Kirab Sam Poo Tay Djien ke-621 digelar di Kota Semarang. Tradisi yang digelar untuk memperingati kedatangan Laksamana Cheng Ho ini diikuti puluhan peserta dari berbagai daerah di Indonesia.
Kawasan Pencinan Semarang diramaikan dengan gemuruh dentuman tambur, alunan musik tradisional Cina, dan kepulan dupa petang ini. Rombongan Kirab Poo Tay Djien tiba di klenteng yang menjadi titik awal kirab budaya peringatan 621 tahun kedatangan Laksamana Cheng Ho atau Yang Suci Sam Poo Tay Djien.
Ketua Panitia Perayaan, Djoko Weyong mengatakan, kirab itu menghubungkan dua klenteng yang menjadi tempat penting dalam penghormatan terhadap Cheng Ho, yakni Klenteng Besar TITD Tay Kak Sie dan Klenteng Agung Sam Poo Kong.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Rangkaian kirab pun telah berlangsung sejak Selasa (11/8), dengan pemberangkatan Kio atau tandu arca Sam Poo Tay Djien dari Tay Kak Sie menuju Sam Poo Kong.
Arak-arakan berjalan kaki melewati sejumlah kawasan bersejarah di Pecinan Semarang, antara lain Gang Lombok, Gang Pinggir, Wotgandul, Plampitan dan Kranggan, kemudian menuju Jalan Pemuda hingga Klenteng Agung Sam Poo Kong di Simongan.
Setelah menjalani ritual di Sam Poo Kong, rombongan kemudian kembali ke Tay Kak Sie mulai pukul 13.00 WIB dan tiba kembali di Klenteng Tay Kak Sie sore ini.
"Kita mulai kirab dari Sam Poo Kong menuju daerah Pecinan, sampai tadi kita sudah masuk di Klenteng Tay Kak Sie. Semuanya lancar dan sukses," kata Djoko di Klenteng Tay Kak Sie, Sabtu (15/8/2026).
Menurutnya, kirab tersebut bukan sekadar kegiatan keagamaan, tetapi menjadi bagian dari upaya menjaga budaya yang telah diwariskan secara turun-temurun.
"Maknanya kita menjaga budaya kita. Sebagai generasi muda kita akan menjaga kelestarian budaya kita," ujarnya.
Ia menjelaskan, Laksamana Cheng Ho sendiri merupakan tokoh maritim Dinasti Ming yang memimpin tujuh ekspedisi laut ke berbagai wilayah Asia hingga Afrika Timur pada abad ke-15.
"Pelayaran pertama Cheng Ho mencapai Jawa pada 1405. Kedatangannya tidak hanya membawa misi dagang, tetapi juga diplomasi antarbangsa yang menjunjung tinggi toleransi," ucapnua.
Ia menyebut, nilai perdamaian, persahabatan dan toleransi tersebut kemudian terus dirawat melalui tradisi kirab yang melibatkan berbagai komunitas dari sejumlah daerah.
Tak hanya itu, lanjutnya, kirab itu juga menjadi momentum untuk memohon berkah bagi Kota Semarang agar senantiasa diberikan keamanan, kesehatan dan kelancaran.
Kirab itu tak hanya diikuti berbagai klenteng di Jawa Tengah. Terdapat peserta dari luar Jawa Tengah. Salah satu peserta dari Klenteng Cetiya Metta Padma Bekas, Hanna mengatakan, rombongannya membawa kimsin atau arca Sam Poo Tay Djien dalam kirab.
"Untuk yang kita bawa itu yang suci Sampo Tay Djien. Untuk temanya kita memang biasanya pakai air dengan bunga-bunga supaya lebih cerah," kata Hanna.
Hanna mengatakan, rombongannya membawa kimsin yang sebelumnya diberikan oleh pihak Tay Kak Sie. Keikutsertaan mereka menjadi bentuk penghormatan sekaligus upaya ikut memeriahkan peringatan 621 tahun kedatangan Sam Poo Tay Djien.
"Rombongan kita ada 50 orang. Jujur (perjalanan ke Semarang) seru tapi ada capek juga karena jauh banget. Tapi seru saja karena kita belum pernah sejauh ini," tuturnya.
Ia mengatakan, rombongannya tiba di Semarang sehari sebelum acara dan berada di Kota Semarang selama sekitar dua hari. Ini merupakan kali kedua mereka mengikuti festival tersebut.
"Kebetulan ini yang kedua kali kita datang. Tahun kemarin juga kita membawa yang sama," katanya.
Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng mengatakan, Festival Arak-arakan Cheng Ho itu telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTb) Indonesia. Menurutnya, hal itu menjadi dorongan untuk terus menjaga tradisi dan mengenalkannya kepada generasi muds.
"Semoga pengakuan tersebut mendorong kita untuk terus bersemangat, menjaga tradisi, memperkenalkannya kepada generasi muda dan mengembangkan sebagai bagian dari kekuatan budaya dan pariwisata Kota Semarang," kata Agustina.
Ia mengatakan, kirab tahun ini diikuti peserta dari 20 klenteng. Sebanyak 13 klenteng berasal dari Semarang, sementara lainnya datang dari berbagai daerah.
"Yang saya banggakan peserta arak-arakan ada 20 klenteng hari ini. Dari Semarang ada 13, paling banyak," kata Agustina.
Peserta lainnya, lanjut dia, datang dari Malang, Jakarta, Bekasi, Ambarawa, Ungaran hingga Mranggen. Bahkan, terdapat tamu dari luar negeri yang hadir dalam rangkaian kegiatan.
"Ini memberi tambahan nilai, selain ini adalah tradisi yang menguatkan kita di Kota Semarang, juga memberikan hiburan dan memberikan keindahan bagi masyarakat di luar Kota Semarang," ujarnya.
