Meriahnya Tradisi Sadranan Maulid Nabi di Mlambong Boyolali

Meriahnya Tradisi Sadranan Maulid Nabi di Mlambong Boyolali

Jarmaji - detikJateng
Selasa, 25 Agu 2026 19:55 WIB
Ratusan warga mengikuti tradisi Sadrnan Maulid Nabi Muhammad SAW, di makam Mlambong, Sruni, Musuk, Boyolali Selasa (25/8/2026).
Ratusan warga mengikuti tradisi Sadrnan Maulid Nabi Muhammad SAW, di makam Mlambong, Sruni, Musuk, Boyolali Selasa (25/8/2026). (Foto: Jarmaji/detikJateng)
Boyolali -

Memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW, warga di lingkup RW 04 dan 05 Desa Sruni, Kecamatan Musuk, Kabupaten Boyolali menggelar tradisi Sadranan, hari ini. Tradisi ini juga untuk mendoakan para leluhur yang telah meninggal dunia.

Ratusan warga anak-anak hingga orang dewasa mengikuti tradisi yang berlangsung di pemakaman umum Dukuh Mlambong, Desa Sruni. Kegiatan pun berlangsung meriah.

"Tradisi sadranan ini merupakan tradisi tahunan, yang sudah turun temurun dari zaman nenek moyang dahulu. Dilaksanakan dalam rangka memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW, dan juga untuk mendoakan para leluhur yang dimakamkan di makam Mlambong," kata tokoh agama setempat, Ngateman, dalam tradisi sadranan di pemakaman umum Dukuh Mlambong, Desa Sruni, Selasa (25/8/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kegiatan tradisi sadranan yang dilaksanakan bertepatan dengan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW ini diikuti warga di lingkup RW 04 dan RW 05 Desa Sruni dan sekitarnya. Juga warga daerah lain yang memiliki leluhur dan dimakamkan di pesarean tersebut.

Tradisi ini diawali dengan bubak atau bersih-bersih makam yang dilaksanakan sehari sebelumnya atau Minggu (24/8) kemarin. Kemudian hari ini tadi dilaksanakan sadranan atau nyadran.

ADVERTISEMENT

Dengan membawa tenong maupun rinjing berisi beraneka makanan, warga berbondong-bondong ke pemakaman umum tersebut. Mereka berasal dari 6 RT di lingkup RW 04 serta beberapa RT di RW 05 Desa Sruni.

Juga diikuti para warga dari berbagai daerah lain yang memiliki leluhur yang dimakamkan di makam Mlambong. Tak hanya warga yang sudah dewasa, anak-anak pun ikut, laki-laki dan perempuan.

Kenduri sadranan diawali dengan pembacaan dzikir tahlil dan pembacaan surat Yasin yang dipimpin pemuka agama setempat. Setelah doa, kemudian dilanjutkan makan bersama. Warga juga saling berbagi makanan yang dibawanya.

Dikemukakan, kegiatan trandisi ini juga sebagai wujud syukur warga kepada Allah SWT. Juga untuk melestarikan tradisi dari nenek moyang yang telah berlangsung turun temurun.

"Ini juga sebagai wujud rasa syukur kami kepada Allah SWT, atas limpahan nikmat dan rezeki kepada kita semua. Juga untuk nguri-uri tradisi yang telah berlangsung secara turun temurun," imbuhnya.

Di Dukuh Mlambong, Desa Sruni yang berada di kawasan lereng Gunung Merapi sisi timur ini, tradisi nyadran atau sadranan berlangsung dua kali dalam setahun. Selain di bulan Mulud bertepatan dengan Maulid Nabi Muhammad SAW, juga di laksanakan bulan Ruwah, menjelang bulan Ramadhan.



(aku/aku)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads