Kota Solo bersiap menggelar Solo Menari 2026 dalam rangka memperingati Hari Tari Dunia pada Rabu besok. Sebanyak 1.550 penari kipas dipastikan akan memadati kawasan bersejarah Titik Nol Solo untuk menampilkan tarian kolosal bertajuk 'Aku Kipas'.
Direktur Program Solo Menari, Heru Mataya, mengatakan bahwa total pendukung acara tahun ini mencapai 1.700 orang, yang terdiri dari ribuan penari dan satu grup musik. Selain dari Solo Raya, pesertanya juga dari berbagai daerah seperti Bali, Surabaya, Jakarta, NTB, dan Sulawesi.
"Solo Menari 2026 ini adalah perayaan sejarah sekaligus keberagaman. Puncaknya akan ada pergelaran tari kolosal dengan 1.550 penari kipas di Titik Nol, tapi mulai malam nanti sampai besok juga ada, total sekira 1.700 peserta," ujar Heru Mataya saat ditemui di halaman Balai Kota Solo, Selasa (28/4/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Salah satu hal yang unik pada gelaran tahun ini adalah konsepnya yang inklusif. Heru menjelaskan, peserta berasal dari berbagai latar belakang sosial, mulai dari PNS, guru, hingga pelajar.
"Penari lintas usia, lintas profesi, ada pegawai, PNS, guru, dan banyak lagi. Ini adalah pertama kalinya kami menggandeng teman-teman disabilitas dalam jumlah besar," ucapnya.
Heru mengatakan, juga terdapat 72 penari disabilitas yang akan terlibat langsung, serta para penyintas kanker yang akan membawakan tarian Bedhaya.
"Rentang usianya dari anak-anak 4 tahun hingga lansia berumur 84 tahun. Kami ingin menunjukkan bahwa tari adalah milik semua orang tanpa terkecuali. Di sini bukan hanya penari profesional, tapi ada teman-teman disabilitas sebanyak 72 orang. Bahkan ada penari Bedhaya dari teman-teman penyintas kanker," terangnya.
Solo Menari akan berlangsung dengan penampilan 30 grup tari pada malam pembukaan dan puncaknya 40 grup tari yang akan beraksi di panggung utama Titik Nol Solo atau di Jalan Jenderal Sudirman.
"Peserta dari Solo mungkin hanya sekitar 800 orang. Sisanya 750 orang berasal dari luar kota seperti Bali, Surabaya, Jakarta, Sumatera Barat, Nusa Tenggara Barat dan daerah lainnya. Semua menyatu di Tugu Titik Nol," ucapnya.
Soal tema 'kipas', Heru mengatakan, kipas merupakan elemen budaya yang kuat di Indonesia dan Asia, bahkan jejaknya banyak ditemukan pada artefak candi.
Gladi resik Solo Menari 2026 di Jalan Jendral Sudiman, Solo, Selasa (28/4/2026). Foto: Tara Wahyu NV/detikJateng |
"Hampir semua daerah di Indonesia punya tari kipas dengan ragam, bentuk, dan filosofi yang bermacam-macam. Kipas juga banyak ditemukan di artefak candi. Ini menjadi sumber inspirasi yang luar biasa," ujar dia.
Meski berangkat dari tradisi, tarian yang akan dibawakan dikemas secara kontemporer agar relevan dengan generasi masa kini. Musik pengiringnya pun menggunakan gamelan yang diaransemen dengan nuansa modern.
"Sekitar 80 persen peserta adalah remaja. Ini menunjukkan minat generasi muda terhadap seni tari masih sangat tinggi," pungkas Heru.
(dil/afn)

