis mengucapkan terima kasih atas bantuan, dukungan, serta pendampingan dari Bea Cukai Surakarta. Khususnya dalam melaksanakan ekspor.

"Tidak hanya membantu perizinan, tapi kami selalu dipandu dan didampingi oleh pihak Bea Cukai Surakarta. Selain itu, mereka bahkan mendatangi dan memberikan solusi untuk teman-teman UMKM agar ekspor dapat berjalan dengan lancar," tuturnya.

Lebih lanjut Elis menjelaskan usahanya dirintis sejak tahun 2014 silam. Menurutnya perjuangan merintis bisnis bukan perkara mudah, karena dibutuhkan ketekunan dan ketangguhan agar mampu bertahan dan terus berkembang.

Dikatakan Elis selama menjejaki karier di dunia entrepreneur, dia pun harus mengarungi banyak rintangan dalam menjalankan bisnis pertanian berupa rimpang-rimpangan hingga menjadi produk minyak atsiri dan berhasil melakukan ekspor ke India.

"Karier saya dulunya dimulai pada tahun 2014 lalu, dengan membeli rimpang-rimpangan dari petani. Pada tahun 2016, kami mulai mencoba melakukan penyulingan atas hasil pertanian yang dikumpulkan. Sampai tahun 2019, saya sempat merasakan asam manis perjuangan, di mana produk hasil penyulingan (atsiri) kami bernilai jual tinggi dan memberikan keuntungan yang besar," terangnya.

Elis pun menceritakan pengalamannya yang sempat mengalami penipuan hingga Rp 1 miliar, kebakaran lahan pertanian, bahkan hingga kebakaran lokasi produksi penyulingan. Bahkan diakui Elis, dirinya sempat memulai usaha dengan modal minus. Alias harus berutang.

"Dalam memulai usaha kita perbanyak relasi dengan petani dan penyuling. Kita mencoba untuk membantu menampung dan memasarkan produk mereka. Karena saat itu saya melihat ada permainan harga, di mana harga minyak atsiri di pasar lokal justru lebih rendah dari biaya produksi, maka saya berinisiatif untuk dapat memasarkan produk minyak atsiri ke luar negeri," tuturnya.

(akd/ega)