Patahan batu yang diduga arca Agastya ditemukan di makam Desa Kauman, Kecamatan Ngawen, Klaten. Patahan tersebut nampak seperti batuan andesit berbentuk keong jika dilihat dari jauh.
"Saya dekati ternyata patahan arca diduga arca resi Agastya karena ada ornamen Kamandalu (kendi simbol ilmu pengetahuan). Meskipun arca Durga juga pegang Kamandalu tapi kayaknya bukan," kata pegiat sejarah, Yohanes Sudaryanto, kepada detikJateng melalui sambungan telepon, Selasa (8/9/2026).
Ia menyebut batu itu pertama kali dilihat anaknya, Abiyasa Laksamana, saat blusukan ke makam Sewan pada Minggu (6/9). Keduanya datang ke pemakaman itu untuk untuk mendokumentasikan nisan-nisan tua.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Penemunya anak saya pas saya ajak blusukan ke makam Sewan, Kauman, Ngawen," katanya.
"Ya tujuannya mendokumentasikan nisan-nisan. Ndilalah pas selesai anak saya melihat benda unik," tutur Yoan.
Yoan menduga patahan arca itu lebih ke arca resi Agastya karena posisi Kamandalu di bawah. Patahan arca itu kini telah diserahkan kepada juru kunci Candi Merak untuk dirawat.
''Terus saya bersihkan, saya bawa pulang. Sekitar jam 17.30 WIB saya pasrahkan ke mas Muhammad Alib, juru pelihara Candi Merak untuk dirawat, " sambung Yoan.
Yoan menyatakan, posisi batu tersebut tidak terpendam dalam tanah, tapi terselip di antara pagar pendek agar tanah tidak longsor dekat nisan.
"Posisinya nyempil di dekat nisan mustaka, ya pas azan itu ditemukan. Itu bagian pinggang sampai mata kaki arca, " imbuhnya.
Pengelola umum operasional Candi Merak, Jarot Kiswanto, membenarkan ada penyerahan batu diduga patahan arca itu. Saat ini sudah disimpan di kompleks candi Merak.
"Saat ini sudah diamankan di Candi Merak, " jelasnya kepada detikJateng.
