Bagi orang Jawa, perilaku hewan tertentu dianggap membawa pertanda bagi kehidupan. Bukan hanya pertanda baik, seperti datangnya rezeki atau pekerjaan baru, tetapi juga nasib sial.
Salah satu tanda termayshur datang dari burung dares atau orang Jawa menyebutnya manuk dares. Menurut penjelasan Rahman Latif Alfian dkk dalam tulisannya yang terbit di jurnal Pangadereng, burung dares punya nama ilmiah Tyto alba.
Bagaimanakah rupanya? Di mana habitatnya? Apa makanannya? Yuk, kenalan dengan burung dares dan mitos yang mengikutinya lewat uraian di bawah ini. Baca sampai tuntas, ya, detikers!
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Klasifikasi Ilmiah Burung Dares
Dalam bahasa Inggris, burung dares alias Tyto alba dikenal sebagai burung hantu lumbung atau barn owl. Dilansir Global Biodiversity Information Facility (GBIF), klasifikasinya begini:
- Kingdom: Animalia
- Phylum: Chordata
- Subphylum: Vertebrata
- Class: Aves
- Order: Strigiformes
- Family: Tytonidae
- Genus: Tyto
- Species: Tyto alba
Menurut penjelasan di laman Ask Ifas University of Florida, terdapat 36 subspesies burung hantu Tyto alba di seluruh dunia. Mereka memiliki banyak 'nama panggilan', seperti burung bermuka monyet dan ghost owl.
Karakteristik Fisik Burung Dares
Burung dares betina umumnya lebih besar ketimbang jantan. Mereka mampu tumbuh hingga ukuran 34-40 sentimeter dengan berat 570 gram. Sementara itu, burung dares jantan berukuran panjang 32-38 cm dan berat 470 gram.
Burung dares lazimnya memiliki warna putih di bagian bawah tubuhnya. Bisa juga berwarna cokelat muda dengan dekorasi bintik hitam. Pejantan Tyto alba biasanya lebih putih dan bintik-bintiknya jarang.
Sayap burung dares panjang dengan banyak variasi warna. detikers mungkin menjumpai mereka dengan sayap bernuansa cokelat, cokelat muda, hitam, hingga putih.
Ciri paling khas untuk mendeteksi burung dares adalah bentuk love di muka. Dengan paruh memanjang ke bawah, mata burung dares berwarna hitam gelap dan relatif kecil ketimbang spesies burung hantu lain.
Habitat Burung Dares dan Makanannya
Disadur dari skripsi Fausi Kusmandani Madjid bertajuk Habitat Bersarang Burung Serak Jawa (Tyto alba javanica) di Kabupaten Kendal, Jawa Tengah, manuk dares habitat aslinya adalah wilayah hutan. Mereka memilih pohon-pohon kayu besar berlubang sebagai rumah.
Dengan semakin menipisnya hutan, Tyto alba beradaptasi dengan tinggal lebih dekat ke pemukiman manusia. Burung berwajah menyeramkan ini akan bersarang di bangunan tua, menara, maupun gudang.
Di sarang-sarang itulah, Tyto alba tidur, beristirahat, dan membesarkan anak-anaknya. Tak kelewatan, memberi makan si buah hati dengan mangsa favorit. Memangnya, apa makanan burung dares?
Ved Patki dkk dalam Diet Composition of the Barn Owl Tyto alba (Aves: Tytonidae) and Spotted Owlet Athene brama (Aves: Strigidae) Coexisting in an Urban Environment menyebut makanan kesukaan burung dares adalah hewan pengerat. Itu artinya, mereka berburu tikus, curut, dan hewan semisal.
Selain hewan pengerat, burung dares juga memangsa serangga dan apa pun yang ukurannya cukup kecil sehingga bisa ditelan secara utuh. Mangsa lain, macam katak, kadal, dan burung kecil, pun bisa menjadi opsi.
Mitos Burung Dares di Masyarakat Jawa
Di Desa Ngablak, Kabupaten Pati, suara burung dares yang terkenal serak dan memekik tinggi diyakini penduduk sebagai tanda kematian. Menariknya, suara Tyto alba juga bisa menandakan kelahiran, tergantung arah.
Apabila suara manuk dares terdengar malam hari dari arah yang memotong desa, maka akan ada kematian salah seorang warga. Sementara itu, bila suaranya terdengar membujur mengikuti panjang desa, maka justru kelahiran yang diyakini akan terjadi.
Keterangan mirip disampaikan oleh Rahmad Agung Winari dalam tulisan ilmiahnya yang berjudul Warisan Lisan dan Ketakutan Malam: Kerelevan Mitos Burung Dares di Desa Betro. Bedanya, yang menjadi pertanda bukan suara, tetapi hinggapnya burung dares.
Penduduk Desa Betro percaya, apabila burung dares hinggap di atap, maka akan terjadi hal buruk di rumah tersebut. Karenanya, warga mencegah Tyto alba datang dengan pelbagai cara, seperti membuang sisa makanan dengan baik dan menyumbat lorong di atap rumah.
Mitos semacam ini biasanya diwariskan turun-temurun antargenerasi. Memilih percaya atau tidak dikembalikan pada keyakinan masing-masing.
Nah, itulah sekilas mengenai burung dares, spesies burung hantu yang dianggap membawa pertanda buruk dalam budaya Jawa. Semoga menambah wawasan detikers, ya!
