Pelaku pembunuhan sadis anak politikus PKS di Cilegon, Banten ternyata adalah perampok. Korban, A (9) sempat melawan sebelum akhirnya dihujani tusukan oleh pelaku, HA.
Dikutip dari detikNews, peristiwa itu terjadi 16 Desember 2025 lalu tepatnya di rumah mewah perumahan BBS 3, Cilegon. Saat itu HA sendirian melancarkan aksi dengan modus membobol rumah.
Aksinya direncanakan dengan menarget rumah mewah. Dia menekan tombol tiga kali untuk mengecek apakah ada orang di rumah tersebut. Rumah korban adalah rumah pertama.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Pelaku ini adalah pelaku tunggal, kemudian melakukan pencurian di rumah yang jadi sasaran secara acak, modusnya adalah yang bersangkutan memencet bel. Memencet bel sampai dengan tiga kali sampai dengan empat kali, apabila tidak ada yang merespons dianggapnya itu adalah rumah kosong, sehingga yang bersangkutan akan meloncat pagar dan melakukan aksinya," kata Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Banten Kombes Dian Setyawan dalam konferensi pers di Polres Cilegon, Senin (5/1/2026).
"Apabila dibel itu ada orang yang menemuinya mereka akan pura-pura menanyai alamat," imbuhnya.
Di lokasi kejadian HA sudah menekan bel 4 kali. Karena tidak ada yang membuka pintu, dia masuk lorong dan mencongkel jendela kamar pembantu.
"Yang pertama TKP satu, kejadian kurang lebih durasi pukul 13.17-13.42, yang mana pada saat itu kondisi hujan lebat. Pelaku mendatangi ke TKP satu, memencet bel sebanyak 4 kali, tidak ada respons kemudian pelaku memencet melalui tiang di samping pos satpam," kata dia.
"Setelah berhasil masuk, pelaku langsung menuju lorong sebelah kiri rumah utama, di situ ada lorong, kemudian mencongkel jendela di kamar pembantu, tepatnya bagian kiri rumah utama," ucap dia.
HA saat itu memakai helm full face ditambah masker serta sarung tangan. Dia berhasil masuk rumah dan melihat brankas namun gagal membukanya. Kemudian dia ke lantai dua dan melihat korban sedang bermain ponsel di kasurnya.
"Selanjutnya korban menghampiri, pelaku mengasih kode untuk diam," katanya sambil memperagakan pelaku mengacungkan jari telunjuk ke mulut.
"Selanjutnya (pelaku) sempat nanya 'ayahmu di mana?'. Korban sempat menjawab 'keluar'," katanya menambahkan.
Pelaku bertanya ke korban soal kunci brankas namun dia tidak tahu. Korban juga mengatakan 'mungkin kakak D tahu' sambil menunjuk kamar kakaknya yang ada di ujung lantai 2.
"Selanjutnya korban dirangkul dibawa ke almari putih di kamar utama bapaknya. Di situ diikat," katanya.
Saat hendak diikat, korban melakukan perlawanan dengan cara 2 kali menendang kemaluan pelaku, lutut, dan siku. Namun korban justru ditusuk. Korban yang kesakitan berteriak dan pelaku semakin membabi buta.
"Dari situ, pelaku langsung menusuk korban," ucapnya.
Setelah melakukan penusukan, pelaku turun ke lantai 1 ke tempat brankas. Di dekat brankas itu ditemukan bekas darah di bagian kunci kode dan bagian atas brankas.
"Dipikirnya tidak berhasil, pelaku langsung kabur lewat jalan masuk yaitu jendela pembantu, loncat pagar dan melarikan diri," lanjutnya.
Hasil pemeriksaan dokter, ada 19 luka di tubuh korban. Rinciannya yaitu 10 luka tusuk dan 9 luka akibat benda tumpul mengakibatkan memar, lecet, dan bengkak di tubuh korban.
"Ada 10 luka tusuk dan 9 luka tangkis dan sisanya kekerasan tumpul berupa memar luka lecet dan bengkak," kata Kepala Instalasi Forensik RSUD Cilegon, Baety Adhayati.
Motif Pelaku
Pelaku HA sempat jadi buron 3 pekan. Dia ditangkap Jumat (2/1). Saat ketahuan, HA kabur ke dalam rumah hingga disergap warga dan polisi.
Setelah dilakukan pemeriksaan, aksi sadis itu dilakukan HA karena motif ekonomi. Dia ketagihan saham kripto karena sebelumnya menang Rp 4 miliar dengan modal Rp 400 juta.
"Dari Rp 400 juta ini dimainkan berkembang sampai mendatangkan keuntungan senilai Rp 4 miliar," kata Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Banten Kombes Dian Setyawan.
"Dimainkan lagi sehingga yang bersangkutan kalah, adapun akun yang digunakan yaitu melalui aplikasi," jelas Dian.
Setelah kalah, dia nekat meminjam meminjam uang dari bank sebesar RP 700 juta, kemudian pinjam dari koperasi tempat pelaku bekerja sebesar Rp 70 juta dan meminjam dari pinjaman online (pinjol) sebesar Rp 50 juta.
"Tujuannya apa untuk main kripto lagi, tapi hasil yang diperoleh kalah kembali," sambungnya.
