Kisah Nasionalisme KH Sholeh Darat hingga Larang Celana Jeans di Masa Kolonial

Kisah Nasionalisme KH Sholeh Darat hingga Larang Celana Jeans di Masa Kolonial

Arina Zulfa Ul Haq - detikJateng
Minggu, 19 Apr 2026 12:58 WIB
Kirab budaya Kiai Soleh Darat di Kampung Melayu, Kecamatan Semarang Utara, Kota Semarang, Minggu (19/4/2026).
Kirab budaya Kiai Soleh Darat di Kampung Melayu, Kecamatan Semarang Utara, Kota Semarang, Minggu (19/4/2026). Foto: Arina Zulfa Ul Haq/detikJateng
Semarang -

Kirab budaya dalam rangka haul KH Sholeh Darat di Kota Semarang tak sekadar menjadi perayaan tradisi. Kirab ini juga jadi momentum meneladani nilai perjuangan Kiai Sholeh Darat yang dikenal sebagai guru para tokoh besar pendiri organisasi Islam di Indonesia.

Diketahui, warga Kota Semarang hari ini menggelar kirab budaya dalam rangka memeringati haul sang ulama. Kirab dilaksanakan dari Kampung Melayu, Kecamatan Semarang Utara, kemudian ke Masjid Kyai Sholeh Darat, hingga ke Lapangan Kuningan.

"Kirab Sholeh Darat ini menjadi luar biasa karena dilaksanakan di tempat di mana dilu Mbah Sholeh Darat itu mengasuh pesantren, mengasuh masyarakat, di Kampung Kuningan Darat," kata Ketua PCNU Kota Semarang, Anasom, Minggu (19/4/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ia menjelaskan, kirab hari ini merupakan bagian dari upaya menghidupkan kembali ajaran dan keteladanan Kiai Sholeh Darat kepada masyarakat, khususnya generasi muda.

"Kiai Sholeh Darat itu menginspirasi kiai-kiai yang pernah menjadi murid-muridnya. Seperti Kiai Hasyim Asy'ari pendiri NU dan Kiai Ahmad Dahlan pendiri Muhammadiyah, Bu RA Kartini, Kiai Asnawi, banyak," jelas Anasom.

ADVERTISEMENT

Menurutnya, Kiai Sholeh Darat memiliki peran penting dalam membentuk pemikiran keislaman sekaligus nasionalisme para muridnya, yang kemudian melahirkan organisasi besar.

"Kiai Sholeh Darat itu dulu kiai yang pernah menjadi mufti di Makkah, kemudian juga ulama di Nusantara, beliau lah yang menginisiasi nasionalisme," ujarnya.

Ia menyebut, Kiai Sholeh Darat mengajarkan pentingnya lokalitas, dakwah tidak harus selalu dengan bahasa yang tinggi, tapi bagaimana bisa dipahami masyarakat. Hal itu yang disebut terus relevan sampai sekarang.

Ketua PCNU Kota Semarang, Anasom di Kantor Kelurahan Dadapsari, Kecamatan Semarang Utara, Kota Semarang, Minggu (19/4/2026).Ketua PCNU Kota Semarang, Anasom di Kantor Kelurahan Dadapsari, Kecamatan Semarang Utara, Kota Semarang, Minggu (19/4/2026). Foto: Arina Zulfa Ul Haq/detikJateng

Menurutnya, pendekatan tersebut menjadi bentuk perlawanan kultural terhadap kolonialisme. Di tengah dominasi bahasa asing pada masa itu, Kiai Sholeh Darat justru menguatkan identitas lokal sebagai sarana membangkitkan kesadaran masyarakat.

Ia mencontohkan, dalam salah satu karyanya, Kitab Majmu'ah Syari'ah al-Kafiyyah lil Awam, Kiai Sholeh Darat pernah mengingatkan masyarakat agar tidak meniru gaya hidup penjajah sebagai bagian dari upaya menanamkan sikap anti-kolonial.

"Dalam kitab itu ada masyarakat Nusantara tidak boleh meniru pakaian Belanda seperti dasi, jas, celana, tapi itu fakta kontekstual, ketika Belanda sudah pergi ya nggak masalah pakai itu. Beliau hanya ingin membangun nasionalisme, sikap anti-Belanda," ujarnya.


Anasom menjelaskan, salah satu nilai utama yang diajarkan Kiai Sholeh Darat adalah keberanian menggunakan pendekatan lokal dalam berdakwah, seperti menulis kitab menggunakan bahasa Jawa agar mudah dipahami masyarakat.

"Kitab-kitab beliau dikarang menggunakan bahasa Jawa, ini strategi luas biasa. Karena kalau bahasa Arab atau Indonesia, saat itu Belanda sudsh punya ahlinya," ucapnya.

"Tapi Kiai Sholeh Darat mencoba mencari sisi lain menggunakan bahasa Jawa, supaya Belanda ribet dan harus belajar lagi. Itu adalah salah satu strategi," lanjutnya.

Kirab budaya yang diikuti puluhan warga hari ini pun diharapkan dapat menjadi agenda rutin, sekaligus sarana edukasi publik tentang nilai-nilai perjuangan Kiai Sholeh Darat.

"Yang ingin kita ambil adalah semangat beliau dalam membangun nasionalisme, mencintai budaya sendiri, dan mendidik umat dengan cara yang bijak," tambahnya.

"Generasi Z sekarang kan bahasa Jawanya berkurang intensitas penggunaannya. Kebanyakan pakai bahasa Indonesia atau Inggris. Itu boleh saja, tapi kekayaan lokal harus kita kuatkan juga," lanjutnya.

Ia pun mendukung upaya Pemkot Semarang yang mengusulkan Kiai Sholeh Darat sebagai pahlawan nasional. Anasom berharap, akan semakin banyak kiai yang bisa belajar dari Kiai Sholeh Darat.

"Saya harap kiai juga mulai banyak membaca kitab Kiai Sholeh Darat yang berbahasa Jawa, supaya generasi muda kita juga masih tetap bisa melestarikam budaya Jawa," lanjutnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Semarang, Indriyasari, mengatakan rangkaian haul ini menjadi cara untuk mengenalkan kembali sosok Kiai Sholeh Darat sebagai ulama besar yang berpengaruh di Nusantara.

"Beliau memang tidak berjuang menggunakan senjata, tetapi melalui karya-karyanya yang luar biasa bisa membangkitkan kesadaran masyarakat," tuturnya.

Ia juga menyebut pihaknya tengah mengusulkan Kiai Sholeh Darat sebagai pahlawan nasional. Menurutnya, melalui kegiatan ini, masyarakat bisa semakin memahami peran penting Kiai Sholeh Darat, tidak hanya sebagai ulama, tetapi juga sebagai guru yang melahirkan tokoh-tokoh besar bangsa.

"Rencananya akan digelar setiap tahun. Jadi ini kali pertama kirab dilakukan. Mudah-mudahan bisa berlangsung rutin, sehingga masyarakat tahu perjuangan beliau," ungkapnya.




(afn/afn)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads