Bos Sritex Iwan Lukminto Divonis 14 Tahun Penjara

Bos Sritex Iwan Lukminto Divonis 14 Tahun Penjara

Arina Zulfa Ul Haq - detikJateng
Rabu, 06 Mei 2026 14:36 WIB
Sidang vonis bos PT Sritex, Iwan Setiawan di Pengadilan Tipikor Semarang, Kecamatan Semarang Barat, Kota Semarang.
Sidang vonis bos PT Sritex, Iwan Setiawan di Pengadilan Tipikor Semarang, Kecamatan Semarang Barat, Kota Semarang. Foto: Arina Zulfa Ul Haq/detikJateng
Semarang -

Iwan Setiawan Lukminto, bos PT Sritex, divonis hukuman 14 tahun penjara dalam kasus korupsi fasilitas kredit PT Sritex beserta denda senilai Rp 1 miliar. Hal itu disampaikan Ketua Majelis Hakim Rommel Franciskus Tampubolon dalam sidang putusan kasus korupsi kredit PT Sritex di Pengadilan Tipikor Semarang, Kecamatan Semarang Barat.

Dalam sidang tersebut, putusan untuk Iwan Setiawan Lukminto dan Iwan Kurniawan Lukminto, dibacakan terpisah. Tampak Mantan Direktur Utama PT Sritex tahun 2005-2002 itu menggunakan kemeja coklat.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Iwan Setiawan yang sudah hadir sejak pukul 09.00 WIB sebelumnya tampak terus menunduk dan terlihat menangkupkan kedua tangan. Sebelum sidang, mereka juga tampak berdoa bersama.

Sidang yang dijadwalkan pukul 09.00 WIB itu baru dimulai sekitar pukul 12.45 WIB. Tampak berkas bersampul pink yang sangat tebal tertumpuk di samping meja majelis hakim.

ADVERTISEMENT

Majelis Hakim memutuskan terdakwa Iwan Setiawan terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana korupsi secara bersama-sama dan secara berlanjut.

"Menjatuhkan pidana penjara terhadap terdakwa Iwan Setiawan dengan pidana penjara selama 14 tahun dikurangi masa penahanan," kata hakim Rommel di Pengadilan Tipikor, Rabu (6/5/2026).

Selain itu, hakim memvonis Iwan Setiawan membayar denda sebesar Rp 1 miliar, yang jika pidana denda tidak dibayar dalam jangka waktu 1 bulan, kekayaannya disita dan dilelang untuk melunasi pidana denda yang tidak dibayar.

"Jika hartanya tidak cukup, maka diganti pidana penjara selama 190 hari," ujarnya.

Iwan Setiawan juga dituntut membayar uang pengganti sebesar Rp 677 miliar. Jika dalam waktu 1 bulan sesudah putusan pengadilan mempunyai kekuatan hukum tetap, dia tidak membayar uang pengganti, harta bendanya disita dan dilelang untuk menutupi uang pengganti tersebut.

"Dalam hal terdakwa tidak mempunyai harta benda yang mencukupi untuk membayar uang pengganti, maka terdakwa dijatuhi hukuman penjara 6 tahun," tuturnya.

Dalam pertimbangan yang memberatkan, hakim menyebut perbuatan Iwan Setiawan tidak mendukung upaya pemberantasan tindak pidana korupsi yang saat ini menjadi prioritas pemerintah.

"Hal yang memberatkan, Iwan Setiawan mengakibatkan kerugian negara dengan jumlah yang besar, terdakwa tidak merasa bersalah dan mengakui perbuatannya. Terdakwa adalah orang yang paling berperan serta dalam tindak pidana ini," kata jaksa.

Adapun, Iwan Setiawan disebut melanggar Pasal 2 ayat (1) jo Pasal 18 UU Tipikor jo Pasal 55 KUHP, serta Pasal 3 UU No. 8 Tahun 2010 tentang Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU).

Usai mendengarkan putusan hakim, Iwan Setiawan hanya bisa terdiam. Atas putusan hakim, terdakwa dan pengacaranya mengajukan banding.

Sebelumnya diberitakan, dua bos PT Sritex, Iwan Setiawan Lukminto dan Iwan Kurniawan Lukminto didakwa merugikan negara hingga Rp 1,35 triliun.

Jaksa Penuntut Umum (JPU) Fajar Santoso mendakwa keduanya melakukan korupsi bersama-sama dengan sepuluh terdakwa lain yang disidang secara terpisah.

"Perbuatan para terdakwa merugikan negara atau perekonomian negara sebesar Rp 1,35 triliun," kata Jaksa Fajar di Pengadilan Tipikor, Senin (22/12/2025).

Ia menjelaskan, kerugian itu berasal dari penyalahgunaan fasilitas kredit modal kerja sejumlah bank, yakni Bank BJB, Bank DKI, dan Bank Jateng. Hal itu tercantum dalam laporan audit investigatif Badan Pemeriksa Keuangan (BPK).

JPU pun menuntut majelis hakim memvonis hukuman bui 16 tahun serta membayar uang pengganti Rp 677 miliar.

Saat kasus ini terjadi Iwan Lukminto menjabat sebagai Direktur Utama PT Sritex. Terakhir, dia memegang jabatan sebagai Komisaris Utama di perusahaan tersebut.




(par/ahr)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads